Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 62 Siap gak siap


__ADS_3

Pertemuan dan perpisahan ini atas kehendak-Mu, ya, Rabb. Aku tak tahu, hikmah apa yang terkandung dibalik suratan takdir ini. Aku lelah menangis pilu karena sebuah rindu, biarkan hati ini hilang ingatan agar sosok pemiliknya tak lagi datang.


Kisahku hanya tinggal sepenggal rasa. Aku akan kembali menapak dengan segenap sisa kekuatan. Ku kan kembali berpijak dengan sebuah perjuangan--membesarkannya seorang diri. Semoga tak ada lagi hampa dan gundah gulana. Biarkan jiwa ini merasai bahagia meski tak bersamanya.


Buih-buih gelembung air menggelitik permukaan kulit, segar menerpa seluruh tubuh. Desiran angin menambah kesejukan hingga menelusup ke jiwa.


Lengkungan bulan sabit memang terbentung dari bibirnya, namun tak ayal dua mata indahnya menggantung cairan bening. Raganya terbebas dari sebuah beban, akan tetapi jiwanya masih erat terpasung rindu.


"Bapak, Ibu ... Niar rindu."


Cairan yang telah menumpuk akhirnya terjatuh. Setiap kali mengingat mereka, ada ribuan jarum yang menusuk kulit hingga menimbulkan pedih. Sayang, sampai saat ini perempuan itu memilih diam, memilih bersembunyi dibalik sepi. Masih tetap mematikan daya ponsel, tanpa sekalipun menghidupkannya kembali. Ia tahu jika kepergiannya membuat keluarga bingung akan keadaanya. Tetapi ia tak mau jika orang lain juga menghubunginya. Orang lain yang dimaksud adalah Yusha.


Niar masih berpijak di tempat yang sama, menikmati lintasan angin yang menimbulkan ritme sama. Mengibarkan pakaian yang ia kenakan, namun kenapa tidak mau mengibarkan rasa perihnya?


Memisahkan diri. Dari tempatnya berteduh, pria bermulut bawel itu tengah memandangi seorang wanita yang tadi datang bersamanya. Pandangannya melekat dengan pikiran yang menerka-nerka. Pasalnya sampai detik ini ia tak tahu sebab perempuan itu terdampar di kota asalnya. Ia juga tak tahu, apa yang dilalui perempuan itu hingga hamil tanpa dampingan sang suami. Ia yakin, ibunya pasti tahu sebab semua alasannya, tetapi ia belum sempat untuk menguliknya.


Lekatan Sakky terhenti pada wajah Niar yang sedang memejamkan mata, seolah perpuan itu sedang merasai kepedihan.


Baru ini ia menilai seorang perempuan memiliki wajah cantik alami. Tidak seperti perempuan yang sering ditemui, kebanyakan bersembunyi di balik topeng make up. Niar berbeda, perempuan itu berseri alami. Kecantikannya tak bosan untuk di pandang, gambaran setiap garis wajahnya sangat pas. Tanpa balutan make up berlebih, bahkan tanpa riasan pun wajahnya tetap memantulkan cahaya teduh. Dalam hati Sakky, ia menyayangkan nasib yang menimpa perempuan itu. Entah apa yang dialami hingga setiap jamnya berubah sendu.


"Arrgg ...!" Sadar telah melakukan kehilafan, Sakky buru-buru membuang pandangannya ke arah lain. Pengunjung pantai yang belum resmi dibuka tak seramai pantai-pantai pada umumnya. Hanya ada segelintir yang melintasi di sana.


Lelah berdiri lama, Niar membalikkan badan dan berjalan ke arah pohon kelapa. Di sana ada Sakky yang tengah menikmati segarnya kelapa muda.


"Udah lari-lariannya? Kayak anak kecil aja," cibir Sakky menyambut kedatangan Niar. Perempuan itu kini mengambil duduk di sampingnya. Namun, ada jarak di antara mereka.


"Apa tingkah saya tadi seperti anak kecil?" Niar bertanya dengan mengembangkan senyum malu. Pada saat itu Sakky mengalihkan pandangan ke arah laut. Sungguh, sikap Niar makin menimbulkan gelenyar aneh pada dirinya.


"Liat, tuh, di sana ada anak kecil yang lari-larian seperti Mbak tadi." Sakky menunjuk anak kecil yang berlarian di bibir pantai.


"Tapi saya cuma jalan di pinggiran pantai, bukan lari-larian seperti itu, Mas," protes Niar.


