
Lorong rumah sakit terasa jauh saat di jejaki dengan rasa khawatir. Pemuda bernama Sakky tak menghiraukan penampilannya yang tampak sedikit kacau. Pikirannya tertuju pada Niar dan Yuara.
"Ara ...."
"Papa ...." Yuara menangis kencang saat Sakky menggendong tubuh gemuknya. "Papa ... hua ...." Suara tangisannya melengking memenuhi lorong rumah sakit.
"Sayang ... hey, syuuuttt ... ini di rumah sakit, Sayang. Gak boleh nangis. Di marah pak dokter." Sakky menenangkan.
"Mama, Pah ...," ucap Yuara dengan suara hampir menghilang tenggelam dalam tangisan.
"Iya. Mama pasti baik-baik saja. Diem yah, biar pak dokter gak keganggu pas ngobatin Mama Cantik."
"Mama berantem sama Om Jahat, terus Mama jatuh. Dahi Yua juga sakit dipukul sama Om Jahat itu," ceritanya sambil menunjuk dahi yang terdapat benjolan juga memar biru kehitaman. Tangisannya mulai mereda.
Sakky memperhatikan dahi Yuara dan meniup-niup pelan. "Dah, nanti sembuh ya. Ara pacar Papa Sakky yang pintar dan kuat, pasti cepet sembuh."
"Mama, Pah?"
"Mama Cantik cuma sakit sedikit, nanti juga cepet sembuh seperti Ara. Sekarang biar ditangani pak dokter dulu, kita bantu dengan doa."
Yuara menjatuhkan kepalanya di atas pundak Sakky. Bocah yang masih mengenakan seragam sekolah yang sudah kacau itu terlihat sedih.
Sakky mengelus-elus punggung Yuara. "Ara bobok, ya. Nanti kalau udah bangun kita bisa liat Mama Cantik."
Yuara mengangguk pelan di ceruk leher Sakky.
Dari lorong berlawanan tampak Mbok Jamu bersama seorang pemuda berjalan tergesa-gesa menuju Sakky berdiri.
"Ya Allah, Le, gimana keadaan Genduk?"
"Sstt ... Sakky juga belum tahu, Mbok. Sebentar biar Ara tidur dulu. Kasihan dari tadi nangis terus."
Hampir 30 menit menunggu Yuara terlelap, kini gadis kecil itu tidur dengan tenang di pangkuan Sakky. Namun selama itu belum ada dokter yang keluar dari ruang ICU. Mereka masih di selimuti khawatir.
"An, gimana kejadian sebenarnya?" tanya Sakky membuka pembicaraan.
"Aku juga gak tau kejadiannya, Mas. Cuma dapet telpon dari nomor baru yang ngabarin Mbak Niar dapet musibah dan dilarikan ke rumah sakit ini. Tapi, sekilas cerita dari orang tadi katanya ada 2 orang yang mau menculik Ara, Mbak Niar mengejar penculik itu dan terjadi perkelahian sampai beberapa orang datang menolong tapi Mbak Niar udah jatuh pingsan," jelas Ana.
__ADS_1
Mendengar itu hati Sakky berkecamuk, kesal, marah terlebih menyesal dan menyalahkan diri sendiri. 'Ini semua gara-gara aku. Harusnya sesibuk apapun bisa meluangkan waktu untuk jemput mereka. Harusnya kemarin aku tolak tugas dari si bos. Kejadian ini gak akan terjadi.'
Ruang ICU tempat Niar berada daun pintu telah dibuka. Dokter berpakaian biru muda dan mengenakan masker telah keluar. Sakky dan Mbok Jamu segera mendekat.
"Bagaimana, Dok?" tanya Sakky.
"Niar baik-baik saja kan, Dok?" tanya Mbok Jamu.
"Tenang, Pak, Buk. Saya jelaskan sebentar. Lengan kanan atas terkena sabetan pisau yang cukup dalam. Bagian atas pelipis terdapat memar mungkin akibat benturan di aspal. Untuk luka luar hanya itu saja, namun yang saya khawatirkan tentang kondisi psikisnya karena sampai saat ini pasien belum sadar. Luka luar tidak terlalu parah, harusnya pasien sudah sadar. Jadi, saya belum bisa mendeteksi bagaimana keadaanya. Setelah pasien siuman, saya akan memeriksa ulang keadaanya."
"Astagfirullah, Genduk." Mbok Jamu terisak mendengar penjelasan dokter barusan. Sedangkan Sakky mengusap wajah dengan gerakan kasar. Rasa penyesalannya makin mendalam.
"Tapi, apa keadaanya mengkhawatirkan, Dok?" tanya Mbok Jamu.
