Musuh Kecilku Adalah Jodohku

Musuh Kecilku Adalah Jodohku
Menjadi Tawanan


__ADS_3

"Aku mohon tante, beri tau dimana Jesica, aku ingin bertemu Jesica tante. " Boy memohon kepada Sarah supaya di beri tau di mana keberadaan Jesica sekarang.


Sarah melihat kesungguh sungguhan Boy, kemudian mengambil selembar kertas dan menulis sesuatu di sana, setelah selesai Sarah pun memberikan kertas itu kepada Boy, Boy sangat senang, karna bermungkinan bisa jadi Jesica berada di alamat tersebut.


" Makasih tante, sekali lagi tante , makasih, " Boy pun meraih tangan Sarah lalu bersalim kepada nya, tiba tiba Denian juga mengulur kan tangan, dan memberi isyarat supaya Boy juga bersalim kepadanya, kemudian.


Tuuuiiingg... Boy menoyor kepala Denian.😅😅


" Apa kamu hah, tidak sudi aku mencium tangan mu, minggir. " Kata Boy juga menepis tangan Denian.


" Dasar calon mantu kurang a jar, kamu mau di terima ngak di keluarga ini ayo cepat cium tangan calon mertuamu. " kata Denian sambil mengulurkan tangan nya kembali Boy.


" Ogah! maaf tante aku permisi dulu, aku akan menyusul Jesica, sekali lagi makasih tante. " Boy pun tidak menghiraukan Denian, Boy hanya berpamitan dengan Sarah, tapi Sarah acuh saja, karna masih memasang tampang tidak suka kepada Boy.


Boy pun melangkah menuju mobilnya, setelah memasuki mobilnya, dia kembali menancapkan gas mobil nya menjauhi rumah Ibu Jesica.


Sempat kesulitan mencari alamat yang tertera di kertas itu, karna Boy juga belum pernah menempuh daerah itu, tiba tiba ada dua buah mobil sedan berwarna hitam menghadang Boy, dari dalam mobil itu keluarlah beberapa pria dengan tampang preman dan memaksa Boy keluar dari mobilnya.


Setelah Boy keluar, mereka pun memaksa Boy untuk ikut dengan mereka, tapi Boy menolak, karna menolak Boy pun dihajar habis habisan oleh beberapa pria itu.


Akhirnya Boy tidak sadarkan diri, dengan ke adaan itu Boy di giring memasuki Mobil sedan itu, dan Mobil yang di bawa Boy, di ambil alih oleh salah satu preman tersebut.


***


Sementara itu di kediamanan Nanda, Jesica sangat gelisah, entah kenapa perasaaan mulai tidak enak , entah kenapa fikiran nya terlempar kepada Boy.


Jesica sangat mencemas kan Boy, dia mondar mandir tak karuan, sehingga dia tidak sadar dari tadi Junior menangis sejadi jadinya.


" Beb kamu kenapa? itu Junior dari tadi rewel kok kamu diamin. " tanya Nanda.


" Aduh maaf Beb, entah kenapa dari tadi pikiran ku tidak tenang, aku tidak tau harus berbuat apa! Aduh Junior kenapa lagi nih, ngak ada angin ngak ada hujan, nangis histeris seperti ini. " Jesica berusaha mengendong Junior dan menenangkan nya, tapi tak kunjung berhenti tangisan nya.


" Ya sudah beb, biar ku coba bawa Junior jalan jalan mana tau nanti Junior ngak rewel lagi, kamu makan saja sana, tadi aku sudah siap masak. " Tawar Nanda kepada Jesica.


" Ya beb, makasih ya beb, tolong kamu jagain Junior bentar yah, aku juga ngak tau aku kenapa, dari tadi aku sangat cemas, aku kepikiran sama Boy terus. " Kata Jesica sambil meremas ujung bajunya.

__ADS_1


" Kenapa tidak kamu hubungi saja. " Nanda memberi usul.


" Sudah dari tadi beb aku hubungi, cuma tak pernah di angkatnya, aku takut terjadi apa apa kepadanya." Jesica masih saja mondar mandir.


" Kamu bertenang saja dulu, ya sudah aku ajak Junior keluar dulu, mungkin Junior kepanasan di dalam sini. " Jesica mengangguk, dan Nanda pun keluar rumah mengajak Junior yang masih saja menangis.


