Mistery And Kriminal H.I.S (High International School)

Mistery And Kriminal H.I.S (High International School)
saat menghilang 4


__ADS_3

Bu irna yang sudah mulai meledak-ledak akibat emosi nya yang tidak tertahan kan justru mengiyakan ucapan dinda


"Ayo, kita ke kelas akan aku ajari cara nya sopan santun" bu irna ceplas-ceplos menarik bahu dinda dengan keras


"Arghh... "


"Sakit bu...!! Bagaimana saya bisa belajar jika posisi saya serba di ikat begini?" dinda sedikit mengerut kan dahinya dan menaikkan salah satu alisnya


"Yasudah saya lepas ikatannya"


Mendengar itu dinda lantas tersenyum miring, sedangkan koki yang masih di sana gelagapan melihat apa yang akan dilakukan bu irna


"B-bu jangan...! Dia kan tahanan..!!"


Bu irna berhenti membuka ikatan yang ada pada tubuh dinda dan menoleh ke arah koki itu


"Ibu.... Jika saya tidak punya sopan santun maka ibu lah yang harus disalahkan karena tidak pecus dalam mengajar!! Satu murid saja tidak bisa apalagi banyak!!"


"Tch! Tch! Tch! " dinda menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri


Mendengar cibiran netizen satu ini membuat bu irna berpaling ke arah nya


"Kau ini!!" bu irna mengepalkan tangan nya sendiri tanda sudah sangat geram dengan kelakuan murid nya


Setelah itu bu irna kembali berpaling ke arah koki dan berkata


"Tidak apa! Sekarang aku tidak peduli tentang tahanan atau tidak, yang jelas sekarang reputasi ku dalam mengajar di pertaruhkan"


Mendengar itu sontak dinda menatap tajam ke arah bu irna


"Reputasi katamu? Sungguh egois..! Reputasi mu sebagai guru sudah hancur sejak pertama kali kau bekerja sama dengan pak indra" ucap dinda dalam hati tentu saja tidak dapat di dengar oleh siapapun


"T-tapi bu jika pak indra tau dia akan sangat marah"


"Pak indra tidak ada disini dia pergi keluar kota beberapa hari karena ada suatu urusan!"


"T-tapi.... " belum sempat berbicara panjang lebar dan perkataan pak koki pun terputus


"Saya akan membawa nya ke kelas!" bu irna tetap pada keputusan nya


Sedangkan disisi lain dinda hanya mengulum senyum, sungguh menyenangkan baginya bisa mempermainkan orang jahat seperti bu irna


Tidak butuh waktu lama untuk benar-benar membuka semua balutan tali yang ada di lengan dan kaki dinda


"Akhirnya.... " dinda sedikit mengepal kan tangan nya dan menghentak kan kaki nya ke lantai


"Sungguh pegal tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama" dinda berguman sendiri namun masih bisa didengar oleh bu irna dan pak koki disana

__ADS_1


"Ayo ikut aku..!" ucap bu irna pergi terlebih dahulu menunjukan jalan keluar


"Dengan senang hati" dinda masih tersenyum tidak tahan dengan emosi nya sendiri


Sedangkan pak koki juga ikut dibelakang untuk bersama-sama keluar dari tempat itu


Namun di perjalanan hal tak terduga terjadi, seketika mata mereka terbelalak melihat pak indra berjalan ke arah mereka


"Gawat..!! Kalau seperti ini gw gk akan tau cara nya keluar dari sini, bagaimana gw bisa bawa alda keluar dari sini? Jika gw sendiri gk bisa keluar?" ucap dinda dalam hati


Dinda memang tau jalan masuk ke tempat itu, tentu saja lewat kantor pak indra dan menekan sebuah tombol kecil, namun dinda tidak tau cara nya keluar


apakah di pintu yang sama? Tapi apakah ada tombol untuk keluar? Ataukah dipintu dan jalan yang berbeda?


