
"awal kami berteman karena tujuan kami semua sama yaitu menghancurkan pak indra yang tega menghabisi muridnya sendiri karena ambisi terhadap keberhasilan, sahabat terbaik gw cuma lo doang kok tenang aja" dinda mengelus rambut alda bahkan hingga berantakan namun alda justru senang dengan perlakuannya
"gw bukan anak kecil!" bibirnya mengerucut
"lo bayi gede, ya... Meski kadang suka bar-bar sih ngerepotin aja bisanya" ledek dinda sedangkan alda tidak mengubris ucapannya
"jadi sekarang kita harus bagaimana?" alda menepuk pundak dinda, sudut wajahnya mengeras menandakan dirinya sudah siap
dinda menoleh lagi lalu mengangguk mengerti
"menurut gw... Orang yang tadi nyuruh kita buat nyelesain perkara malah membuat kita terjebak disini berarti..." dinda sedikit menggaruk pipi nya yang tidak gatal menggunakan jari telunjuknya
"berarti sesuatu seperti itu pasti ada didalam sini dan sepertinya kita memang ditargetkan untuk menyelesaikan nya selama ini?" sahut alda melanjutkan perkataan dinda yang terputus dengan cepat
"itu benar, dari luar sini diruang kepsek bahkan memiliki tombol rahasia.. berarti memang tempat ini dipenuhi dengan sesuatu yang tersembunyi didalam nya"
sambung dinda lalu bangkit dari duduk nya disusul oleh alda yang juga ikut berdiri disampingnya
"al, lo periksa dinding yang ada disana, sisanya biar gw yang urus" ucap dinda sembari menunjuk kearah kanan mereka
"oke, gw ngerti" alda berjalan menuju sudut ruangan sebagai permulaan, sedangkan dinda pergi kearah yang berlawanan
Mereka meraba setiap sudut tembok, mulai paling bawah dengan berjongkok, hingga bagian atas dengan melompat semampu mereka
...satu jam kemudian........
"arghh.. Gw capek, lo nemuin sesuatu gk?" alda terduduk menyandar ke tembok
dinda menoleh ke arah alda "gak, sepertinya kita salah perhitungan"
"apa mungkin bukan ditembok ya?" alda menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian menutup mata dan menghentakkan kaki nya beberapa kali
__ADS_1
"tunggu tadi lo denger gak?" sorot matanya serius sekarang dinda menunjuk kearah alda
"iya... Gw denger sendiri tadi gw bilang apa, gw bilang kalau mungkin gak ada ditembok" balas alda
"bukan itu!" teriak dinda pelan
"terus...?"
"coba hentakkan kaki lo lagi seperti beberapa waktu lalu" dinda mendekat kearah alda lalu berjongkok dihadapannya
"hmm.. Oke!??"
Tuk-Tak-drub-Tuk-Tak
"itu!!" ucap keduanya bersamaan, mata mereka melebar kearah satu sama lain menyadari sesuatu
"ada suara yang berbeda saat lo mengehentakkan suara dilantai dengan posisi tidak beraturan seperti tadi" jelas dinda
alda mengangguk sekilas "sepertinya yang memiliki bunyi berbeda di area sini"
Alda mengetok posisi yang ia maksud untuk lebih memperjelas asumsi mereka, dan dinda terus memperhatikan intens
"ada sesuatu dengan lantai ini, sepertinya memang sengaja tidak diisi semen dengan benar agar memiki sebuah ruang didalamnya" dinda melipat tangannya namun tidak langsung menyentuh dan melakukan sesuatu terhadap lantai yang dimaksud
"ruang kosong? Berarti memang di isi dengan sesuatu? Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita periksa!?" alda memasukkan jemarinya ke arah sela salah satu kramik yang ada dilantai itu, mencoba membuka dengan sekuat tenaga
"t-tunggu al, jangan gegabah bisa aja yang ada di bawah kramik itu adalah bom jeba-"
DRACKK!! Suara keras menghentikan ucapan dinda
belum sempat dinda menyelesaikan ucapannya, kramik itu sudah terlebih dahulu terbuka dan memperlihatkan sebuah lubang berpasir yang kosong
__ADS_1
keduanya terpelongo bukan bom atau pun sebuah tombol yang ditemukan melainkan hanya sebuah lubang tak berisi
"hahh...! Percuma gak ada apapun yang bisa kita temukan diruangan ini, gimana cara nya kita bisa selamat coba? Kalau emang sebenarnya gak ada yang dapat kita lakuin!? Pasrah aja deh emang nasib kita bakalan mati disini, tapi setidaknya gw gak sendirian hehe" keluh alda bersama unek-uneknya panjang kali lebar
"gak! Jangan simpulkan secepat itu, bisa jadi ini cuma tipuan" bantah dinda yang masih memperhatikan lubang berbentuk kotak yang kosong itu
"tipuan? Ahaha lucu lo din, palingan emang cuma hanya keteledoran si kontraktor bangunannya aja" balas alda sembari berbaring menghadap keramik yang terbuka itu
"jadi sekarang lo lagi ngapain?" ucap dinda terus sesekali memperhatikan tingkah laku sahabatnya itu
"lo gk liat gw lagi istirahat? Eh.. Lebih tepatnya nungguin kematian datang menjemput gw" alda memperbaiki posisinya dengab benar lalu menutup mata seakan ingin tidur pulas
meski kata-katanya terbungkus dengan candaan tapi sebenarnya alda tengah takut membayangkan apabila nantinya salah satu dari mereka meninggal terlebih dahulu, sedangkan yang lain dari mereka harus tidur dengan teman mereka sendiri yang sudah tiada sambil menunggu gilirannya tiba
dinda menatap sekilas kearah alda, dirinya tak tega jika terus-terusan mereka terlalu overthinking terhadap masa depan yang masih belum diketahui dengan jelas seperti apa
"masih ada waktu, jika ingin selamat kita bukan hanya memperhatikan yang terlihat saja tapi juga yang tidak tampak dimata selama ini" dinda menggaruk serakan pasir yang ada dilubang berbentuk petak tersebut berharap ada sesuatu dibaliknya
srekk-srekkk
Suara desiran pasir kembali membangunkan alda membuatnya kembali membuka mata
"apa yang lo lakuin din? Tangan lo kotor tuh"
alda mengusap wajah nya berusaha tetap sadar dari kantuk yang melanda, apakah sudah malam? Tidak! Itu karena alda tidak cukup tidur selama ini, setidak nya dia selalu dilanda ketakutan karena berada dalam tahanan,.namun tidak untuk sekarang sebab ada dinda disisinya membuatnya merasa aman!
"al...! Gw nemuin sesuatu!" teriak dinda kegirangan lalu memegang kedua pundak alda dengan cepat menggoyangkan tubuh alda sekuat tenaga beberapa kali
"twenang dwulu dwin, gweew pwusing nwih *tenang dulu din, gw pusing nih*" tubuh nya mengalami guncangan hebat membuat suaranya tak jelas terdengar
"eh? Iya sory, gw cuma kesenangan aja hehe, akhirnya ada harapan" dinda menghentikan perbuatannya lalu membantu alda untuk tidak jatuh akibat pusing nya yang hebat
__ADS_1
berselang beberapa detik alda kembali sadar lagi lalu memperhatikan lubang hitam, eh! Maksudnya lubang yang ada dibawah keramik itu
"lo nemuin ap-" belum sempat alda melanjutkan ucapannya, kini dia sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya sendiri