
Ke esok kan hari nya dengan ragu Boy membawa Jesica dan Junior ke dalam Mansion kakek Aditya, sejenak Boy menatap istri dan anak nya.
" Jangan kuatir, aku tidak apa apa kok, bagaimana pun ke adaan di dalam nanti aku pasti kuat kok, dan aku yakin mereka tak akan menyakiti Junior karna Junior kan cucu kandung mereka. "Kata Jesica menyakin kan Boy padahal Jesica sangat ragu.
" Tapi aku sangat takut mereka menyakiti mu dan Junior, aku tidak rela kamu dan Junior kenapa napa. " kata Boy sambil bertampang sedih.
" Sudah sudah, mari kita masuk, tidak baik berburuk sangka. " Kata Jesica menepuk nepuk bahu Boy.
Kemudian mereka melangkah masuk ke dalam Mansion Kakek Aditya, tidak ada sambutan dari kakek mau pun maminya, papinya pun sedang di luar kota, jadi tak se orang pun memperlihatkan batang hidung nya.
" Papi! kok sepi, semua orang kok tidak ada, kata nya di rumah ini ada oma, opa dan kakek eyang, kok ngak ada sih, sepi banget, terus aku main sama siapa dong pi? " Kata Junior, sontak Jesica dan Boy bersedih.
" Oh mungkin semua pada sibuk sayang, nanti kalau mereka tidak sibuk lagi, kamu bisa bermain dengan mereka. " Jesica berusaha menghibur anak nya, dan Boy juga ikut menghibur Junior.
Tak lama ART datang menyambut mereka, dan mengantar mereka ke kamar mereka, dan ternyata untuk Junior juga sudah di sediakan kamar di samping kamar orang tua nya.
Boy dan Jesica terperangah, dan tidak menyangka, ternyata kamar untuk Junior telah di dekor sangat indah sesuai karakter Bobo*** kesukaan Junior.
" Wah mi, papi kamarnya bagus banget aku sangat suka sekali, aku senang sekali. " Kata Junior sambil kegirangan melompat lompat di atas kasur.
__ADS_1
Tak lama kemudian telpon Boy berbunyi, tenyata di seberang Zaki menghubungi Boy.
" Hallo pi. "
" Hallo Boy, Gimana Junior suka tidak dengan kamar nya. " Tanya Zaki di seberang telpon.
" Sangat senang pi, jadi semua ini dari papi? makasih banyak pi, Junior sangat senang dengan kamar nya. " Kata Boy kegirangan.
" Ah Biasa saja, Junior kan cucu papi, papi ingin yang terbaik untuk cucu papi, hehe. " Zaki sangat senang mendengar bahwa cucunya sangat menyukai kejutan darinya.
Setelah mengobrol banyak dengan Boy, Junior maupun dengan Jesica melalui via telpon, sampai akhirnya mengakhiri sambungan telpon dan berjanji berusaha cepat pulang untuk menemui cucunya.
Setelah memastikan Junior nyaman dengan kamar dan juga mainan baru nya, Boy membawa Jesica ke kamar nya.
Tapi Boy hanya tersenyum kecut, dia tidak yakin, karna dia paham betul sifat asli kakek dan maminya, tapi dia tidak ingin menakut nakuti Jesica dengan ke adaan keluarganya.
Mereka pun memilih berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain.
***
__ADS_1
Pada malam harinya, mereka pun makan malam, tapi hanya mereka bertiga yang ada di meja makan tersebut, dan tak beberapa lama Julia datang entah dari mana, yang jelas dia dari luar dan tampa kabar.
" Mi ayuk kita makan. " Julia pun menghentikan langkahnya karna Boy mengajaknya makan bersama.
" Mami sudah kenyang. " Kata Julia sangat acuh, lalu melangkah pergi menuju kamar nya, tampa memperdulikan kehadiran Jesica dan juga Junior.
" Maaafkan mami aku ya, dia memang begitu. " kata Boy sambil menggenggam tangan Jesica.
" Tidak apa apa kok, " kata Jesica.
Setelah makan Jesica pun membereskan piring kotor, karna ingin merapikan nya sendiri, sempat tadi ART ingin membantunya tapi Jesica menolaknya dengan lembut.
Sedang asik menyuci piring, Jesica di hampiri Julia.
" Punya nyali juga kamu masuk kesini, saya mau liat, sampai kapan kamu bisa bertahan di sini dengan aturan dari kakek Aditya, dan kamu jangan senang dulu, ini baru permulaan, kamu siap siap saja, permainan baru saja di mulai. " Kata Julia dengan senyum sinisnya.
Jesica sangat kaget, dan susah payah menelan air ludah nya mendengar tuturan kata dari mertua barunya.
Dengan gaya angkuh Julia meninggalkan Jesica yang masih kebingungan.
__ADS_1
Setelah kepergian Julia, Jesica menghembuskan nafas nya pelan, dan berusaha menenangkan fikirannya.
Dia tidak tau apa yang terjadi ke depan nya, setidak nya dia telah bersiap menghadapinya semua.