
"gue ke kelas". kata davi setelah mengantar tasya sampai di kelasnya.
"yaudah sana!". balas tasya lalu masuk kedalam kelas.
sampai di kelas, semua mahasiswa menatap tasya dengan heran. bahkan ada yang sampai menganga dengan mulut lebar, salah satunya adalah adel.
gadis itu heran dengan tasya. seingatnya, tasya dan davi selalu bertengkar setiap saat, tak mau berdekatan, apalagi saling mengantar ke kelas. tapi pagi ini..
apakah kepala mereka terbentur?
"kenapa lo?". tanya tasya sambil duduk di sebelah adel.
"tasya, lo kok makin deket ama davi ya?". tanya adel.
"masa sih?". tanya tasya heran. "biasa aja kok, kita masih berantem kaya dulu".
tasya tidak bohong. tadi pagi ia dan davi memang bertengkar karena memperebutkan telur mata sapi yang sama-sama menjadi favorit mereka. karena tadi telur hanya tersisa satu, jadi mereka hanya bisa membuat satu. terjadi lah perang lahir batin, disertai kata-kata mutiara yang saling dilempar karena hal itu.
"terus kenapa dia nganterin lo ke kelas?". tanya adel.
"o..oh..itu..". tasya mulai gelagapan. ia lupa, jika satu kampus, termasuk adel belum mengetahui ia dan davi sudah menikah dan resmi menjadi sepasang suami istri.
"itu tadi gue ama davi papasan, jadi sekalian jalan aja". kata tasya.
"terus kenapa dia bilang, "gue ke kelas", seakan dia baru aja nganter lo?". adel memincingkan matanya, karena tasya semakin mencurigakan.
"o..oh itu.. soalnya..emm..".
__ADS_1
"pagi semuanya". untunglah dosen yang mengajar datang lebih cepat. tasya menghela nafas bahagia.
terimakasih pak dosen
****
"jadi ini yang namanya tasya?". tanya roby yang merupakan siswa tingkat akhir yang akan segera lulus. disebelahnya ada davi dan rangga yang menikmati makanan mereka.
"psstt, kenapa lo ajak dia kesini sih?". tanya davi.
"ohh, soalnya dia mau ketemu ama tasya". jawab rangga sambil menikmati baksonya.
"mau ngapain ketemu ama tasya? apalagi mukanya dia kaya demen banget ama tasya". kata davi.
"dia emang lagi nyari pacar, gue bilang aja primadona kita selain ana itu tasya, jadi dia kesini dan minta fotonya tasya, ya gue kasih lah". jawab rangga.
davi menepuk dahinya sendiri. "kenapa lo kasih??".
suaminya tahu! davi ingin berteriak seperti itu. ketika ia memperhatikan roby, sebenarnya pria itu cukup tampan. ia memiliki body yang bagus dan otot-ototnya terlihat. roby juga memiliki kumis tipis. kulitnya eksotis. sepertinya pria itu sangat suka olahraga di gim.
"gimana, kak?". tanya rangga.
"tipe gue banget". jawab roby. "tapi kapan dia ke sini? kok lama banget?".
"biasanya tasya ke sini bareng adel". jawab rangga karena tak menemukan tasya.
"7 detik lagi dia dateng". kata davi.
__ADS_1
"masa sih?". tanya rangga.
"7..6..5..4..3..2..1".
benar saja, setelah davi menghitung tasya muncul sambil menggandeng tangan adel yang sangat kelaparan.
"Kok lo bisa tau, dav?". tanya rangga.
"hah?". davi malah terkejut sendiri. "iya juga ya, kenapa gue bisa tau?".
"gblk!". balas rangga kesal.
roby pun langsung berjalan kearah tasya yang sudah memesan dua mangkuk bakso untuknya dan adel.
"halo". ucap roby dengan senyum ramahnya kepada tasya.
"h..halo". jawab tasya kikuk.
"tasya ya? cantik banget". roby mengambil tempat didepan tasya.
"iya". tasya tersenyum canggung. ia menatap adel yang tengah membeli es untuk mereka.
"udah punya pacar belum?". tanya roby.
"Huh?". tasya menggelengkan kepalanya. ia memang tak punya pacar, tapi suami punya. benar kan?.
"kalau gitu, gue minta nomor lo ya?".
__ADS_1
****
TBC