Musuh Kecilku Adalah Jodohku

Musuh Kecilku Adalah Jodohku
Tidak Berharga


__ADS_3

Ke esokan harinya Boy berangkat kerja dan Junior juga akan pergi ke sekolah, Jesica mengantarkan mereka sampai kehalaman.


Tak beberapa lama kemudian Boy pun melajukan kuda besi nya menjauhi kediaman kakek Aditya, dan kini tinggal lah Jesica seorang diri.


Hari ini Jesica tidak ada kegiatan, setelah menikah dengan Boy, Jesica di larang oleh Boy untuk bekerja, hal hasil sekarang cafe milik Jesica sepenuhnya di percaya kan kepada Nanda sahabat terbaiknya.


Untuk menghilangkan bosan Jesica berniat untuk menyiram tanaman yang berada di halaman kediaman kakek Aditya.


Sedang asik menyiram bunga bunga, sebuah pot bunga yang berukuran besar berguling mengarah kepada Jesica, karna kurang keseimbangan Jesica ikut terguling bersama dengan pot bunga yang berukuran besar, hampir seukuran tubuhnya.


Bersamaan itu pot bunga yang antik itupun pecah dan juga melukai Jesica.


" Awh sakit sekali, " Jesica melihat telapak tangan nya penuh dengan darah.


Jesica berusaha berdiri, tiba tiba sosok tinggi tegap menghampirinya dengan sorotan tajam dan sangat marah.


" Ck, pot itu lebih berharga dari dirimu, seharusnya yang hancur itu adalah kamu, " Kata kakek Aditya begitu pedasnya, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Jesica.

__ADS_1


Jesica pun terhisak, begitu sangat bencinya Kakek Aditya kepada nya, sehingga kakek Aditya menilai bahwa pot yang antik itu lebih berharga dari dirinya, sehingga membuat hati Jesica hancur, mestipun ini pertama kali nya Jesica berhadapan langsung dengan kakek Aditya, tapi sungguh sukses membuat hati Jesica sakit begitu dalam dengan ucapan nya.


" Haha, saya rasa itu sangat sakitkan, saya jadi penasaran berapa lama kamu akan betah tinggal disini perempuan yang tidak malu seperti dirimu, " Kata Julia tiba tiba menghampiri Jesica.


" Tante, eh maksud aku mami, maksud mami apa? apa yang mami lakukan kepada ku, salah ku apa? " Kata Jesica dengan mata berkaca kaca, Julia pun berkerut kening.


" Saya lakukan? memang apa yang saya lakukan? saya rasa saya tidak melakukan apa apa terhadap mu, ck ck ck perempuan aneh. " kata Julia melangkah hendak pergi menjauhi Jesica.


" Jangan perpura tante, maksudku mami, aku melihat mami mendorong pot besar itu, sehingga aku terhantam benda tersebut. "


Julia jadi salah tingkah, sambil menghentikan langkahnya, berbalik dan menatap tajam ke arah Jesica.


" Maksud kamu apa? "


Jesica pun tersenyum sinis.


" Sudahlah mi, aku bukan bocah ingusan yang harus bertele tele menjelaskan kepada mami, jujur saja mami kan yang mendorong pot besar itu?" kata Jesica sambil mengusap pipinya yang basah karna air mata.

__ADS_1


" Ck ck kamu mencoba menuduh saya? punya bukti apa kamu ah? " kata Julia melotot tajam kepada Jesica.


" Mami, mami aku tidak perlu bukti untuk menangkap basah orang yang tega teganya ingin mencelaka kan menantunya sendiri, sudah lah mi, jika mami tidak menyukai ku, lanjutkan, aku sudah siap dengan resiko nya, " kata Jesica dengan berani menatap tajam ibu mertua nya itu, tak lama setelah itu Jesica melangkah menjauhi mertuanya tersebut.


Julia terperangah dengan tindakan Jesica, dia tidak menyangka Jesica berani menentang nya.


Dengan tampang kesal Julia pun pergi menaiki mobil, pergi entah kemana.


Setiba nya di dalam kamar Jesica berusaha membersihkan telapak tangan kirinya yang terluka karna pecahan pot bunga tadi.


" Mmmh, Mami mami, boleh saja kamu perlakukan aku tidak adil di rumah ini, yang jelas aku tidak akan menyerah demi ke utuhan keluarga kecilku, aku tidak akan pergi dari rumah ini, sampai aku mendapatkan sesuatu yang selama ini yang sangat rahasia di antara keluarga ini dengan keluargaku. " Kata Jesica tersenyum sinis membayangkan yang terjadi tadi.


Jesica sangat yakin tadi memang Julia sengaja ingin mencelakainya, setelah benda itu berguling ke arah Jesica, Jesica melihat sangat jelas Julia berlari sambil sembunyi sembunyi.


Lagi lagi Jesica tersenyum sinis membayangkan kelakuan mertua nya tersebut, yang jelas Julia ingin Jesica celaka dan juga di marahi oleh Kakek Aditya.


Setelah membersihkan lukanya, Jesica pun merebahkan tubuhnya, karna merasakan kepala nya begitu berat, mungkin karna tadi kepala nya juga sedikit terbentur ke tembok, tak lama kemudian Jesica pun terlelap di atas ranjang nya.

__ADS_1


__ADS_2