
*Kehadiranku tak bisa membawa bahagia, walau aku telah berjuang segenapku. Sudah kurelakan hati tertusuk tanpa ampun, hingga membekas perih yang tak kunjung mereda.
Airmata merembah memerah mengalun, tetap jua sia-sia.
Aku lemah. Aku tak bisa berteriak memarahi mereka yang dengan keji menyakiti. Bibir ini memilih mengatup rapat, sedangkan dalam hati memarahi diri sendiri, mengutuk ketidak berdayaan ini yang tak bisa manusiawi.
Apa aku tidak boleh bermimpi, tidak boleh merasa bahagia walau sekadar mencicipinya? Yang kurasa derita semakin mendera, hingga sendiri menelan luka. Perih tiada tara, semakin meluruh hati kian tak berbentuk. Semoga diujung sana bisa kutemukan bahagia agar damai bisa kurasa*.
•
Niar termenung di dalam mobil, pandangan selalu kabur dipenuhi genangan airmata. Berkali-kali membasahi pipi meski telah diseka.
Dari kursi belakang kemudi ujung mata Kelvin, beberapa kali melirik ke bagian kursi penumpang. Merasa iba melihat Niar terdiam dengan pandangan kosong.
"Nona, hari hampir gelap, apa Anda akan langsung pulang ke kampung?" tanya Kelvin.
Niar meninggalkan pandangan indah tentang lampu kota yang berpendar menyerupai langit jingga. Perempuan itu menoleh. "Iya, Sekretaris Kelvin. Saya akan langsung pergi dari rumah Tuan Yusha."
"Kasihan Pak Dedi baru pulang harus balik lagi ke kampung," gumam Kelvin yang masih bisa didengar Niar.
"Saya bisa pulang naik kereta api. Sebelum itu, bolehkah saya merepotkan Anda? Tolong antar saya ke Stasiun Jaya Abadi."
Dahi Kelvin mengerut. Bukannya lebih mudah jika naik bis? Lalu kenapa perempuan itu memilih naik kereta api?
"Kenapa tidak naik bis saja?"
"Tidak, saya ingin menikmati perjalanan naik kereta api."
__ADS_1
"Eum, baiklah."
Mobil metalik silver telah sampai di depan rumah Yusha.
Niar merasa sedikit berbeda saat memasuki rumah megah yang telah ditempati beberapa bulan ini. Ia mengabsen setiap sudut ruangan yang dilewati, menyimpan ke dalam memori agar ketika ia merindu masih ada gambaran tentang suasana di sini.
Kaki itu melangkah masuk ke dalam kamar. Saat menuju ke ranjang, detak jantungnya kembali berdesir nyaring. Ia ingin menahan isak tangis yang hampir pecah. Namun, semakin ditahan seperti menyimpan bom waktu yang tetap jua meledak dengan dahsyatnya.
Nanar memandang sisi ranjang, di sana ... tempat lelaki itu sering berbaring dan memberikan pelukan hangat. Semua akan melenyap hari ini. Takkan ada lagi kebersamaan saling menjahili, takkan ada lagi tawa lebar saling melempar candaan. Semua akan berakhir bersama perginya senja, tinggal kehampaan yang melanda.
Ia memejamkan mata sejenak. Ketika itu kalut semakin melingkupi, mengucap istigfar pelan, lalu mengingat untuk mengerjakan sholat tiga rakaat agar hati lekas mendamai.
•
Niar telah selesai mengepaki barang miliknya ke dalam tas kecil. Barang pemberian Yusha ia tinggalkan di dalam lemari tanpa satu pun yang dibawa.
Tangan mengetuk daun pintu, namun tak kunjung dibuka.
"Nona ...," panggilnya.
"Apa sih, ganggu aja!" Sentakan itu bersamaan dengan terbukanya daun pintu. Mata Sheli melihat tas yang digenggam Niar. "Kamu mau pergi?"
