Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 61


__ADS_3

Hati masih disambangi pekat dan lekat, tak sekalipun merenggang atau hilang. Gelap kian gulita. Belukar resah tak jua mereda bahkan makin menyiksa raga.


Tentang pendar payoda yang tak lagi indah, tertutup mendung yang tak kunjung menyingkir.


Pedih yang dirasakan Niar kian terperih, bagaimanapun keadaanya, bayangan Yusha tak mau menepi. Tetap melayang dalam ingatan. Meski ia disibukkan dengan kepindahannya menempati kontrakan baru, tak membuat perempuan hamil itu tenang. Justru gelisah saat tiba-tiba menginginkan sesuatu tanpa bisa ditunda.


Seperti saat ini, begitu melintasi pekarangan kosong yang tertanam pohon mangga, Niar menelan ludah susah payah. Rasanya ingin mengambil dan memakan buah yang belum matang.


"Nduk, kenapa?" tanya Mbok Jamu saat melihat Niar terhenti melangkah dan terus menatapi pohon mangga diseberang jalan.


"Gak apa, Mbok," jawab Niar menyembunyikan keinginannya. Ia merasa enggan untuk merepotkan keluarga Sakky lagi. Hari ini Sakky diperintahkan untuk libur dan membantu kepindahan Niar. Walau hanya berpindah ke samping rumah, tetap memerlukan bantuan seorang laki-laki untuk memindah barang yang berat. Seperti lemari kayu dan peralatan rumah tangga lainnya.


Sampai masuk ke dalam rumah tak membuat Niar kehilangan selera tentang mangga muda, justru makin ingin untuk merasai buah masam itu. Ia melongok dari balik kaca, membayangkan betapa segarnya mangga muda yang menggantung-gantung di atas pohon tinggi.


Diam-diam Mbok Jamu mengawasi Niar, dahi tuanya mengernyit bingung melihat Niar tak kunjung pergi dari samping jendela kaca.


"Nduk, kamu mau apa? Ada yang kamu pengenin?" Mbok Jamu yang tidak tahan dengan rasa penasarannya, kembali bertanya pada Niar.


Sakky yang sedang menyusun kursi dan meja lipat tak menghiraukan percakapan ibunya dengan Niar. Pemuda itu tetap fokus menyelesaikan tugas dan setelah itu akan memanfaatkan waktu cuti untuk menikmati pemandangan pantai. Seperti itu rencananya.


"Sakky, sini, Le," panggil Mbok Jamu.


"Ngopo 'apa', Mbok?" Pemuda itu menyahut tetapi tak juga beranjak.


"Hes ... sini dulu to," ulang Mbok Jamu.


Terpaksa Sakky meninggalkan meja yang belum selesai dirakit. Berjalan menghampiri ibunya yang berdiri di samping Niar.


"Nduk Niar ngidam mangga muda, tolong kamu ambilin ya," suruh Mbok Jamu.

__ADS_1


"Lah, itu masih kecil-kecil banget, Mbok. Apa gak sakit perut kalau dimakan wanita hamil?" Sakky mengernyit menatap perut Niar yang masih rata.


"Wanita hamil itu luar biasa, Le. Walau makan mangga baru sebesar jambu gak akan bikin sakit perut. Ngidam seperti ini masih wajar. Dulu, waktu si Mbok ngidam kamu, Mbok pengen daging kodok. Makanya kamu suka ngorok."


"Elah Mbok, jangan bawa-bawa ngorok kenapa? Sakky malu tau." Sakky memberengut kesal.


"Yowes, to, makanya cepetan ambilin mangga muda itu buat si Genduk, takut anaknya ileran kalau gak dituruti." Mbok Jamu memerintah ulang.


"Hist ... pohonnya tinggi lagi," keluh Sakky beranjak dengan ogah-ogahan.


"Mas Sakky, gak usah ngambil mangga muda buat saya. Nanti biar saya ambil sendiri," cegah Niar. Ia merasa tidak enak hati terus menerus merepotkan pemuda baik itu.


"Gak apa Mbak, biar Sakky ambilin." Sakky menjawab di depan pintu. Pria itu sedang memakai alas kaki.


"Kamu pinjem galah tempat Pakde Parnyoto aja, Le," sahut Mbok Jamu.


"Galahnya Pakde Parnyoto tadi dibawa ke kebun buat ngambilin kopi, Mbok. Sakky tadi papasan sama Bude Sarinten."


