
Pagi harinya tasya dan davi tak saling bicara. keduanya bahkan tak saling menoleh atau menatap. mereka sama-sama keukeh pada pendirian mereka, tentang ana.
"ayo, makan rafa, aaa". tasya menyuapi bubur instan milik rafa. hari ini ia tak akan berangkat kuliah untuk menjaga rafa. ia sudah menitip absen kepada adel.
tasya bahkan tak memasak untuk davi. davi terpaksa makan diluar dengan uangnya sendiri.
"Pipi?". rafa heran karena melihat davi keluar dari rumah.
"Jangan peduliin dia ya, rafa sayang. tasya ada disini, nggak usah peduliin dia. dia jahat, dia nggak mau dengerin tasya". balas tasya.
rafa yang tak mengerti hanya terkekeh dan meminum susunya yang diberikan tasya kepadanya.
"minum yang banyak ya, biar cepet gede".
****
"silakan, den". bibi pedagang di kafetaria kampus memberikan sepiring nasi goreng pesanan davi.
"tumben aden pagi-pagi udah dateng". katanya.
"ya, bi. lagi kesel".
"kesel kanapa atuh? kesel ama neng tasya lagi?".
davi menatap tajam bibi pedagang yang membuat bibi langsung takut.
"iya deh, jangan natap bibi kaya gitu atuh, bibi takut". bibi pedagang kembali ke tempatnya.
__ADS_1
"yo, dav! tumben lo udah dateng jam segini". ucap rangga, sahabat davi yang merupakan seorang penulis.
"bete di rumah". jawab davi.
"oh, gue pikir lo kesel karena tasya. btw, kalau lo nggak mau ama dia, bagi wa nya dong buat gue". rangga menaik turunkan alisnya.
"bisa nggak jangan sebut nama dia di depan gue sekarang?". tanya davi dengan kesal. ia sangat tak suka mendengar nama tasya disebut, karena tasya sudah mengatakan sesuatu yang buruk tentang ana.
"Hm? emangnya kenapa sih? tasya kan cantik, kaya, nggak matre lagi. kan enak kalau bisa pacaran ama dia". kata rangga.
"gue bilang, jangan sebut nama dia didepan gue!". bentak davi membuat semua orang yang ada di cafetaria terkejut.
"aduh, nggak usah teriak kaya gitu juga kali! lo ngebuat semua orang ngeliat kesini!". kata rangga kesal.
davi yang sudah menghabiskan nasi gorengnya langsung berdiri dan meninggalkaj rangga yang kebingungan.
"tasya kan emang kaya gitu, dia ngiri karena gue pacaran ama ana. ya pasti lah dia memfitnah ana sampai kaya gitu". gumam davi.
davi pun sampai didepan pintu masuk kelas, tapi ketika ia hendak membuka pintu ia mendengar percakapan beberapa anak perempuan dari dalam sana. yang salah satunya sangat familiar baginya.
"davi beneran kesemsem ama lo, na?".
"ya lah". jawab ana.
"kok dia **** ya? mau aja dimanfaatin ama lo wkwkwk".
"ya lah, davi tuh emang ****. dia bakalan kabulin semua permintaan gue, karena bagi dia, cuma gue yang cocok bersanding dengan dia". jawab ana.
__ADS_1
"terus, kalau davi lama-lama bangkrut gimana?".
"ya gue tinggalin lah! masa gue tetep bertahan ama orang miskin. mikir dong!".
davi menggertakkan giginya kesal. ia tak menyangka ana akan setega ini kepadanya. padahal ia sudah benar-benar jatuh cinta.
"kalian mau gue beliin apa aja? ngomong aja, nanti gue beliin pake uangnya davi". kata ana dengan nada sombong. gadis itu menyeringai senang.
"bilang aja, gue bakal beliin kok".
ana dan teman-temannya langsung terkejut ketika mendengar suara davi. mereka lebih terkejut ketika melihat davi sudah bersandar di pintu dengan tatapan tajam kearah mereka.
"d..davi??".
"ana, gue nggak nyangka lo setega ini ke gue. tapi syukurlah, karena hal ini gue bisa memutuskan gue nggak bakalan deket-deket ama lo lagi". kata davi .
"d..dav, ini cuma salah paham".
"salah paham?". davi tersenyum remeh. "ana, mulai hari ini, gue nggak sudi ngeliat muka jlng lo lagi. bye!".
davi pun pergi meninggalkan ana yang berteriak kencang kearahnya. ia kembali ke parkiran untuk pulang ke rumahnya.
"Sialan!".
****
TBC
__ADS_1