Musuhku, Suamiku

Musuhku, Suamiku
Chapter 8


__ADS_3

"Senyam-senyum mulu". Cibir Tasya ketika Davi terus memperhatikan ponselnya sambil tersenyum.


"Iyalah, namanya juga orang lagi jatuh cinta". balas Davi. "Makanya, lo cari pacar sana!".


"Heh, tanpa gue cari juga banyak kok yang nyamperin gue. kalau gue mau, gue bisa aja jadi playgirl, sayang banget gue nggak tegaan".


Davi tidak menjawab. ia terus mengetik sesuatu di layar ponselnya dan membuat Tasya tambah kesal.


"Nyetir woy!". Pekik Tasya.


"Lo aja". Davi melempar kunci mobil kepada tasya.


Tasya pun masuk kedalam mobil bagian setir dengan ogah-ogahan. Davi masuk dan duduk di sebelahnya. tapi Davi masih fokus mengirim pesan kepada Ana.


"Gue mau makan spagethi". kata Tasya.


"Haha..".


"Davi!".


"Apa sih?". Davi bertanya.


"Gue bilang, gue mau makan spagethi". Balas Tasya kesal.


"Yaudah sih, kalau gitu ke cafe aja".


"Oke". Tasya mengendarai dengan kesal. ia mengebut. kecepatan 120km/jam.


Davi yang merasa Tasya sedang mengebut langsung terkejut dan berpegangan. apalagi ketika Tasya dengan santainya menyerobot lampu merah hingga hampir kecelakaan.


beberapa kali juga, Tasya menyalip truk-truk besar yang sangat berbahaya jika disalip. Davi memekik. remaja itu terkejut karena Tasya sangat santai.


Tasya menyeringai. ia sangat bahagia mendengar suara pekikan ketakutan Davi.

__ADS_1


"Tasya!! hati-hati, lo mau gue mati hah?!". Tanya Davi.


"Kalau gitu ayo mati bareng!". Kata Tasya asal.


"Tasyaaa!!!".


Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah cafe kecil. Davi terenggah-enggah. ia mencoba mengatur nafasnya karena masih shock dengan ulah Tasya.


"Ayo turun". Kata Tasya lalu turun duluan dari mobil.


"Cewek gila". Davi mengumpat, tapi dia langsung turun dan meninggalkan tasnya didalam mobil.


mereka lalu duduk di meja paling pojok.


"Mau pesan apa?". tanya si pelayan.


"Satu spagethi keju sama es jeruk. kalau lo mesen apa, Dav?".


"Mbak, saya pesen spagethi yang paling pedes satu, sama air putih". Kata Tasya dan sepertinya Davi tidak menyadari ide kejahilan Tasya kepadanya.


"Pesanan akan segera siap". setelahnya si pelayan pergi untuk menyiapkan pesanan.


"Mau sampai kapan lo senyum-senyum sendiri? kaya orang gila tau!". kata Tasya.


"Biarin, iri banget sih lo ama gue". Balas Davi.


"Siapa juga yang iri. liat aja, nanti gue bakalan cari pacar juga".


tak lama kemudian pesanan datang. Tasya mengambil ponsel Davi dan memasukkannya kedalam tasnya.


"Kalau lo belum habisin makanan lo, gue nggak bakalan kembaliin hp lo". Kata Tasya.


Davi melirik spagethi yang terlihat sangat pedas itu. Davi benci pedas. dia sangat tidak suka ketika rasa pedas membakar lidahnya.

__ADS_1


"Kenapa? ayo habisin, suamiku tersayang~".


Davi menyendok spagethi dengan ragu dan memakannya dengan cepat.


"P.. pedes!". Davi berucap, ia meneguk air putihnya.


"Kenapa air putih?". tanya Davi.


"Oh, salah ya? tapi tadi lo diem aja sih, jadi gue pesen ala kadarnya aja deh buat lo". balas Tasya.


Davi mendelik kesal. "Tasyaaa!!".


***


Davi langsung masuk ke kamarnya dengan kesal, sedangkan Tasya tidak mempermasalahkan hal itu.


ting..


tong..


"Kak Mawar?".


"Halo, Tasya". Mawar menyapa. di gendongannya seorang anak laki-laki tersenyum kearah Tasya.


"Hai, keponakanku...".


"Tata!". Rafa terkekeh.


"Lucu banget sih, eh Kak Mawar duduk dulu". Kata Tasya.


"Nggak usah, Tas. kakak cuma bentar kok. kakak pengen minta tolong kamu buat jagain Rafa selama tiga hari. soalnya Kakak ama Deva mau ke luar kota buat urusan bisnis. Mama nyuruh nitipin Rafa ke kamu. nggak masalah kan?".


"Nggak masalah dong kak". jawab Tasya, karena dengan adanya Rafa, ia bisa menyusun rencana.

__ADS_1


__ADS_2