Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 75


__ADS_3

Kita berpijak pada tanah yang sama. Menghirup udara sama, memandang hal yang sama. Kita hanya berjarak berapa meter, bahkan ketika suara ini memanggil namamu dari tempat ku berdiri sekarang, kaupasti langsung menoleh. Mendapati diriku juga air mataku. Kita akan saling bersua, melepas rindu dengan tatapan sendu. Namun, ingatkan kita tak lagi bisa bersatu.


Rindu yang membelenggu telah bebas, serak harapan akan kembali utuh. Namun, terlepas dari angan itu, takdir Tuhan lah yang berkuasa memutuskan. Apapun yang kita kehendaki, bisa saja dirubah oleh-Nya.


Niar terus melangkah pelan, meski tubuh Yusha terkadang tertutupi beberapa orang yang melintang, tetapi lekat pandangan Niar tetap pada sosok pria itu. Pria yang tengah berdiri menghadap laut dengan bergeming walau disekitar terdengar hiruk pikuk gema tawa dan teriakan, sosok itu seolah tak perduli. Terlihat sedang menyelami perasaan.


Niar berkedip pelan, jantungnya terpompa sangat cepat. Sebentar lagi, mungkin 2 menit lagi telinganya dapat mendengar suara Yusha, juga netranya dapat memindai secara lekat garis wajah pria itu. Tetapi, ada keresahan yang tiba-tiba muncul. Ia tak dapat membayangkan reaksi Yusha seperti apa; menyambut dengan senang, biasa saja, acuh, marah, atau justru menjauh dan tidak ingin bertemu.


Terakhir meninggalkan pria itu, ia hanya dianggap teman, tak lebih. Niar tahu jika cinta Yusha masih utuh untuk istri pertamanya. Namun, bodoh! Bodoh dan bodoh! Karena sempat terbesit menginginkan rindu pria itu. Padahal itu mustahil. Keinginan dan perasaanya tidak akan terbalas. Bagaimana lagi, hati tak dapat dipimpin, tak dapat dikontrol hingga kita bisa menghindari rasa suka terhadap seseorang. Hati berkuasa memilih pada siapa ia akan berlabuh.


Sebenarnya keduanya sama. Sama-sama merasakan bimbang? Sama-sama menyimpan runtut pertanyaan. Sama-sama bingung untuk mendefinisikan perasaan. Yang mereka pikir tentang banyaknya rintangan dan kebiasaan yang masih melekat. Hingga sulit dipercaya jika hatinya telah berpindah haluan dan kini terpaut dengan hati yang baru; mereka tak bisa saling mengartikan karena terhalang faktor sekitar. Tentang kedua orang tua Yusha yang tidak merestui hubungan mereka. Tentang Sheli yang lebih dulu memiliki hati Yusha. Lalu perempuan yang baru saja datang itu bisa apa?


'Nak, sebentar lagi statusmu akan diketahui oleh ayahmu. Mudah-mudahan ayahmu senang dan menerimamu dengan bahagia," batin Niar seolah bisa berbicara dengan calon anaknya. Kali ini yang dipikirkan tentang kesejahteraan calon anaknya. Calon yang masih berbentuk embrio itu berhak mendapat pengakuan sebagai keturunan Yusha. Karena seperti itu faktanya.


Hanya berapa meter lagi. Kakinya telah sampai di tempat Yusha berdiri.


"Tu ... an," seruannya melirih.


Jantungnya seolah berhenti berdetak. Kaki yang tadi mengayuh untuk melangkah kini terhenti paksa.


Melebur, luluh lantakkan harapan yang kuat ia bangun. Melemaskan semua persendian hingga tubuhnya meringan dan hampir terpelanting tanpa kesadaran.


Bergeming, seolah waktu terjeda untuk detik berikutnya. Waktu terhenti dengan harapannya yang juga terhenti.

__ADS_1


Berbeda dengan air mata yang tak dapat dicegah, turun seperti ritme hujan di musim semi, lalu membanjiri pipi putih bersihnya.


