
"Kenapa sih gue harus ketemu ama lo?". Tasya melipat kedua tangannya ketika melihat Davi, cowok yang paling ia benci di dunia.
"Lo pikir gue mau ketemu ama lo?". Davi bertanya balik dengan muka garang.
"Heh, gue udah enek ya liat muka lo!".
"Lo pikir gue kaga enek?!".
"Dasar item!".
"Lo yang item!".
"Gendut!".
"Krempeng!".
"Tiang listrik!".
"Pendek!".
Hal seperti ini sudah menjadi pemandangan setiap hari universitas xx yang tak menjadi rumor lagi.
Tasya Dharmayanti dan Davi Wijaya, keduanya adalah musuh abadi yang selalu bertengkar setiap waktu bak tom and jerry.
Para dosen sudah pusing dengan keduanya, jadi mereka tidak peduli lagi. Sedangkan para siswa tidak mempedulikan itu.
Tapi, banyak yang tidak suka dengan mereka yang seakan semakin dekat.
"Huh, kenapa cobak gue harus kenal dia?". Tasya menggerutu.
"Dia cakep lho". Ucap Adel.
"Gue kaga peduli dia cakep ataupun enggak. dia tuh ngeselin, del!!".
"Tapi banyak yang suka ama dia, gue salah satunya hehe".
Tasya menyentil kening Adel hingga si empunya meringis.
__ADS_1
"Kenapa lo bisa suka ama dia? Bagusnya apa coba?". tanya Tasya.
"Denger ya, dia itu ganteng, putih, pinter, tinggi, jago basket, jago masak, ramah lagi, suami idaman banget deh".
Tasya ingin muntah mendengarnya. "Enek gue dengernya. orang kaya dia disebut suami idaman".
"Heh, awas aja kalau lo nanti jadi istrinya!"
"Idih, amit-amit!".
JEDAAARRR!!
Petir menyambar membuat Tasya dan Adel terkejut.
"Kayaknya udah mau ujan, gue pulang duluan ya". Kata Tasya lalu pergi.
Adel tersenyum kecil. "Moga mereka nikah".
***
"Tasya, kamu udah pulang".
"Mama udah pulang?". Tasya tersenyum senang.
"Iya, Mama bawa banyak oleh-oleh". Balas Bu Dewi.
"Mana, Ma?". Tanya Tasya.
Bu Dewi sontak mencubit pipi putrinya. "Mama pulang, kamu bukannya nanyain kabar dulu malah nanya oleh-oleh".
"Ih, kan udah jelas kondisi mama". Tasya cemberut.
"Ama kakak nggak kangen?".
Tasya tersenyum senang mendapati kakak laki-lakinya ada didepannya.
"Kak Deva!!". Tasya berlari dan memeluk Deva yang siap menangkapnya dan menggendongnya seperti koala.
__ADS_1
"Kok kakak nggak bilang kalau kakak pulang hari ini?". tanya Tasya.
Deva dan Ibu Dewi memang pindah ke Jerman 3 tahun yang lalu karena ada urusan bisnis. Sekalian Deva bersekolah disana dan sekarang sudah lulus dan resmi menjadi seorang dosen.
"Biar jadi kejutan dong". Balas Deva.
"Kamu makin cantik aja". Kata Deva membuat Tasya malu.
"Kakak kan tau, Tasya emang cantik dari dulu". Balas Tasya.
"Kepedean kamu, kakak mau bilang kamu 0.1% lebih cantik dari dulu".
Tasya cemberut. "Kakak jahat!!".
Deva terkekeh. "Iya, iya, kamu cantik..".
"Heh, udah reuninya. ayo makan dulu, mama udah masak banyak". kata Bu Dewi.
Ketiganya lalu menuju meja makan, dimana Pak Leon, ayah Tasya dan Deva sudah duduk manis menunggu keluarganya.
"Papa kok nggak bilang kalau Mama ama Kak Deva pulang hari ini?". Tanya Tasya.
"Papa juga nggak tau kok". Balas Pak Leon asal.
"Udah, udah, ayo makan".
Bu Dewi menghidangkan makanan untuk suami dan anak-anaknya. lalu mereka makan sambil sesekali bercerita.
"Oh ya, hari ini papa ada pertemuan ama temen lama papa. papa pengen kalian pake pakaian rapi. terutama kamu, Tasya..". Kata Pak Leon.
"Papa tenang aja, Tasya nggak bakalan malu-maluin kok". balas Tasya.
"Kakak nggak percaya". balas Deva.
"Kak Deva!!!".
****
__ADS_1
TBC