Sakky tak lagi mendebat, pria itu mengambil kelapa muda dan meminum airnya. Mengalihkan rasa canggung. Ternyata pergi berdua dengan lawan jenis membuatnya tak nyaman, terlebih setiap orang yang dijumpai seolah menerka dengan pandangan mereka. Dan mungkin, mengira mereka berdua adalah sepasang kekasih. Membayangkan itu Sakky bergeleng kepala.

__ADS_1


"Mas kenapa?" tanya Niar yang aneh dengan tingkah Sakky, melamun lalu tiba-tiba menggeleng.


"Kenapa? Aku gak kenapa-kenapa," kilah Sakky.


"Mas, pantai di sini indah sekali, ya. Dekat dari rumah. Setiap hari saya bisa datang ke sini," cerita Niar.


"Terserah, Mbak."


"Jangan panggil saya, Mbak. Sepertinya Mas lebih pantas menjadi kakak saya,"


"Idih ... pede, siapa yang mau anggep kamu adek?" seloroh Sakky.


"Ah,iya ... maaf. Saya terlalu percaya diri."


"Canda kaleee ... serius banget. Emang umur kamu berapa?"


"Dua bulan lagi genap 19 tahun."


"Jauh banget sama aku. Yah, bener sih kalau aku seperti kakak kamu. Kalau memang seperti itu, kenapa kamu gak cerita sama aku. Aku sangat penasaran dengan statusmu."


"Saya ... sudah menikah," ucapan Niar terhenti, perempuan itu menunduk.


Sakky menelan ludah, sebelumnya memang menduga perempuan dihadapannya itu memang sudah menikah. Tetapi mendengar langsung tetap membuatnya terhenyak.


"Lalu, di mana suamimu?"


"Saya memang sudah menikah, tapi saya telah berpisah."


"Heh?"


"Ceritanya panjang, Mas. Setiap menceritakan kisah saya, rasanya tak siap."


Sakky mengangguk, tidak memaksa perempuan itu untuk menceritakan secara detail. Yang terpenting sekarang sudah tahu tentang status perempuan itu.

__ADS_1


"Tapi bagaimana bisa perempuan hamil diceraikan. Bukankah tidak boleh?"


"Mas lupa, kalau saya juga baru tau kalau saya hamil waktu kita di rumah sakit?"


"Hah? Jadi waktu itu kamu juga baru tau?" Lagi-lagi membuat Sakky terkejut dan melebarkan bola mata.


Niar mengangguk.


"Terus kenapa kamu gak kembali sama suamimu? Dia wajib tahu kalau kamu lagi hamil."


Kali ini Niar menggeleng. "Keadaanya rumit, Mas. Saya sudah memutuskan untuk membesarkan anak ini seorang diri. Biar dia bahagia dengan pernikahan pertamanya."


"Pernikahan pertama?"


Ah ... Sakky benar-benar bingung dengan keadaan Niar.


Niar memperhatikan wajah Sakky yang kentara masang kebingungan. Niar tersenyum tipis. "Saya menikah dengan suami saya dan dijadikan istri kedua."


Sakky menggeleng tidak percaya, lalu menghembuskan napas panjang. Sekarang ia tahu penyebab perempuan yang ditolongnya waktu itu sering menangis bersedih. Ternyata cerita hidup perempuan itu se-tragis ini.


"Jadi ibu tunggal itu gak mudah, apa kamu siap mengasuh anak itu sendirian?"


"Siap gak siap. Saya yakin, Allah selalu ada dan memberi pertolongan untuk hambanya. Terbukti, di waktu saya kebingungan datang ke kota asing ini, Allah mengirim orang sebaik Mas untuk menolong saya. Bukankah ini takdir Allah juga."


'Hiya ... takdir Allah?! Padahal waktu itu aku terpaksa nolongin kamu, Niar! Kalau bukan karna ancaman warga, mana mau saya nganterin kamu ke rumah sakit. Dan sekarang kamu ngerepotin setiap langkahku. Tapi, denger ceritamu nyesek juga, sih,' batin Sakky.


"Oh ya, Mas, saya ingin meminta pendapatmu," kata Niar.


"Pendapat apa?"


"Menurut Mas, kira-kira usaha apa ya, yang cocok buat saya bertahan hidup?"


Dahi Sakky mengernyit, pria itu sedang berpikir. "Em ... kalau buka toko gimana? Atau sewa tempat sekitar sini buat jualan aksesoris oleh-oleh. Sebentar lagi pantai ini akan dikelola dan resmi dibuka untuk tempat pariwisata. Pasti banyak orang yang datang," usul Sakky.

__ADS_1


__ADS_2