"Lumayan mengkhawatirkan, tapi Ibuk dan Mas tenang, jangan panik. Kita bantu doa supaya Mbaknya segera siuman."
"Baik, saya tinggal sebentar. Di dalam masih ada perawat jaga. Saya permisi."
Setelah kepergian dokter, tubuh Sakky dan Mbok Jamu kembali melemas. Keterangan dokter barusan tak membuat hati mereka melega, justru masih dihantui kepanikan.
•
Perempuan paruh baya yang duduk di depan Yusha memperhatikan ke arah puteranya. "Gak enak gimana?"
"Entahlah, tiba-tiba Yusha kepikiran seseorang."
Vivian membuang napas panjang. "Itu mah bukan tiba-tiba, tapi hampir tiap hari kamu kepikiran dia," cetus Vivian.
"Tapi kali ini beda, Ma."
"Yushaka, empat tahun berlalu, hanya sekali waktu itu kamu liat dia. Tapi sampai saat ini kamu masih mikirin Niar. Kalau emang gak bisa kembali, ikhlaskan dan relakan dia dengan lelaki itu. Coba kamu buka hatimu untuk perempuan lain, siapa tau kamu bisa lupa dengan Niar. Toh, kata kamu dia udah bahagia dengan suami barunya. Move on, Nak. Bangkit dengan lembaran baru. Dan untuk rasa bersalah, bukan hanya kamu yang merasa bersalah, Mama pun menyesal dengan semua yang terjadi. Tapi Tuhan mentakdirkan semuanya harus begini, kita gak bisa berbuat apa-apa. Mungkin dengan mengikhlaskan Niar, hatimu bisa lapang dada."
"Yusha juga ingin begitu, Ma. Tapi Tuhan menyiksa Yusha dengan rasa rindu bercampur rasa penyesalan. Aku gak tau kapan dan bagaimana bisa menjalani hari seperti dulu. Hati Yusha sangat menginginkan Niar, tapi dia terlihat bahagia dengan keluarga barunya. Apa ini karma setelah Yusha menyia-nyiakan keberadaan Niar? Sekarang aku harus tersiksa dengan perasaanku sampai selama ini."
"Saran Mama, coba sekali lagi kamu temui dia dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Lepaskan dia jika sudah bahagia kehidupan barunya."
Yusha bergeming dengan dahi mengerut. Memikirkan perkataan mamanya. Apakah ia harus kembali menginjakkan kaki di pantai Alun-Alun Ujung Kulon dan menemui Niar lagi?
__ADS_1
Sekitar dua tahun silam ia pernah kembali ke kota tempat tinggal Niar, tetapi pada saat itu lagi-lagi ia menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya berserak mendebu, melihat Niar bersama Sakky juga anak kecil yang berhasil membuatnya salah sangka.
Mengira Niar telah bahagia dengan keluarga barunya, hingga ia memutuskan pergi tanpa menemui perempuan yang sampai saat ini masih menjadi pemilik rindunya.
"Satu Minggu lagi Yusha coba datang lagi menemui dia. Kali ini Yusha pastiin bertemu dan berbicara langsung dengannya. Jika harus melepaskan, maka Yusha akan menggugat dia. Mudah-mudahan dengan begitu perasaan Yusha bisa tenang dan bisa ikhlas merelakan dia."
•
"Pak, perasaan Ibu kok gak enak, ya?" kata Sumiati.
"Sama, Bu. Dari pagi perasaan Bapak juga gak enak. Kepikiran sama Niar dan Ara. Kenapa ya? Apa ada yang terjadi sesuatu?" balas Pak Bejo.
Sumiati menggeleng. "Mudah-mudahan gak ada apapun yang terjadi, ya, Pak. Apa nomernya sampek sekarang belum bisa dihubungi lagi?"
"Belum, Bu. Bapak udah coba terus tapi nomernya gak aktip. Biasanya Niar gak telat buat kasih kabar kita. Ini udah hampir dua hari gak nelpon."
"Ibu tambah khawatir, Pak."
"Kita berdoa semoga Niar dan cucu kita baik-baik saja."
Dari tahun ke tahun keadaan Sumiati lekas membaik, perempuan paruh baya itu sudah berbicara dengan normal. Hanya kondisi tubuhnya yang masih belum pulih sempurna.
.
.
.
.
.
Setelah ini apa yang akan terjadi? Coba tebak sendiri ya🤭 Senang deh main tebak-tebakan dengan kalian, biar greget.
Setelah ini ada kejutan. Nantikan kejutan selanjutnya ya🤗
Kalau longgar nanti akak mei lanjut malam ini juga. Tapi kalau gak ada waktu, bisa kita lanjut besok.
__ADS_1
Terima kasih dan salam sayang dari Akak Mei🙏😘