Jesica bingung, tidak tau harus berbuat apa, kemudian berusaha menghubungi Boy lagi, tapi sekarang nomornya tidak aktif lagi, bisa jadi ponselnya sudah kehabisan daya.


***


Di kediaman Aditya , mereka kedatangan beberapa pria bertampang preman, setelah mereka berhenti di halaman Mension Aditya, mereka pun mengeluarkan Boy dari dalam mobil mereka.


" Bagus bawa dia ke kamarnya, " Perintah Aditya.


Setelah Boy diantarkan kekamarnya, Aditya pun menyerahkan amplop yang cukup tebal untuk mereka.


Mereka menyeringai, setelah itu berlalu pergi, merekapun meninggalkan kediaman Aditya.


Julia menghampiri anak nya, dan menangisi ke adaan anaknya.


" Papi, kenapa ke adaan Boy seperti ini? apa yang telah papi lakukan kepada nya?" Tanya Julia kepada mertuanya.


Aditya keluar dari kamar Boy, dan ditahan oleh Zaki.


" Pi, ini sudah berlebihan, sudah cukup papi mengatur semuanya, biar lah Boy mencari kebahagian nya sendiri pi, aku mohon. " kata Zaki meminta kemurahan hati papinya.


" Ck, tidak bisa, dia harus tetap menikah dengan Silvia, itu akan baik untuk kita semuanya. " Kata Aditya tegas.


" Kebaikan kita semua? atau kebaikan untuk papi sendiri? ." kata Zaki sengaja menyindir.


" Tutup mulutmu! jika kamu masih mau aku anggap anak, jangan membantah, paham. " Aditya pun berlalu meninggal kan Zaki yang masih mematung, tidak percaya dengan apa di katakan orang tua nya barusan.


Tak lama dia pun menyusul melihat keadaan Boy.


" Mas, lihat kelakuan papimu, begitu teganya nya dia kepada putra kita, apa tidak ada rasa kasihan nya kepada cucunya sendiri, Ck, kalau bukan karna hartanya, dan juga karna hak Boy anak kita, aku tidak sudi menginjak kan kaki ketempat ini, dari dulu dia tidak pernah berubah, keterlaluan. " Julia mengutuk perbuatan mertuanya.

__ADS_1


" Sudah lah, apakah kamu sudah menghubungi dokter?" tanya Zaki.


" Sudah".


Benar saja tak lama kemudian, dokter pun datang, dan memeriksa ke adaan Boy.


" Bagaimana keadaan anak saya dok? " tanya Julia.


" Dia tidak apa apa, ini ada resep obat pereda nyeri untuk nya di usahakan di minum setiap hari. " kata dokter.


" Baiklah dok, makasih. " Dokter pun keluar.


Tak lama Boy pun sadar.


" Aw, kenapa aku ada dirumah, " tanya Boy sambil mengusap ngusap pipi nya yang terasa sakit akibat di hajar beberapa preman tadi.


" Kamu istirahat saja nak, kamu masih sakit. " tapi kemudian Boy teringat dengan tujuan nya mencari Jesica, Boy berhamburan dari tempat tidur dan tidak menghiraukan orang tuanya.


" Boy kamu mau kemana? " tanya Zaki.


" Maaf pi, aku harus pergi, " Baru saja hendak keluar Boy dihalangi empat orang pengawal yang serba berpakaian hitam, yang berjaga di depan pintu kamar Boy.


" Apa apaan kalian, minggir. " perintah Boy.


" Maaf tuan, ini perintah dari tuan besar, agar kami tidak membiarkan tuan keluar dari kamar ini." kata salah satu pengawal.


" Ck, omong kosong, minggir. " Boy pun menyosor dan menghantam semua pengawal tersebut, tapi sayang gagal karna Boy kalah tenaga.


Kemudian Julia dan Zaki keluar dari kamar Boy.


" Lepas kan anak saya. " kata Julia.


" Maaf nyonya , saya hanya menjalan kan perintah, " kemudian mereka mengunci Boy di dalam kamar nya.


Julia dan Zaki tidak bisa berbuat apa apa, karna pengawal itu sangat kuat.

__ADS_1


Di dalam kamar Boy berusaha mencari cara untuk bisa melarikan diri, tapi sayang kamar nya di lantai dua, jendela nya juga sudah di kunci permanen jadi sangat sulit bagi Boy untuk melarikan diri.


Boy sangat frustasi karna menjadi tawanan di dalam rumah nya sendiri.


__ADS_2