Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 27


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Kelvin tengah melaju di jalan tol. Tak ada keramahan di wajah Yusha, terlihat dingin mengintimidasi keadaan sekitar. Kelvin maupun Niar tak ada yang berani membuka mulut. Untuk bernapaspun harus hati-hati agar tidak terdengar oleh Yusha.


Niar duduk di samping jendela, menjaga jarak dari Yusha. Gadis itu lebih memilih menatap pemandangan di luar jendela daripada berdekatan dengan suaminya.


Cukup lama udara di dalam mobil terasa dingin, hingga suara dengkuran halus dari mulut Yusha membuat Kelvin maupun Niar bernapas lega. Setidaknya mereka bisa bebas bergerak merenggangkan otot-otot yang kaku karna terlalu tegang berada di samping Yusha.


Tiga jam jarak yang di tempuh dari rumah Niar menuju istana Yusha, mobil Mercedes hitam itu telah berhenti di pelataran rumah.


"Tuan, anda saja yang membangunkan tuan Yusha," pinta Niar pada Kelvin.


"Nona, jangan panggil saya tuan. Panggil saja Kelvin, saya cuma sekretaris tuan Yusha, tidak pantas di panggil tuan." Bukannya menjawab permintaan Niar, justru Kelvin memprotes panggilan Niar yang memanggilnya dengan sebutan tuan.


"Kurang sopan jika saya memanggil nama saja," sahut Niar.


"Baiklah, anda bisa memanggil saya dengan sekretaris Kelvin saja."


"Hem .... " Niar mengangguk menyetujui. Perempuan itu memilih turun lebih dulu dan membiarkan Kelvin yang membangunkan Yusha. Niar memilih masuk ke kamarnya untuk menaruh tas berisi pakaian. Sebagian baju yang ada di rumah telah di bawa ke rumah suaminya, ia tidak tau kapan lagi mendapat ijin pulang.


•••••••••••••••


Sore hari Yusha baru keluar dari kamar, setelah pulang dari rumah Niar ia memutuskan beristirahat karna semalaman tidak tidur dengan baik membuat badannya terasa pegal dan kaku.


Lelaki itu turun hanya menggunakan kaos dalam polos berwarna hitam dengan celana kaki selutut berwarna cream. Otot di lengan tangan terlihat menonjol dan lagi-lagi ciri khas seorang Yushaka yaitu rambut gondrong yang selalu di kuncir ke belakang. Membuat lelaki itu terlihat garang.


Melewati pintu dapur dan melihat Niar sedang mengepel lantai. Yusha berniat mengambil air dingin dan melewati Niar.

__ADS_1


"Tuan, ada yang perlu di siapkan?" tanya Niar. Walaupun status mereka suami istri, namun Niar menganggap Yusha sebagai tuannya. Ia tetap menganggap dirinya sedang bekerja dengan lelaki itu.


"Eum ... saya ingin makan salad buah, tolong kamu buatkan dan bawa ke halaman belakang," perintah Yusha. Lelaki itu mengambil botol mineral dan berlalu.


Niar segera meracik buah dan sayur untuk membuat salat buah seperti perintah Yusha. Tidak memerlukan waktu lama ia telah selesai membuatnya dan langsung menuju halaman belakang.


Yusha sedang duduk di ayunan besi yang ada di samping kolam, memandangi air kolam yang jernih dan tenang. Namun tak setenang hatinya, entah apa yang sedang di pikirkan lelaki itu.


"Tuan, ini salad buahnya." Niar menaruh itu di depan Yusha dan segera berbalik ingin melanjutkan pekerjaan yang tadi.


Saat Niar berbalik, Yusha segera bersuara. "Mau kemana kamu?"


"Mau kembali ke dapur, tadi kerjaan saya belum selesai," balas Niar.


"Tapi saya sudah terbiasa melakukannya," jawab Niar membantah, ia tidak setuju Yusha melarang pekerjaan yang di lakukanya.


"Ingat, kamu sudah resmi saya nikahi. Jadi, statusmu sekarang istriku bukan pembantuku." tegas Yusha.


