
"Shel," panggil Yusha cepat, ia ingin memperingati Sheli supaya jangan keterlaluan di depan Niar.
"Anda benar, Nona Sheli. Abaikan keberadaan saya, pernikahan dengan Tuan Yusha tidak merubah apapun. Saya tetap pembantu di rumah ini." Niar menengadah menatap berani ke arah suami dan istri pertama itu. Ia menyembunyikan perasaan sedih, yang ia sendiri tidak tahu kenapa harus merasa demikian melihat keintiman mereka. Harusnya ia biasa saja. Karena dari awal lelaki yang menjadi suaminya sudah memberitahukan larangan di dalam hubungan mereka. Kuku tangan saling menusuk, berharap rasa sakit di telapak tangan mampu mengurangi sesak di ulu hati.
Yusha terkejut, tidak menyangka perempuan yang terlihat sendu itu bisa berkata tegar. Walau sorot kesedihan tergambar jelas di ekor matanya yang terlihat sedikit berkaca.
"Bagus dong kamu sadar diri." Sheli mengangkat kedua alisnya dan tersenyum mengejek. "Tolong kamu bawakan koper itu ke dalam kamar," perintahnya.
"Baik," jawab Niar, tangan yang bertautan saling berpencar dan segera meraih koper yang masih berdiri di luar pintu, menariknya masuk untuk di simpan ke kamar yang di tempati Yusha dan Sheli.
Menjauh dari mereka, Niar berkali-kali menghembuskan napas panjang. Ia tidak boleh lemah dengan perasaanya. Yang perlu diingat, ia harus membentengi diri agar tidak jatuh hati dengan suaminya sendiri. Jika tidak, perasaanya akan lebih pilu dari malam ini.
•
Yusha menggiring Sheli untuk berpindah duduk dengan benar. Menurunkan perempuan itu di atas sofa samping tempatnya duduk. "Shel, jangan bersikap seperti itu didepan Niar," Yusha menasehati.
"Ayolah Yusha, memang kenapa? Bukankah tadi sudah aku jelaskan, keberadaan dia di sini tetap sebagai pembantu, selagi dia belum hamil anak kamu," kata Sheli. Wanita itu sedikit merajuk.
"Tidak Shel! Kita hargai keberadaan dia lebih dari pembantu. Berpikir kita berhutang budi dengannya, dia mau mengorbankan masa depan demi menolong kita untuk punya anak." Yusha tidak menunjukan keramahan, namun tidak mungkin juga memarahi Sheli. Sebenarnya ia hanya simpatik dengan Niar, tidak lebih dari itu. Perasaan sayang atau lebih dari itu belum dimilikinya saat ini.
Sheli menanggapi dengan memutar bola mata ke atas, terlihat malas dan wajah merajuknya semakin tergambar jelas. "Yusha, aku baru pulang. Sambut aku dengan cintamu seperti biasanya. Aku lelah," ucapnya dengan lesu.
Yusha membuang napas perlahan, ia tak ingin memperpanjang. Melihat Sheli berubah mood jelek, ia segera mengalihkan topik. "Katamu pulangnya masih besok?"
"Aku pamit pulang lebih dulu, gak mau melewatkan malam panjang bersamamu. Kamu bilang lusa pergi ke luar negeri." Sheli mendekatkan diri dan berlabuh manja di lengan Yusha.
"Ada perjalanan bisnis dua hari ke Swiss," kata Yusha.
"Heem, makanya aku pamit pulang biar ada waktu berduaan, toh, acara utamanya sudah selesai. Tinggal rayain keberhasilan tim," balas Sheli.
__ADS_1
"Sayang," panggil Sheli memulai topik baru.
"Hem," Yusha berdehem dan memainkan rambut Sheli yang tertata rapi dengan di cat rambut berwarna ke emasan.
"Perusahaan Ignity mengeluarkan produk baru. Tas branded yang hanya diproduksi lima barang saja. Aku ingin memilikinya," rayu Sheli manja.
Yusha mengaktifkan daya ponsel dan memeriksa barang yang diinginkan Sheli. "Biarkan Kelvin yang pesan," ucapnya.
"Ugh ... makasih sayang." Sheli mencium pipi Yusha dan memasang senyum manis. Yusha membalas dengan mencium pucuk kepalanya.
