
Tangan Anne bergetar hebat begitu melihat sang calon suaminya kelak, entah itu karma atau berkah keduanya memilki perbedaan setipis kertas.
sedangkan di seberang meja seseorang hanya menyeringai misterius melihat wanita yang akan menjadi istrinya, berbagai rencana jahat sudah bermunculan di kepalanya tersusun rapi berbaris bagai pasukan tentara yang siap menyerang kapan saja.
"Nah begini lebih baik karena kalian sudah saling kenal, iya kan menantu" ucap kakek Wisson pada Nala
"iya dong pak Wisson, saya juga terkejut waktu pak Wisson yang muncul tadi, jadi pak Wisson sahabat yang Daddy maksud itu" terang Nala
"Haaah.... saya jadi rindu ayahmu Nala" kata kakek Wisson menghela nafas
"Ayahmu itu inspirasi besar bagi saya, waktu pertama kali kami bertemu, dia begitu rendah hati senang sekali membantu orang yang bahkan tidak ia kenal sama sekali, saat itu ayahmu sedang menuntun seorang ibu2 pemulung buta Ayahmu membawanya ke rumah sakit, saya terkejut begitu tau ayahmu itu mengajukan operasi mata untuk ibu itu dan dia sendiri membayar penuh dengan uangnya sendiri, saya juga tidak menyangka dengan penampilannya yang bahkan terlihat seperti penjual cilok keliling itu" jelas Kakek Wisson mengingat masa lalu
"Daddy emang gitu pak, Daddy selalu sederhana apa adanya, bahkan saya belum pernah melihat Daddy berpenampilan mewah 'Jangan tunjukan seberapa banyak hartamu dengan barang2 mewah yang tak berguna itu, cukup tunjukan apa yang kamu sukai' itu yang Daddy selalu katakan pada saya" ucap Nala dengan tatapan sendu nya
"Nah jadi mau sampai kapan nih mengenang masa lalu kek" kata Hendry tiba-tiba
"hahahahahahh.... Oke baiklah baiklah cucu kesayangan ku sepertinya sudah tidak sabar menikahi gadismu Nala" gelak kakek wisson
__ADS_1
"kakekk" kata Hendry dengan suara tertahan
"Anak bapak kemana kok kesini cuma sama cucu nya doang pak" tanya papah Anne
"oh dia ada di luar kota sekarang jadi yaa saya sendirian" jawab kakek Wisson
"kalau gitu bagaimana nak Jordan, putrinya buat cucu saya aja" kata kakek Wisson
"Boleh pak, kita tinggal tentuin tanggalnya, anak saya udah setuju dari kemarin tuh" jawab Jordan papah Anne
"bagus... baguss, kalau gitu acaranya Minggu depan aja, kebetulan saya punya kolega yang bisa diajak kerjasama" jawab kakek Wisson santai
"apa kamu bilang !!!! hei cowok sialan harusnya aku yang bilang gitu, aku juga ngga mau kali punya suami kaku kayak kanebo kering dingin kayak balok es di kutub utara, Oya satu lagi yang songong itu kamu ya !!!" balas Anne berdiri kesal lalu kembali duduk
Sedangkan Nala, Jordan dan Kakek Wisson hanya tertegun melihat pertengkaran mereka berdua
"(prok) Wah wah wahh... lihat mereka itu cocok sekali... mamah jadi ngga sabar pengen gendong cucu" kata Nala sambil mengatupkan kedua tanganya lalu menempelkan di dada.
__ADS_1
"Mamahhhh" kali ini Anne kesal pada sang mamah
"oke kita sudah sepakat, acaranya biar kakek aja yang atur Nak Jordan dan nak Nala siapkan keperluan Anne saja biar saya yang urus sisanya, dan untuk acaranya biar di rumah Nak Jordan saja" kata kakek Wisson
Jordan mengangguk menyetujui lalu mereka menyudahi pertemuannya
Anne masih tak menyangka jika takdir begitu ingin bermain main dengan nya
karena dia harus bertemu dan lalu sepekan lagi akan menikah dengan lelaki yang tak sengaja ia foto kala itu.
sehari setelah pertemuan sakral terjadi Anne terus begadang, bayangan buruk tentang calon suaminya itu terus menghantui mendatangi mimpi bahkan muncul dimana-mana bagai hantu gentayangan, penampilannya bahkan sudah seperti vampire kurang gizi rambut kepang dua yang sudah dua hari ini tidak ia urai terlihat kusut bercabang dimana mana dengan kantong mata yang hampir jatuh, Anne sudah tak peduli dengan penampilannya saat ini.
khawatir akan mengalami mimpi buruk itu lagi Anne memutuskan tidur di rumah utama malam ini ia membereskan barang-barangnya mengacak almari mengenakan pakaian seadanya dengan rambut yang masih sama ia hanya menambahkan kacamata bulat tebal di wajah dan mengalungkan kamera usang kesayangannya dengan ransel besar di punggung ia sudah terlihat seperti mayat hidup siap untuk migrasi.
Setengah jam mengendarai mobilnya menuju rumah utama dalam kemacetan panjang berakhir sudah, Anne turun dari mobil bertatih-tatih menyeret ransel ke dalam rumah pak satpam berdiri terdiam dengan mulut terbuka, bibi yang sudah berderet rapih juga melakukan hal yang sama, sesampainya di depan pintu Anne dikejutkan oleh suara teriakan sang mamah.
"Apa pah!!!! besok!!!" jerit Nala
__ADS_1
Maafin yah kalau banyak yang typo ππ
kasih saran dan masukan juga boleh βΊοΈ