
"Bagaimana keadaanya, Dok? Dia tidak apa, kan? Tidak ada luka dalam, kan?" cecar pemuda yang terlihat panik. Pasalnya, sampai di rumah sakit perempuan yang tadi ditabrak, eh, bukan-bukan, ralat! Maksutnya perempuan yang pingsan tadi karna suara klakson mobil masih belum siuman.
"Tidak apa, Mas. Jangan panik begitu, Mbaknya baik-baik saja, kok. Malah, Mas harusnya bersyukur." Perkataan dari Dokter Umum membuat pemuda itu mengernyit bingung. 'Bersyukur? Apa yang aku syukurin! Gara-gara perempuan itu, hampir saja masa depanku berakhir di Hotel Prodeo, gitu aku harus bersyukur.' gerutunya dalam hati.
Niar mendesis pelan saat bangun dari pingsannya. Ketika kelopak mata sudah terbuka sempurna, ia menggerakkan bola mata ke kanan dan kiri, merasa asing dengan ruangan tempatnya berbaring.
"Nah, itu Mbaknya sudah sadar," ucap Dokter Umum dengan name tag dr. Ajeng Kartika.
Pemuda itu langsung terpusat pada Niar, ditatap seperti itu membuat Niar tidak nyaman dan langsung menggerakkan tubuh untuk duduk.
"Mbak, hati-hati! Gerakan seperti tadi harus dihindari, sangat berbahaya." Dokter Ajeng memperingati, membuat Niar maupun pemuda tadi semakin bingung.
"Kenapa saya ada di sini?" bingung Niar melihat Dokter Ajeng dan beralih pada pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Kamu tadi pingsan," sahut pemuda itu.
"Pingsan?" Niar masih kebingungan dan mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Ah iya, ia sedang berjalan dan terkejut dengan suara klakson yang berbunyi nyaring hingga jantungnya melemah dan membuatnya pingsan.
Melihat perempuan di atas brankar hanya terdiam dengan raut wajah aneh, seolah sedang mengingat sesuatu membuat pemuda itu merasa khawatir. "Dia tidak apa, kan, Dok? Tidak seperti adegan di TV, bangun dari pingsan karna kepalanya kejedot aspal terus amnesia?" tanyanya.
"Tidak Mas, saya tidak menemukan cedera serius. Saya mau mengucap selamat untuk ...." Perkataan Dokter diserobot cepat.
"Dokter dari tadi bercanda. Situasi genting begini malah ngomong yang aneh, tadi disuruh bersyukur, sekarang ngucapin selamat." Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya.
"Dengarkan dulu, Mas," sentak Dokter Ajeng sedikit kesal karna perkataannya dipotong.
"Selamat, karna istri Anda sedang hamil muda."
"Apa???" Pemuda itu dan Niar berteriak bersamaan.
__ADS_1
Satu detik kemudian bola mata Niar memanas, bulir-bulir cairan bening mulai menetes dari sela pipi. Jantung yang tadi lemah kini berpacu semakin kencang dan menyakiti rongga dada.
'Ya Allah, fakta apa ini? Kenapa? Kenapa baru sekarang Kau kabulkan do'a hamba? Setelah semua berlalu, setelah semua berakhir.'
Berpikir, semua masalah telah usai ketika menjauh dari orang-orang dari masa lalu. Namun, anggapan itu salah. Anggapan itu terpatahkan dengan sebuah fakta. Fakta baru yang sangat mengejutkan.
Keterlambatan. Ia harus menyalahkan siapa atas keterlambatan fakta ini? Tuhan ... apa untaian do'aku baru Kaudengar? Kenapa baru sekarang Kau memberi anugerah indah, setelah semuanya terlambat. Apa yang harus kulakukan? Sanggupkah untuk mengurus semuanya?
Sekarang bukan tentang dirinya, tapi ada makhluk asing yang bersemayam di dalam raga rapuhnya. Mampukah ia menguat? Derita dan kepiluan telah menjadi temannya sejak kecil. Tapi, bisakah makhluk asing yang bersemayam menerima takdir serupa?