•
Setelah meletakkan koper di sudut ruangan, kaki Niar melanjutkan langkah keluar kamar dan kembali turun menuju dapur. Ia harus menyiapkan makan malam.
Baru istirahat sebentar sudah mulai sibuk lagi. Niar menggerakan kepala ke kanan dan ke kiri, mengusir denyutan di kepala yang lumayan terasa sakit.
Ia tadi disibukkan melayani ibu mertuanya dan tidak sempat memasak. Hingga saat ini harus berjibaku dengan peralatan dapur untuk menyiapkan makan malam.
Niar menikmati kesibukannya di dapur, hingga melupakan keberadaan Yusha dan Sheli yang masih belum beranjak dari tempat duduk yang tadi.
Selesai menata masakan ke meja makan, Niar berjalan ke ruang depan menemui Yusha dan Sheli. "Makan malam sudah siap, Tuan, Nona." Niar memberitahu tanpa menatap ke depan, ia enggan melihat Sheli berlabuh manja di lengan Yusha.
"Oke, makasih." Sheli tersenyum pada Niar. Entah senyum tulus atau ada maksut lain. "Ayo sayang, kita makan malam." Kali ini Sheli beralih pada Yusha, lelaki itu mengangguk dan berdiri.
Yusha melihat Niar. "Ayo kita makan malam bareng," ajaknya.
Niar menengadah, menyorot Yusha lalu Sheli. Ajakan Yusha barusan untuknya atau untuk Sheli. Tapi pandangan lelaki itu mengarah padanya. Di samping Yusha berdiri, Sheli terlihat kesal dan cemberut. Wanita itu meliriknya sinis.
Melihat Niar diam saja, Yusha menegur. "Niar," panggilnya.
__ADS_1
"Eum ... sa-saya makan di dapur saja, Tuan. Silahkan menikmati makan malam anda. Permisi," pamitnya. Ia lalu berbalik dan berjalan menuju dapur.
Terdengar dengkusan napas kasar dari mulut Sheli, wanita itu terlihat kesal tapi malas untuk mendebat. Perempuan itu menarik tangan Yusha menuju meja makan.
Makan malam bersama Sheli tidak seperti bersama Niar, istri pertamanya itu hanya mengisi piringnya sendiri tanpa mau melayaninya seperti yang dilakukan Niar.
Yusha menikmati makan malam dengan nikmat, namun tak banyak bicara seperti biasanya. Tubuhnya duduk dikursi meja makan, tapi pikirannya tertuju pada Niar yang saat ini menikmati makan malam sendirian di ruang dapur.
"Sayang ... abis ini kita lanjut nonton di bioskop mini, ya," ajak Sheli.
"Belum bisa, Shel. Ada berkas yang harus kusiapkan untuk persentase di Swiis." Yusha tidak beralih dari piring nasi yang masih menyisakan setengahnya.
"Ck .... " Sheli menanggapi dengan decakan.
Yusha melirik. "Setelah selesai, aku akan menemanimu sepanjang malam, Baby," ujarnya sedikit merayu agar istri pertamanya itu berhenti memasang wajah kesal.
Bibir Sheli mengembang sempurna, secepat kilat wajah lesunya berubah manis. "Aku akan memuaskanmu malam ini, kubuat secore 10:1," ucapnya dengan berkedip genit.
"Kamu selalu pandai melakukan itu," balas Yusha.
Niar yang hampir keluar untuk menghampiri mereka, lalu mengurungkan niat. Perempuan itu bersandar di dinding samping kusen pintu. Pembicaraan keduanya terlalu blak-blakan mengenai aktivitas di atas ranjang. Membuat ia mengingat aktivitasnya semalam bersama Yusha, sekaligus menyadarkan bahwa lelaki itu juga memiliki kewajiban yang sama terhadap Sheli.
Terdengar suara langkah mendekat, Niar segera menjauh dari pintu dan berpura-pura menikmati makanan dimeja dapur.
"Niar, kami sudah selesai makan malam. Kamu bisa membereskan sisanya," kata Sheli.
"Baik Nona,"
Bukanya menjauh, justru Sheli lebih mendekati Niar. "Bagaimana? Apa kamu dan Yusha sudah melakukannya?"
__ADS_1
Niar yang terkejut langsung mendongak. Kenapa Sheli seterbuka itu mengajukan pertanyaan yang tidak pantas di bahas.