Musuhku, Suamiku

Musuhku, Suamiku
Chapter 31


__ADS_3

"Adel". Tasya memanggil gadis berambut pendek yang tengah menulis.


Adel menoleh, tapi ketika mengetahui itu Tasya ia langsung mengalihkan pandangannya lagi. Adel masih marah pada Tasya karena kejadian kemarin.


"Ulululu, ngambek nih yaa?".


Tasya mendekat dan memeluk Adel dari belakang.


"Ngapain lo sok ngedeketin gue?". Tanya Adel.


"Jangan marah dong, Del. Gue kan emosian kemarin. Soalnya gue...".


"PMS, ya kan?".


Tasya tersenyum dan mengangguk. "Kok lo tau sih, Del?".


"Tau lah, tanggal segini tuh lo biasanya dapet. Gue mah hapal lo tanggal berapa dapetnya". Jawab Adel.


"Lo emang sahabat gue deh, Del".


"Udah, gak usah ngegodain gue. Gue nggak bakalan mau maafin lo soal yang kemarin".


Tasya mengerucutkan bibirnya. Ia tau Adel bercanda, karena Adel tak akan bisa marah kepadanya lebih dari sehari.


"Bener nih? Padahal gue udah buatin lo nasgor lhoo".


Adel langsung menoleh. "Mana?!".


"Heleh, soal makanan mah lo nomor satunya!". Tasya membuka tas nya dan mengeluarkan kotak makan yang ia bawa.


"Nih".


Adel menerimanya dengan senang hati dan membukanya. Nasi goreng dengan telur mata sapi favoritnya ada disana.


"Uhhh, gak sabar pengen makan". Kata Adel.

__ADS_1


"Lho, udah baikan?".


Adel berhenti tersenyum ketika Fahri datang dan duduk di depan mereka.


"Iya, hehe". Tasya menjawab.


"Widih, nasgor. Siapa yang buat?". Tanya Fahri.


"Tasya". Jawab Adel ketus.


Fahri hanya tersenyum kecil menanggapinya. "Lo bisa masak? Kenapa nggak buatin gue juga?".


"Ini".


"Emang lo siapanya?". Adel bertanya.


"Adel, udah ah!". Tasya berusaha menenangkan Adel.


Tasya kemudian menatap Fahri yang masih tersenyum. "Maafin Adel ya, dia lagi PMS. Gue juga buatin lo nasi goreng kok".


"Iya, gapapa kok. Lagian, wajar aja kalau cewek PMS marah-marah. Dulu mantan gue juga suka marah-marah waktu PMS. Btw, makasih ya nasi gorengnya". Jawab Fahri.


Tasya dan Fahri pun larut dalam obrolan mereka, sementara Adel terus menatap tak suka kearah Fahri.


Adel bergumam. "Gue nggak suka dia".


****


"Davi! Bilang ke Tasya gue juga sayang dia, ya!". Kata Rangga setelah Davi memberikannya sekotak nasi goreng. Rangga langsung tau itu masakan Tasya, karena kalau Davi yang memasak tidak akan berbau seperti itu.


"Heh, lo kebanyakan ngarep tau nggak? Dia udah deket ama orang lain! Bukan cuma lo yang dibuatin, gue, Adel, ama satu lagi buat cowok yang lagi dia taksir". Jawab Davi.


Rangga sontak cemberut. "Yaaahh, gue pikir cuma gue yang dibuatin. Eh tapi, kok lo biasa aja ya?".


"Biasa aja gimana?". Davi jadi heran.

__ADS_1


"Ya, lo nggak risih gitu?".


"Buat apa gue risih?".


"Maksud gue. Si Tasya kan bini lo, tapi dia sukanya ama orang lain. Malah terang-terangan ngejar orang lain didepan elo. Lo nggak cemburu gitu? Atau lo marah?".


"Buat apa gue cemburu? Gue nggak ada rasa tuh ama dia! Inget ya, meskipun gue ama dia udah nikah, tapi gue ama dia tetep musuh. Kita itu bagaikan air dan minyak, tidak akan pernah bersatu".


"Lo yakin? Tasya cakep lho".


"Cakepan juga para mantan gue".


"Najis!". Rangga bergidik, mengingat para mantan Davi yang mirip seperti jablay. "Eh, kalau lo emang nggak mau ama Tasya, dia buat gue aja ya".


"Nggak boleh!". Jawab Davi.


"Lah, emang kenapa?".


"Karena dia nggak bakalan nerima elo, lo kan jelek. Jadi percuma aja".


"Syalan lo!". Umpat Rangga.


"Halo".


Davi dan Rangga sontak menoleh kearah seorang gadis yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.


"Ini beneran jurusan bisnis kan?". Tanyanya.


"Iya". Jawab Rangga dengan semangat.


"Oh ya, kenalin, nama aku Mika". Gadis itu mengulurkan tangannya kearah Davi.


Davi tersenyum kecil. "Davi".


****

__ADS_1


TBC


__ADS_2