Niar mengangguk. "Tadi ... Tuan Yusha sudah menjatuhkan talak. Jadi, saya sudah siap pergi dari rumah ini."
"Bagus deh, gak kira kamu ditalak secepat ini. Gue gak usah capek-capek ngerengek sama Yusha."
Begitulah Sheli, di depan Niar ia tidak menutupi belangnya.
__ADS_1
"Saya mau pamit, Nona."
"Alah ... pamit-pamit segala, gak ngaruh mau pamit apa enggak. Aku seneng kalau kamu cepetan minggat dari sini."
Niar menghembuskan napas. Memilih meredam kekesalan. "Saya menghormati Anda sebagai pemilik rumah ini. Rasanya tidak sopan jika pergi begitu saja. Dan saya masih ingat, ketika pergi dari rumah ini tidak ada barang-barang pemberian Tuan Yusha yang boleh saya bawa. Sekarang silahkan Anda geledah tas ini supaya Nona percaya." Niar mengusungkan tas jinjing di depan Sheli. Perempuan itu terlihat berpikir akan mengambil atau membiarkan Niar pergi begitu saja.
Baju yang sudah tersusun rapi harus berantakan lagi ulah tangan Sheli yang brutal mengobrak-abrik tas itu. "Nih ... Dah sono pergi!" usirnya.
"Terima kasih untuk kebaikan Anda dan Tuan Yusha. Maaf kalau saya ada salah. Semoga pernikahan Anda langgeng dan bahagia ...," ucapan Niar yang belum usai sudah diserobot oleh Sheli.
"Aduh ... udah deh gak usah sok baik gitu. Denger ya ... pernikahanku dengan Yusha bakal langgeng sampai kapanpun. Tanpa do'amu pernikahan kami selalu bahagia. Jadi, gak usah sok pura-pura baik! Huh ... muak banget liatnya. Yang ada aku kasihan sama kamu, entah masih ada yang mau gak sama perempuan macam kamu gitu."
"Assalamu'alaikum." Setelah salam terucap, Niar berbalik lalu menuruni anak tangga.
Ketika kaki itu melangkah keluar, ia disambut bias cahaya jingga yang mulai memudar. Sebagian langit hampir menggelap. Seperti gambaran hatinya yang akan gelap gulita untuk kedepannya.
"Anda sudah selesai, Nona?" Kelvin menyambut Niar. Meminta tas yang dibawa perempuan itu untuk dibawakan. Tapi Niar menolak, ia ingin membawanya sendiri.
Kembali mobil itu melenggang di jalan tol menuju Stasiun Jaya Abadi.
"Sampai di sini saja Sekretaris Kelvin, saya bisa pesen tiket sendiri," cegah Niar saat Kelvin ingin menemaninya membeli tiket.
"Tuan Yusha meminta saya menunggu Anda sampai masuk ke dalam kereta."
"Saya tidak akan kenapa-napa, Anda pulang saja. Nanti kelelahan kalau nungguin saya."
Kelvin tak bergeming, lelaki itu tetap menemani Niar.
__ADS_1
'Dia perempuan baik, tapi sayang nasibnya kurang baik. Sebenarnya Tuan Yusha beruntung jika mempertahankan pernikahannya bersama Niar daripada dengan Sheli, si Perempuan Siluman itu. Akhir-akhir ini sikap Tuan Yusha berubah lebih ceria dan bahagia. Tidak lurus seperti bersama Sheli, si Wanita Karier yang egois. Sayangnya mereka harus berpisah secepat ini. Mudah-mudahan Tuan Yusha tidak menyesal membuang perempuan sholehah demi mempertahankan perempuan setan.' batin Kelvin berkecamuk menatapi Niar yang sibuk memesan tiket. Bukan ia tak mau membantu, tapi Niar gigih menolak dan terus menyuruhnya pulang. Maka dari itu ia memilih duduk dan mengamati saja.