"Gak apa, Mbok, biar Sakky manjat aja. Itung-itung buat latihan panjat pinang 2 bulan lagi." Sakky terkekeh dengan berlalu.


"Lomba apa aja gak pernah menang. Sampek lomba makan kerupuk juga dapet juara ke-10. Dasar bocah ...," gerutuan Mbok Jamu mengantar kepergian Sakky.


Niar tertawa kecil, anak dan ibu yang kadang mendebat namun saling menyayangi.


Satu jam berbenah barang, namun pemuda yang pergi untuk memetik mangga tadi belum juga datang. Niar dan Mbok Jamu menunggu sambil bercerita tentang pengalaman hamil. Niar masih saja bungkam, tak ingin bercerita panjang lebar. Menyebut nama Yusha, membuat hatinya kembali berdesir. Setiap kali mengingat pria itu, terasa terlunta-lunta saat ia harus mengandung tanpa dampingan suami. Tapi ini pilihannya, ia tak mau mengungkit dan tak mau memperdalam penyesalan. Yang usai biarlah usai. Begitu anggapannya.


Terdengar seretan langkah, ternyata Sakky telah kembali dengan buah mangga lumayan banyak dan terlihat disembunyikan dibalik kaos jeleknya.


"Lama banget, Le," kata Mbok Jamu menyambut.

__ADS_1


"Banyak semut rangrang, Mbok. Gatel kalau gigit."


"Maaf ya, Mas. Ngerepotin gini," sela Niar menatap Sakky dengan pandangan sungkan.


"Kalau nolong yang ikhlas, Le. Tuh, kan, Nduk jadi sedih gitu. Gak baik buat calon anaknya, kalau sering sedih."


"Lah, suami bukan. Kenapa Sakky yang repot, sih, Mbok? Ya, ikhlas gak ikhlas, mau gimana lagi," ujar Sakky.


"Udah Nduk, gak usah diladenin dia tuh emang gitu anaknya, suka gerutu," kata Mbok Jamu pada Niar. Ia berlalu ke dapur untuk mengambil pisau dan mencuci buah mangga.


Setelah kembali, ternyata Mbok Jamu sekalian membuat sambal untuk rujak. Mata Niar berbinar melihat rujakan yang terlihat sangat menggiurkan. Air ludah sampai mau menetes karena tidak sabaran ingin segera menyantapnya.


Sedangkan Sakky justru memejamkan mata, terasa ngilu melihat buah mangga yang memang masih berwarna putih. Terlihat sangat masam.


"Wah, ini pasti seger banget, Mbok," ucap Niar. Ia mengambil satu potongan mangga kecil dan mencolek ke atas sambal rujak. Ketika masuk memakan mangga muda, ibu ngidam itu tak sedikitpun merasa masam. Justru terlihat lahap seperti mengunyah roti. Sakky dan Mbok Jamu bergidik ngilu. Ibu dan anak itu hanya sebagai penonton tanpa mau mencoba.


"Mbok, udah beres semua, kan? Sakky ijin ke pantai, ya ... mumpung libur."


"Yoh, karepmu 'iya, terserahmu."


"Mas Sakky mau ke pantai? Jauh gak, Mas?" tanya Niar antusias.


"Kenapa? Emang Mbak Gak denger suara ombak yang ke dengeran sampai sini?" Sakky menatap aneh pada Niar. Padahal tanpa di jelaskan harusnya sudah tahu jika pantai hanya berjarak berapa puluh meter. Karena suara deburan ombak terdengar hingga ke desa yang mereka tinggali. "Jangan bilang mau ngintil 'ikut' juga?" selidik Sakky menyipitkan mata.


Niar mengulum senyum.


"Heh, kenapa hidupku dibayang-bayangi Mbak terus, nih. Mau santai di pantai aja harus ngajak Mbak. Makanya telpon suaminya, biar ada yang jagain," seloroh Sakky.


Senyum di bibir Niar perlahan memudar. Suami? Kata suami seperti taring tajam yang kembali mengoyak hatinya hingga terasa pedih.

__ADS_1


Andai pernikahan yang dijalani normal, sudah pasti ia akan kembali pada Yusha dan memberitahukan keadaanya. Namun, orang-orang masa lalu tak menghendaki kesatuannya bersama Yusha. Lebih baik ia hidup sendiri.


__ADS_2