Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 57


__ADS_3

Semesta tidak akan berdusta akan riuhnya pertanda garis cerita seseorang. Ia tak pernah absen menitipkan pada angin malam dengan suaranya yang gemersik.


Begitu pun, pekatnya malam tak pernah lelah menawarkan celah untuk berkeluh kesah. Pendar cahaya rembulan selalu berhasil merayu pilu merubah menjadi sembilu.


Luka batin yang belum sempat diobati sudah tertumpuk dengan luka baru. Bahkan bertambah perih ketika goresan takdir rapuh kembali senang menghampiri.


Di bawah pendar rembulan, airmata setia menemani perjalannya. Dua malam tanpa, dia. Sungguh sulit.


Niar tak berpaling pada sinar rembulan yang malu-malu menampakan keseluruhannya. Halusinasi membimbing bayangannya menepi di langit malam. Sesakit inilah, mengingatmu. Merindu tanpa bisa menemu.


"Le, kamu ketemu cah ayu tapi menyedihkan itu di mana, sih? Kok, kayaknya sedang mengalami masalah berat?" tanya Mbok Jamu pada Sakky. Mereka mengamati Niar dari dalam rumah. Sedangkan Niar duduk di lincak 'bangku panjang terbuat dari bambu'.


"Di jalan deket pasar gede, Mbok. Gak taulah, Sakky gak ngerasa nabrak dia, tapi tiba-tiba aja dia pingsan. Banyak warga yang melihat, mereka menyuruh Sakky tanggung jawab, ya, udah aku bawa ke rumah sakit. Daripada Sakky masuk Hotel Prodeo, bisa hancur masa depanku."


"Owalah, kasihan yo, Le. Dia itu kayak tertekan gitu. Eh, tunggu! Lah, kamu mau di bawa ke Hotel Prodeo bukannya seneng kok malah gak mau?"


"Ya kale Mbok, mana ada anakmu ini seneng di penjara. Si Mbok, aneh-aneh aja."


"Loh, penjara to? Si Mbok kira ke hotel beneran." kaget Mbok Jamu.


"Mbok, kapan rumah kontrakan Pakde Bakri kosong? Biar Mbak itu segera pindah?"


"Katanya dua hari lagi. Kenapa, to? Biarin dulu cah ayu tinggal sama kita, kasihan."


"Gak enak aja sama tetangga nyinyir, Mbok. Takut pada ngegibahin. Tau ndiri kalau mereka udah kumpul semut, eh ... kumpul ngerubungin tukang sayur, maksutnya. Mereka suka hilap, semua rakyat Alon-Alon Kulon bakal gak ketinggalan absen buat bahan ghibahan mereka. Dari yang udah disunat sampai bapaknya yang sunat juga bakal di rumpiin. Yah ... meskipun mereka kumpulnya seminggu sekali,sih."


"Hust ... ngomong opo to? Kamu lupa, siapa si Mbokmu ini? Pemimpin ghibah! Suka manggilin ibu-ibu nyinyir buat berkerumun? Tenang aja, kamu anaknya si Mbok, mereka gak bakal berani gibahin kamu."

__ADS_1


Sakky menepuk dahi. "Astagfirullah, Sakky lupa si Mbok mah pemimpin mereka," ucapnya dengan nada bercanda.


"Oh ... ndue Thole kok ngono men 'punya anak laki-laki kok begitu banget'."



Waktu mundur 2 hari ke belakang.


Brak ...


Daun pintu didobrak paksa hingga menggetarkan sisi-sisinya.


"Astaga ... Yusha! Kamu ngagetin aja sih?" pekik Sheli. Perempuan yang sedang asik berbaring di atas bed empuk harus bangun secara tiba-tiba.


Yusha berdiri di depan pintu dengan tatapan tajam dan mengerikan. Bahkan Sheli sedikit horor melihatnya.


"A-aku gak taulah," kilah Sheli mengalihkan pandangan karena takut dengan sorot mata Yusha yang semakin mengerikan.


