Musuh Kecilku Adalah Jodohku

Musuh Kecilku Adalah Jodohku
Mencari Jejak Boy


__ADS_3

" Dia dimana? katakan lah Dio. " Nanda memaksa.


" Dia di Singapura, menjalani perawatan , karna Boy sampai sekarang masih belum sadar dari komanya. " kata Dio menjelaskan.


" Apa? benarkah, Sekarang kita harus bagaimana? apa yang harus kita lakukan?, apa perlu kita kesana, untuk menjenguknya. " Dio hanya tersenyum sumbing mendengar perkataan Nanda.


" Maaf aku tidak bisa membantu, mereka sangat banyak meninggalkan tugas untuk ku, jika kamu mau kesana pergi lah sendiri, aku juga tidak tau, dia dirawat dirumah sakit yang mana? di sana kan sangat luas, tidak mungkin kamu datangin satu satu. " sindir Dio.


" Yee bilang dari tadi kek kalau ngak tau, dasar asisten tak berguna. " sindir balik si Nanda.


" Apa kamu bilang, tak berguna? sudah bosan hidup kamu, " Dio pun berencana melempar sendal jepitnya kepada Nanda.


Tiba tiba tante tante tadi datang lagi.


" kalian sedang apa?" tanya tante itu garang.


" Eh mama ngak ada kok ma, ini teman aku si si a pa nama kamu tadi? " Dio sempat lupa nama Nanda.


" Nanda".


" Yah si Nanda mama, " kata Dio.


" Teman apa teman? ingat ya Dio kamu jangan sembarangan bawa perempuan kesini, yang belum tentu asal usulnya. " kata Tante itu judes.


" Nih emak emak, judes juga ya, rasa ingin ku sumpal mulutnya pake sandal jepit, parah banget sindiran nya. " kata Nanda dalam hati.


" Eh ngak mama, Nanda cuma mau jengukkin aku , bentar lagi pulang kok ,ya kan Nanda. " Dio berusaha mengode Nanda supaya mau mengikuti nya keluar.


"Ya tante saya permisi dulu. " sambil membungkuk rendah, setelah itu Nanda keluar mengikuti Dio.


Setelah di luar.


" Idih emak kamu garang juga ya, jadi takut aku melihatnya, apes banget kamu jadi anak nya. " kata Nanda.


" Emang. " jawab Dio singkat.


" Laaaah benar kah? haha. " Nanda menertawakan nasib Dio.

__ADS_1


" Ck, itulah, dari dulu aku tak pernah pacaran, setiap ku ajak perempuan kerumah, selalu kena selidiki oleh mama ku, apes apes, mereka jadi takut sama mama ku. " Dio hanya menunduk.


" Hahaha, jaman sekarang masih saja ada ya orang tua kayak gitu, aneh sumpah hahaha. " Nanda berusaha menahan tawanya tapi tak kunjung bisa.


" Memang nya orang tua kamu gimana? memang nya tidak seperti itu?" tiba tiba Nanda terdiam lalu menunduk, mata nya mulai berkaca kaca.


" Lah kamu kenapa kok jadi murung begitu? memang nya ada yang salah sama pertanyaan ku?. " Dio pun jadi salah tingkah.


" Maaf , kedua orang tuaku tidak ada lagi, mereka sudah pergi ke alam sana. " Tak terasa Nanda menitikkan air mata, lalu Dio meraih tangan Nanda.


" Maafkan aku, aku tidak tau, aku tidak bermaksud ingin menyinggung mu. " kata Dio tulus.


" Ah tidak apa apa, ini nomor telpon ku, jika ada informasi tentang Boy tolong hubungi aku, aku sangat kasian kepada Jesica, dia sangat mencemaskan Boy. " kata Nanda sambil melepaskan tangan Dio dan meraih ponselnya.


" Baiklah, " mereka pun saling bertukar nomor telpon.


Setelah itu Nanda berpamitan kepada Dio.


***


" Jesica, Jesica kenapa kamu selalu melamun seperti itu, nanti cantik kamu pudar, sini aku peluk kamu, aku janji Akan memberi kehangatan untukmu sayang. " goda Denian, ayah tiri Jesica, sambil meraih tangan Jesica.


