
Tasya sudah siap dengan gaun selutut berwarna biru bercorak bintang hitam miliknya. ia membentuk rambutnya menjadi cepol hingga terlihat elegan.
Bu Dewi menggunakan gaun hitam elegan dengan rambut dikepang satu. lipstik merah selalu menjadi favorit nya.
Deva siap dengan setelan kemeja putih dan jas biru miliknya. ia juga merapikan dasi kupu-kupu berwarna merah miliknya.
Pak Leon siap dengan setelan jas hitamnya seperti biasa. terlihat elegan dengan kumis tipis yang selalu lupa ia kuris.
"Papa lupa kuris kumis lagi kan?". Bu Dewi bertanya agak kesal.
"Papa nggak ada waktu, Ma". Jawab Pak Leon asal. padahal ia punya banyak waktu.
"Papa bohong, Ma. waktu Papa banyak, tapi emang Papanya aja yang males". Balas Tasya yang membuat Pak Leon mendelik kesal.
"Sttt!!". Pak Leon menempelkan jari telunjuknya didepan bibirnya. "Jaga rahasia".
"Oh, jadi Papa bohongin Mama". Bu Dewi melipat kedua tangannya. menatap garang kearah suaminya.
"Papa kan cuma bercanda, Ma". balas Pak Leon, mulai merasakan sesuatu yang tidak enak.
"Papa nggak dapet jatah sebulan!".
Tasya dan Deva terkekeh melihat Papa mereka langsung lemas setelah mendengar keputusan mutlak si istri.
"Aduh, Papa ama Mama jangan berantem mulu. Udah ditungguin tuh". Ucap Deva.
Keempatnya lalu menuju sebuah restaurant mewah yang telah disewa untuk makan malam pribadi dua keluarga.
"Pa, emang yang mau makan malam ama kita siapa?". tanya Tasya.
"Om Alex". balas Pak Leon.
__ADS_1
"Ohhh". Tasya mengangguk.
Tak lama kemudian datanglah sepasang suami istri yang mengenakan pakaian formal.
Pak Alex menjabat tangan Pak Leon dan duduk.
"Maaf lama, tadi macet". Kata Pak Alex tanpa formal.
"Gapapa, kita belum lama kok". balas Bu Dewi.
"Mm.. Davi mana?". Tanya Bu Dewi lagi.
Tasya yang seperti mengenal nama itu menjamkan telinganya.
"Davi telat, soalnya tadi ia habis latihan basket. maklum, dia kan mau lomba". jawab Bu Ina.
"Ohhh, yaudah gapapa, namanya juga anak remaja. banyak aktivitasnya". balas Bu Dewi
Tasya tersenyum kikuk. Ia tak mengerti.
"Maaf tel..".
"Lo?!".
"Kok lo bisa ada disini?!".
Pak Alex menoleh kearah Davi dan Tasya bergantian. Keduanya menatap tak percaya dan terkejut.
"Oh, jadi kalian udah saling kenal, baguslah. kalian temen?". Tanya Bu Ina.
"Enggak!". Tasya dan Davi menjawab bersamaan. "Kita musuh!".
__ADS_1
"Hahahaha, kalian bercandanya bisa aja". Balas Bu Dewi.
"Mama, aku nggak bercanda. Dia ini Davi, yang sering aku ceritain itu lho, yang aku benci banget!! yang ngeselin!". Balas Tasya.
"Oh, jadi Davi yang ini? kamu harusnya nggak ngejek dia sayang, dia ini baik banget".
"Mama!".
"Bunda, kenapa dia bisa disini?". Tanya Davi.
"Dav, dia ini anak temen bunda". Balas Bu Ina.
"Udah, ayo duduk. Davi, Tasya, tenang ya". Pak Leon berucap karena kembali merasakan aura mengerikkan dari Bu Dewi.
Keduanya terpaksa tenang, meski sesekali terus mengadu pandang dan menatap tajam satu sama lain.
"Nah, ayo makan". Ucap Bu Ina halus.
Mereka menikmati hidangan dengan tenang tanpa ada suara yang keluar dari mulut. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
"Papa, tolong jelasin semua ini!". Kata Tasya karena merasa kesal.
"Sabar, Tas. nanti Papa jelasin kok". Balas Pak Leon.
"Ihhh!! Papa gimana sih?". Tasya cemberut.
"Ayah..". Davi menoleh kearah si ayah. "Sebenarnya ini ada apa?".
"Jadi gini..". Pak Alex menarik nafas. "Kalian bakalan kami jodohkan".
"HAH?!!!".
__ADS_1