
Entah kapan jantung akan berhenti menabuh rindu. Lipatan masa masih menghadang rasa.
Entah kapan jurang waktu kan membeku, sepi-sepi bernyanyi mendendangkan kisah. Kesah dan resah menjalari menjaring rasa. Ribuan rindu hinggapi kalbu. Cucuran air mata tak surut kian tercurah melimpah.
•
Hari memang berlalu lebih cepat dari yang kita bayangkan. Mentari berubah terik, lalu menjadi senja dan bergulir malam gempita. Seperti itu setiap harinya.
Dalam tidurnya ia menanggung resah, rasa yang tak tahu dari mana asalnya. Seperti sebuah firasat. Sejak membuka mata yang berhias bulu lentik, perempuan yang tinggal sendirian itu merasakan degup jantung berdebar-debar. Entah gerangan apa yang akan terjadi, ia pun tak bisa menebak.
Ia tak ingin fokus pada firasat yang belum jelas, memutuskan untuk mengabaikannya dan memilih menjalani aktifitas seperti biasanya.
Seusai melaksanakan kewajiban, perempuan yang sengaja menggerai rambut hitam legamnya itu berkutat di dapur untuk menyiapkan makanan. Mengupas dan memotong bawang merah, lalu menyiapkan bumbu lainnya.
Belum usai dengan itu, ia kembali teringat dengan Yusha. Biasanya setiap kali menghidangkan makanan untuk mantan suaminya, ia akan menerima pujian, juga senyum manis dari pria yang menumbuhkan benih cinta. Namun, ingatan itu buyar ketika mengingat benih cinta itu harus gugur sebelum menuai musim panjang. Malang sekali.
Jam 7 pagi, sebelum pergi ke toko, ia lebih dulu mampir ke rumah Mbok Jamu. "Assalamualaikum," ucapnya di depan pintu.
"Walaikum salam," jawab Sakky yang muncul dari pintu samping dengan mendorong motor maticnya.
"Mas Sakky, kebetulan Mas belum berangkat," ucap Niar melangkah mendekati Sakky.
"Memang kenapa?" tanya Sakky seraya menghidupkan stater motor.
"Niar tadi masak banyak. Mas Sakky mau bawa bekal ini?" Niar mengusung tempat bekal makanan di depan Sakky.
Tak ada maksud apapun, Niar hanya ingin membalas kebaikan Sakky yang sudah banyak membantunya.
"Wuidih ... tumben nih?" kata Sakky.
"Ya gak apa. Mas udah sering bantu Niar, anggap ini sebagai ucapan terima kasih, gitu," ucap Niar.
"Apa ceritanya sedang menyogok? Agar aku mau bantuin kamu terus?" seloroh Sakky seraya melebarkan senyum.
"Enggaklah. Aku gak ada maksud buat nyogok," sanggah Niar dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Hem ... oke-oke. Kamu baru mau berangkat? Mau nebeng, gak?" tawar Sakky.
"Deket ini, Mas. Nebeng segala ... Niar jalan kaki aja, sekalian olah raga biar sehat."
"Loh, ada Genduk? Mau ke toko, ya?" Mbok Jamu tiba-tiba muncul.
"Iya, Mbok," jawab Niar tersenyum.
Pandangan Mbok Jamu fokus pada wadah makan yang dipegang Sakky. "Itu apa, Le?" Perempuan paruh baya itu menunjuk lewat sorot matanya.
"Ini bekal yang dibawa Niar," jawab Sakky.
"Walah, kok repot-repot to, Nduk? Emang kamu gak capek masaknya?"
"Enggak, Mbok. Ini tadi Niar masak banyak, sekalian aja aku siapin bekal buat Mas Sakky. Dia sering bantu Niar, sebagai ucapan terima kasih."
"Mbok, nanti kalau udah selesai midar jamu, Mbok bantu Niar jualan, deh."
"Memang kenapa?" tanya Mbok Jamu bingung, tetapi bukan perempuan paruh baya itu saja yang bingung, karena Niar pun turut kebingungan dengan ucapan Sakky.
"Weh ... yang bener, Le? Tau gitu si Mbok libur dulu jualannya biar bantu Genduk jaga toko."