Harus bahagia atau menyesal mendengar keterangan dokter bahwa ia sedang hamil muda? Inilah do'a dan keinginan yang selalu diimpikan, tapi dulu, bukan sekarang. Andai saja anugerah indah ini terkuak kemarin, semua jelaslah berbeda cerita akhirnya. Namun, lagi-lagi takdir Tuhan tidak ada yang tahu. Entah rencana apa yang sudah digariskan.
Isak pilu tertahan, mencekik napas kian menyesakan. Ingin berteriak pada alam, mempertanyakan takdir yang tak kunjung usai membalutkan kesedihan.
Ia pergi--menjauh karna ingin menepikan lara, menghindari kesakitan, tapi, seolah takdir tak mau berpihak. Hingga keluar dari satu beban tapi muncul beban lain.
Beban? Ya, ini bagai beban berat yang harus ditanggung seorang diri. Bagaimana tidak, kehadiran dia 'makhkuk kecil' itu diketahui setelah semua hak tercabut. Kata laknat yang diucapkan oleh ayah si jabang bayi memutus semua hubungan. Apakah ia harus menenggelamkan wajah demi kembali pada Yusha?
Dilema, tentu saja saat ini rasa dilema senang hati menghantui pikirannya. Tak tau harus mengambil keputusan seperti apa. Yang jelas, airmata tak henti berderai sebelum mengering sempurna.
"Harusnya kalian senang, banyak loh, pasangan yang belum diberi anugerah untuk dititipkan amanah. Walau sekuat dan segencar apapun mereka berusaha." Ucapan Dokter Ajeng membuyarkan lamunan Niar.
Pemuda yang terpusat pada Niar menoleh pada dokter perempuan yang ada dihadapannya. Ia mendekus 'Setelah menyuruh bersyukur dan ngucapin selamat, sekarang bilang aku harus senang. Dokter aneh, kamu gak tau, ini bagai hari pengapesanku. Nabrak aja enggak, tau-tau suruh tanggung jawab bawa ke rumah sakit. Dan sekarang apa aku juga punya kasus untuk tanggung jawab dari si jabang bayi? Duh, Gusti nyuwun tulung (Duh, Tuhan, minta tolong)'
"Istrinya dijaga ya, Mas. Kandungannya baru berusia 4 Minggu, masih rentan mengalami keguguran. Usahakan sang istri gak boleh capek atau stres, sangat mempengaruhi si janin. Dan, ini pesan penting, tolong dengarkan! Usahakan melakukan hubungan suami istri dengan gerakan pelan dan jangan terlalu sering, ya. Setelah kandungan berusia 4 Bulan lebih, si ayah baru boleh gencar lagi."
Uhuk ... uhuk ...
Pemuda itu tersedak air liurnya sendiri. Bergidik ngeri mendengar penuturan dokter yang sangat asing didengarnya.
__ADS_1
'Macam apa ini? Aku dikira ayah si utun?'
•
Lorong demi lorong dilewati, pemuda berjalan di depannya terus saja mengomel sepanjang kakinya melangkah. Tapi pendengaran Niar telah menuli, lebih penting memikirkan nasib anak yang dikandung.
"Eh, kamu budek? Dari tadi aku ngomong panjang lebar gak kamu dengerin?" kesal pemuda itu merasa dicueki.
"Aku denger Mas ngomong apa, tapi bingung mau jawab apa."
"Kok bingung, aku cuma tanya, siapa ayah si utun itu?"
"Atau ... jangan-jangan kamu gadis korban ***** lelaki bej—" ucapan pemuda itu menguap diudara.
"Jaga omongan, Mas!!!" sentak Niar tidak suka.
Pemuda itu diam dengan mulut menganga. Setelah dari tadi hanya diam, sekalinya bersuara perempuan itu langsung menyentak.
Mereka berdua kembali melanjutkan langkah menuju bagian Farmasi, menebus obat penguat kandungan dan juga vitamin untuk ibu hamil.
'Apes, bener-bener apes nasibmu hari ini, Sakky. Bakal aku ingat, hari Senin, tanggal 13 September 2021 sebagai hari pengapesan.'
.
.
.
.
__ADS_1
Cie, udah gak penasaran, kan?