Ia berdiri lemah, lunglai dan tanpa suara. Hanya deru napasnya kian tersengal dengan teriring nelangsanya hati. Mungkin untuk sekian ribu kalinya ia mengemban luka dan kekecewaan. Apa yang diharapkan tak selalu sesuai yang dibayangkan. Apa yang diinginkan tak sesuai jalan perkiraannya.


Tuhan tak berpihak. Tuhan punya topik sendiri untuk membuatnya terus diuji.


Semesta larut mengizini ia merasakan kehancuran. Lagi, hanya hati yang mampu menjerit. Memaki, meluapkan isi hati.


Seperti inikah sakitnya? Seperti inikah gemuruh yang mampu meleburkan asa. Seperti inikah bara api yang membakar jiwanya.


"Sayang, aku merindukanmu."


Suara itu. Harapan pertama telinga itu akan mendengar suara Yusha yang memanggil namanya, atau sekadar menyapanya. Namun apa? Justru telinga itu terasa panas mendengar suara Sheli memanggil Yusha dengan suara mendayu merayu.


Lagi, Tuhan menunjukan takdir yang berbeda. Apa ini sebagai tanda bahwa ia dan Yusha belum bertakdir untuk bertemu. Apakah Tuhan juga ingin menunjukan bahwa hanya Sheli yang berhak untuk Yusha? Ia dipaksa untuk sadar diri, ia tak memiliki hak apapun.


Setelah melihat kedatangan Sheli, juga melihat pelukan yang diberikan perempuan itu. Kini niat yang dibangun kuat harus roboh begitu saja. Rasa takut tiba-tiba menelusup. Takut jika calon anaknya harus diserahkan pada mereka, lalu ia kembali berteman dengan luka dan derita. Tidak! Baru ini perempuan itu ingin bersikap egois. Ia kini tak mau anaknya diketahui oleh Yusha. Ia takut makhluk yang bersemayam dalam rahimnya setelah lahir akan diambil mereka.


Niar berbalik, lebih baik ia kembali bersembunyi. Biar ia hilang dari pandangan mereka seperti beberapa waktu lalu. Namun kaki yang tadinya berdiri kuat tiba-tiba melemas, tubuh Niar luruh di atas pasir. Perempuan itu tak kuasa menahan isak tangis yang terdengar pilu.


Beruntung banyak pengunjung yang masih memenuhi bibir pantai, hingga tubuh Niar tak begitu menarik perhatian.


Telapak tangan kokoh terulur di depan wajah Niar. Manik mata sendu itu menengadah untuk melihat siapa orang itu.

__ADS_1


"Ayo pulang," ucap Sakky yang memandang iba.


"Mas Sakky," balas Niar dengan suara serak.


"Udah sering kamu menangis. Lupakan tujuan awal. Tuhan tidak menghendaki niatmu."


Benar. Apa yang dikatakan pemuda bernama Sakky itu memang benar. Mungkin niatnya harus diurungkan.


Niar tak menerima uluran Sakky, namun ia berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang dimiliki.


Niar menoleh ke arah Yusha dan Sheli yang masih pada posisi yang sama. Perlahan ia mantapkan hati untuk pergi dan kembali menjauh dari pandangan Yusha.


Pemuda bernama Sakky sengaja menyusul Niar ke toko, ia tahu jika Niar belum pulang sebelum senja menghilang. Namun, saat tiba di toko ternyata sudah tutup. Lalu, ia meneliti di antara banyaknya pengunjung. Begitu terkejut mendapati Niar terduduk dengan kondisi menangis. Pemuda itu segera mendekat untuk membawa Niar pergi sana.


Di tangan Sakky masih menenteng susu hamil yang tadi sempat dibelikannya saat baru pulang kerja.


Keduanya berjalan menjauh, tetapi ....


"Nona Niar!" Suara seseorang memanggil Niar.


Niar dan Sakky menoleh ke belakang. Kelvin tengah berjalan menuju mereka.


"Mas Sakky, ayo cepetan! Kita lewat jalan pintas!" ajak Niar dengan panik, mengetahui bahwa Kelvin lah yang memanggil.

__ADS_1


Sakky terpaksa menarik tangan Niar yang terbalut kain panjang. Pemuda itu mengajak Niar menyelinap dibalik keramaian orang-orang untuk mengecoh Kelvin.


__ADS_2