Sementara itu bu irna terpaku menjadi patung melihat pak indra menuju ke arah nya, langkah kaki nya semakin mendekat dan akhirnya mereka pun berhadapan secara langsung


"S-selamat pagi p-pakk...!" bu irna mulai gagal


"Ada apa ini? Kenapa anak ini keluar dari tempat nya?"


"Pak.. Bukan nya bapak hari ini akan pergi keluar kota? Kenapa masih disini?" bu irna tidak mengubris pertanyaan pak indra


"Kenapa kalian ada disini!!" bukan nya menjawab pak indra justru kembali bertanya


"K-kami mau ke atas pak!!" ucap bu irna kembali gelagapan


"Jika ini dibawah berarti diruang bawah tanah??" dinda menyatukan semua nya


"Kenapa membawa dinda? Apa kalian berniat membebaskan dinda?" pak indra mulai marah


"T-tidak pak... Saya tidak bermaksud mengkhianati bapak, saya hanya mau mengajarkan anak ini sopan santun pak"


Mendengar itu pak indra menatap tajam kearah dinda sedangkan dinda hanya membuang muka, sungguh tidak peduli mau marah atau mau kesal selangit pun tetap tidak peduli


"Bodoh kau!! Dia sedang mengelabui mu!! Dia ingin tau cara nya keluar dari sini!!"pak indra membentak semua yang ada disini


Sedangkan dinda yang mendengar masih membuang muka


"huhh... Gagal, tapi gpp kan masih ada bu Ririn yang bakalan ngasih tau, sabar aja deh" ucap dinda dalam hati


"A-apa?" bu irna yang baru menyadari itu semua menatap tajam ke arah dinda


dinda masih membuang muka acuh


"bodo amat!" gumam dinda


"sekarang cepat bawa dia kembali keruangan nya dan jangan biarkan dia keluar lagi"

__ADS_1


setelah mengatakan itu pak indra bergegas pergi dari hadapan mereka


sedangkan dinda memperhatikan pak indra dengan intens


"apakah pak indra akan menemui alda?" ucap dinda dalam hati namun tak membiarkan pak indra lepas dari pandangan nya


"hey!!"


panggilan itu sontak membuat pikiran dinda buyar


"tebakan mu benar, sekarang pak indra pasti menemui alda dan memberi nya sebuah ancaman"


"ancaman!?" ucap dinda


"jika kau berani macam-macam dengan nya maka kau akan dihabisi tepat dihadapan alda"


"untuk apa pak indra mengancam alda?


"alda sering kali berusaha kabur namun selalu gagal itu sebab nya pak indra mengancam agar alda tidak berani kabur lagi, sedangkan jika pak indra mengancam mu sepertinya tidak akan mempan terhadap pikiran aneh mu"


"jika terus di ancam apakah alda akan baik-baik saja? bukankah mental nya juga akan melemah?" ucap dinda


mendengar itu lantas bu irna sedikit iba, bagaimana bisa anak yang masih duduk di bangku sekolah sudah di kekang untuk tiada?


"sudahlah ayo.!" bu irna membawa dinda keruangan awal dinda di kurung, sedangkan pak koki juga ikut menghalangi pergerakan dinda yang berusaha kabur


skipp


dinda masuk keruangan itu dengan paksa, sedangkan bu irna mengambil seutas tali... berusaha mengikat dinda lagi


"untuk apa mengikat saya bu?"


"agar kau tidak bisa kabur dari sini"


"bukankah ibu tadinya menyuruh saya makan? bagaimana saya bisa makan jika tangan saya di ikat begini?"


mendengar itu bu irna pun berfikir ada benar nya juga, bagaimana bisa makan jika tangan di ikat seperti itu?


"tidak apa bu, lagian saya juga tidak bisa kabur dari sini... kan saya tidak tau jalan keluar nya toh?"


"baiklah saya tidak akan mengikat kamu"


setelah itu bu irna bersama koki keluar dari ruangan dan mengunci pintu


dinda menghadapi makanan yang disediakan, ada nasi dan lauk pauk, juga ada beberapa buah


"wah... udah seperti di restoran aja nih"

__ADS_1


__ADS_2