Yusha mendekus marah. Ia tahu ada sesuatu yang ditutupi Sheli. "Apa yang kamu katakan pada Mama?"


"Aku gak ngomong apa-apa. Come on, kamu jangan menghakimi aku aja. Kamu kira Niar gak bisa lakuin kesalahan!"


"Jelaskan kejadian tadi. Bagaimana, Mama bisa tau kalau aku menjadikan Niar istri kedua?"


"Itu semua kesalahan Niar! Baru datang dia membahas pernikahan kalian. Katanya mau cerai, dan mungkin saja pas itu Mama nguping di depan pintu, jadi tau semua, deh."


"Begitu?" Yusha menilisik wajah Sheli yang berubah gugup.

__ADS_1


"I-iya, be-begitu,"


"Aku tidak bisa percaya ucapan dari satu sisi. Harusnya aku juga bertanya pada Niar, tapi ...." Yusha terdiam, perkataanya dibiarkan begitu saja. Kenyataan Niar sudah pergi. Meninggalkan jejak tak kasat mata namun masih dapat dirasa.


"Tapi apa? Tapi dia sudah pergi?" sahut Sheli merubah kesal, "bagus,kan, kalau dia udah gak ada di rumah ini. Ada dia atau enggak, keberadaanya juga gak ada guna."


Yusha menggeleng tidak percaya. "Apa ini sisi lain darimu, Sheli? Kamu gak punya hati sedikitpun!" Emosi Yusha mulai meninggi lagi. Semakin hari, menyadari tingkah laku istri pertamanya yang semakin menunjukan sisi egois dan tidak mau memahami orang lain.


"Cukup Yusha! Semakin hari sikap kamu makin berubah. Atau, kamu terkena hasutan Niar agar berubah dan terus-terusan memojokanku? Apa kamu gak percaya lagi denganku, dengan Sheliana Rebbeca istri yang paling kamu cintai. Kenapa hanya gara-gara perempuan gak penting itu kamu marah-marah gak jelas? Sebelumnya kamu gak pernah begini, Yusha. Baru ini kita berdebat hal gak penting!"


"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu seperti ini, Sheli? Terus-menerus egois. Membenarkan cara berpikirmu sendiri. Sekarang ada orang lain yang menanggung imbas keegoisanmu. Apa kesalahan Niar? Gak pantes kamu perlakuan dia seperti itu. Aku udah pernah bilang, hargai dia. Perempuan mana yang mau di jadikan seperti dia. Kamu tidak tau kehidupan macam apa yang dilalui Niar. Bahkan lebih menyedihkan dari tuna wisma."


"Oke. Kita hentikan pembahasan tentang Niar. Dengarin aku, Niar udah gak ada. Kita udah gak ada hubungan apapun dengan perempuan itu. Jadi, stop bahas dia. Yang ada hubungan kita yang bakal debat terus. Anggap aja perempuan itu tidak pernah hadir di sini. Kita kembali ke pernikahan awal kita. Oke, sayang?"


Yusha semakin tidak mengerti dengan Sheli. Serasa satu persatu kekurangan Sheli mulai muncul. Bahkan semakin jelas jika perempuan itu tidak memiliki perasaan belas kasih meski dengan sesama perempuan.


Sikap yang ditunjukan semakin memperbesar kecurigaan Yusha. Pria itu yakin, ada yang sudah dilakukan Sheli.


Malas melanjutkan debat. Yusha memilih berbalik dan hampir melangkah keluar. Tapi Sheli bertanya. "Kamu mau kemana?"


"Kemanapun asal pusingku sedikit hilang," balas Yusha sedikit ketus.


"Yusha, malam ini tidak kah kaumerindukanku?"


"Tidak." Setelah menolak tegas. Pria itu mulai meninggalkan kamarnya bersama Sheli.


"Sialan kamu, Yusha. Bikin mood ku buruk aja!"

__ADS_1


Perempuan mengenakan baju tidur tipis dan **** itu meraih ponsel dan mendial angka yang sangat dihapal hingga di luar kepala. Menelpon seseorang untuk menghilangkan kekesalannya.


__ADS_2