" Denian, bisa tidak ,jangan mengganggu ku, sadar diri kamu itu sudah jadi bapak tiri ku, jangan genitlah, Ibuuuuun, liat si Denian ganggu aku lagi. " Tak lama Sarah menghampiri Jesica, dan benar saja, Denian mencoba merayu Jesica.


" Denian, apa kamu ,mau aku hukum lagi ah, sini kamu. " Sarah menjewer telinga Denian dan membawanya ke dapur.


" Sekarang kamu cuciin semua piring ini, ini hukuman buat kamu, kenapa sih kamu tidak sadar diri juga, dia itu anak mu sekarang, jadi jangan genit kepadanya, dan tolong hargain aku, aku sudah capek capek kerja di luar, kamu hanya dirumah saja, tapi kamu masih saja main gila, sama anak tiri kamu pula tu, pokok nya kamu, aku hukum. " kata Sarah kepada Denian.


" Sayang, Siapa sih yang genit, ngak ada kok, aku cuma kasian sama anak kita, aku cuma mau menghiburnya, gitu saja kok. " kata Denian membela diri.


" Sudah sudah jangan banyak alasan, cepat kerjakan tugas kamu, siap cuci piring, setelah itu nyapu dan ngepel, jangan cuma bisa menggodain saja, kerja dong. " kata Sarah tegas.


" Iya iya, sayang aku akan cucuin semua ini puas, tega sekali punya bini. " kata Denian pura pura merajuk, tapi Sarah tak peduli.


Sarah pun meninggalkan Denian.


" Awas kamu Jesica, berani beraninya kamu mengadu kelakuan ku kepada Ibumu, suatu saat aku akan mengerjaimu, biar kamu tau rasa. " kata Denian dalam Hati.

__ADS_1


Sementara itu.


" Icah sudah lah Icah, kalau terus kamu seperti ini, nanti kamu sakit, Ibun ngak mau kamu sakit. " kata Sarah.


" Ibun, Icah ngak apa apa kok, aku hanya kecapek an saja bun, " kata Jesica berusaha tegar.


" Benarkah? apa kamu sudah makan? " tanya Sarah.


" Belum bun, " jawab Jesica jujur.


" Ya sudah kita makan di luar yuk, jangan lupa ajak Nanda. " kata Sarah memberi usul.


" Baiklah. " tak lama mereka berangkat, mereka juga tidak lupa membawa Junior kecil.


Di perjalanan Jesica memandangi wajah Junior, wajahnya sangat mirip dengan Boy, ada sedikit rasa rindu yang terobati sambil memandang wajah Junior, kemudian Jesica memeluk nya erat erat.


Tak lama mereka pun sampai di suatu tempat makan di pinggir kota, pemandangan nya sangat indah, jadi mereka betah berlama lama berada di sana.


Tak lama Nanda pun datang.


" Hai beb, Ibun, lama ya nunggunya, sebab tadi macet, maaf ya. " kata Nanda.


" Sudah ngak apa apa kok, o iya gimana? sudah dapat kabar dari Dio?" tanya Jesica.


" Sudah sih, tapi maaf, ternyata Boy sekarang ada di Singapura menjalani perawatan, kata Dio, Boy masih koma. " kata Nanda pelan pelan, agar Jesica tidak syok.


" Apa? Boy masih koma. " tak terasa mata Jesica berkaca kaca.


" Yang sabar sayang, Boy baik baik saja kok. " Sarah menenangkan anak nya.


" Ya bun aku tidak apa apa, apa kamu tau Boy dirawat dimana? " tanya Jesica.


" Maaf Beb, aku sudah berusaha mencari tau, tapi sayang nihil, dan Diopun tidak tau tepatnya di mana Boy di rawat, karna mereka pergi sebelum Dio sembuh total, dan Dio hanya tau, Boy di pindahkan ke Singapura, itu saja. " kata Nanda menjelaskan.


Jesica hanya menunduk dan pasrah, rasanya ingin sekali Jesica menyusulnya, tapi dia juga tidak ingin nanti menambah masalah lagi.


Jesica bertambah bingung, tidak tau harus berbuat apa lagi, apakah dia harus berusaha melupakan Boy, atau berusaha menunggunya, Jesica sangat bimbang.

__ADS_1


__ADS_2