"Saya memang resmi berstatus istri anda, tapi hubungan kita bukan sebagai rumah tangga yang sebenarnya. Saya hanya memberikan jasa rahim saya di sewa untuk mengandung anak anda. Setelah itu kita berpisah. Dan saya tidak ingin terlena dengan status yang sekarang. Biarkan saya melakukan seperti biasanya, menjadi pembantu di rumah ini. Nyatanya semua tidak tau dengan pernikahan kita." Niar berkata dengan pandangan menunduk. Ia harus berani menyuarakan pendapatnya.


"Selama kamu menjadi istri saya, kedudukanmu sama seperti Sheli. Menjadi Nona di rumah ini dan kamu juga berhak mendapat hal yang sama seperti yang di dapatkan dia. Dalam artian, sekarang statusmu Nona di rumah ini bukan sebagai asisten rumah tangga," tegas Yusha dengan lugas. Ia memandang ke arah Niar. Namun istri keduanya itu hanya menunduk dan terlihat gugup.


"Seperti yang saya katakan. Saya akan memperlakukan kalian secara adil, setiap bulan Sheli mendapat uang bulanan seratus juta, maka jatah uang bulanmu juga seratus juta. Tidak ada yang saya bedakan, mungkin perasaanku yang lebih menonjol untuk Sheli karna hanya dia perempuan yang saya cintai," ujar Yusha dengan tatapan mengintimidasi, ia tidak suka perkataanya di bantah.


"Hah ... satu bulan seratus juta? Uang sebanyak itu buat apa, Tuan?" tanya Niar dengan polosnya.

__ADS_1


Tatapan Yusha yang tadi mengintimidasi kini berubah heran. Kedua alisnya menyatu dengan sudut bibir terangkat. "Terserah mau kamu apakan. Itu uang nafkah dari saya, bisa kamu gunakan untuk belanja kebutuhan pribadimu. Jika ada diskon barang brended, bukan hanya Sheli yang saya belikan. Kamu juga akan mendapatkannya."


"Tidak Tuan, tidak! Anda tidak perlu memberi saya uang bulanan seratus juta. Saya tidak bisa tidur menyimpan uang sebanyak itu. Tolong beri saya uang secukupnya saja, seperti gaji saya yang sebelumnya," tolak Niar.


Yusha tersenyum lebar menertawai kepolosan Niar. Jika perempuan lain senang mendapat uang sebanyak itu, tapi berbeda dengan perempuan yang ada di depannya, Niar justru menolak dengan polos. Bahkan Yusha ingin terbahak mendengar pertanyaan Niar yang tidak tahu akan digunakan untuk apa uang jatah bulanannya.


"Uang itu tersimpan di kartu debit, jadi tidak perlu menyimpan uang cas," ujar Yusha.


Terdengar Niar membuang napas lega, gadis itu memberanikan diri mendongak. "Saya pikir anda memberikan uang cas seratus juta, selama 9bulan sudah menjadi sembilan ratus juta. Uang itu bisa saya gunakan untuk alas tidur."


Kali ini Yusha terbahak, ia tak lagi bisa menahan gelak tawanya. 'Benar-benar aneh atau memang sangat polos?' batin Yusha.


Niar memanyunkan bibir saat Yusha menertawainya. 'Gak ada yang lucu, kenapa anda tertawa sekeras itu," gerutunya dalam hati.


"Ya-ya ... terserah mau kamu buat alas tidur atau kamu apakan, yang penting itu sudah menjadi hakmu." Bibir Yusha masih menyisakan tawa kecil.


"Saya tetap tidak mau menerima uang sebanyak itu. Nanti anda bisa bangkrut."


Yusha kembali tersenyum miring, "saya tidak akan bangkrut hanya dengan mengeluarkan uang segitu. Jika perusahaan menang tender, satu minggu bisa meraup jumlah milyaran."


"Masya Allah, itu uang semua, Tuan? Anda tidak bingung menyimpan uang sebanyak itu dimana?"


"Ngomong sama kamu bisa bikin perut keram. Kamu kebangetan polosnya."


"Maaf, saya 'kan memang gak tau, Tuan. Saya pribadi paling banyak menyimpan uang cas lima juta. Itu pun setiap malam saya taruh di bawah bantal tempat tidur. Takut di ambil ibu atau kak Nesva." Nesva bercerita. Dan di tanggapi suara tawa Yusha yang menggema di sore itu.

__ADS_1


__ADS_2