"Ye ... orang Anjas juga ngabarinnya baru subuh tadi, Mbok."
•
Benar yang dikatakan Sakky, pengunjung pantai meningkat pesat dari hari sebelumnya. Bahkan perangkat desa sudah ada yang menunggu kedatangan tamu agung dari kota.
Beberapa pembeli yang singgah di toko Niar tak henti membicarakan desas-desus tentang orang penting yang menjadi topik hari ini.
"Kira-kira seperti apa ya, orang kota yang akan membuka lokasi pariwisata?" ucap seseorang ibu paruh baya.
"Kata Buluk 'Bu Lurah' sih, orangnya masih muda, cakep banget," sahut rekan yang lainnya.
"Kalau pemimpin perusahaan, pasti kaya raya, ya?" timpal yang lainnya.
__ADS_1
"Ibu-ibu, ini pesanannya." Niar datang membawa nampan berisi minuman dan jus pesanan mereka.
"Makasih calon istrinya Sakky," seloroh salah satu ibu tadi.
Niar terperanjat dan menatap ibu itu dengan pandangan aneh. "Maaf, saya bukan calon istrinya Mas Sakky," sanggah Niar. Karena memang itu kebenarannya. Ia dan Sakky hanya sebatas persaudaraan yang dipertemukan oleh takdir tak sengaja. Sebagian warga belum tahu kondisinya yang sedang hamil muda. Sakky dan Mbok Jamu tak pernah mengklarifikasi, takut berkepanjangan dan menimbulkan masalah. Meski lambatnya waktu mereka akan tahu karena perut Niar segera membuncit, tetapi biarlah mereka tahu dengan sendirinya.
"Kamu perempuan yang dibawa Sakky itu, kan? Kami kira kamu calon istrinya Sakky,"
"Bukan, Bu. Saya saudara jauhnya."
"Apa suadara yang tinggal di Lampung? Mbok Jamu pernah cerita masih punya saudara yang transmigrasi ke Lampung."
"Iya ... Dia sodaraku yang ada di Lampung. Kenapa to, kok, kepo?" sahut Mbok Jamu yang baru saja datang.
"Oalah, kami baru tau kalau itu sodara jauhmu, Mbok. Kami kira calon istrinya Sakky."
Mbok Jamu duduk diantara ibu-ibu tadi, mengarang cerita agar mereka tak lagi penasaran akan sosok Niar.
Tak tahu apa yang dibahas, Niar memilih masuk ke dalam toko untuk membenahi dapur mini tempatnya membuat minuman juga menyediakan mie instan.
Terik semakin dirasa, sama halnya dengan degup jantungnya yang kian mendebar. Firasatnya seolah memberi petunjuk, namun ia benar-benar tak bisa menebak hal apa yang akan terjadi.
Niar duduk dan melamun. Tiap kali mengingat tentang pria itu, ia mengelus perutnya yang masih datar. Sejak semalam ingatannya tak henti membayangkan sosok pria yang amat dirindukan. Namun, apa yang bisa ia lakukan selain menghalau dan mencoba melupakan. Meski sampai saat ini belum berhasil.
•
Jadwal jam yang dijadwalkan sedikit melambat, terkendala saat tiba-tiba badan Yusha terasa lemas dan tak henti memuntahkan cairan bening. Bahkan perjalanan bisnis itu hampir di tunda, tetapi Yusha memaksa Kelvin untuk melanjutkan kunjungannya.
Pukul 1 siang Yusha, Kelvin dan beberapa anak buah telah sampai di kota Yogyakarta. Kelvin meminta supir jemputan mereka untuk mengantarkannya ke hotel lebih dulu, membiarkan sang bos untuk beristirahat.
"Tuan, masih ada waktu satu jam untuk istirahat di hotel. Saya telah mengubah pertemuan menjadi jam 2 nanti."
"Hem ...." Yusha berdehem, pria yang mengenakan kemeja navi tanpa balutan jas itu tengah memejamkan mata.
'Sebenarnya ada apa dengan tubuh gue? Semalem baik-baik aja, kenapa pagi sampek siang ini terasa lemas.'
__ADS_1