
Tasya sangat terkejut dengan pertanyaan Davi barusan. Apalagi Davi bertanya seperti itu dengan wajah sok polosnya.
"Bentar-bentar, kenapa lo tiba-tiba nanya kaya gitu?". Tanya Tasya.
"Ya, gue cuma pengen pastiin aja, lo masih perawan atau nggak. Siapa tau kan, lo udah nggak perawan". Jawab Davi.
"Enak aja lo ngatain gue nggak perawan! Gue tuh cewek baik-baik ya! Mungkin lo aja yang udah nggak perjaka. Ayo ngaku lo, siapa cewek yang udah lo perkaos hah?!".
"Gue masih perjaka ya, meski muka gue ganteng banget, gue tuh nggak pernah ngebobol lubang orang".
Tasya menatap tak percaya. "Nggak percaya gue. Gue yakin, diantara semua pacar lo, lo pasti pernah nganu ama mereka kan? Ngaku lo!".
"Ya elah, kok lo malah fitnah gue sih, Tas? Lo tuh jahat, Tas! Gue nggak bisa diginiin!". Davi mulai mendrama, bak sebuah sinetron Indonesia.
"Nggak usah ngedrama!". Tasya menoyor kepala Davi karena kesal.
"Oh ya, Tas. Lo.. Pernah ciuman nggak sebelumnya?". Tanya Davi.
"Hmm? Pernah kok".
Davi terkejut. "Bener? Ama siapa? Pacar lo? Apa mantan lo? Jangan-jangan ama si Fahri ya?".
"Nggak lah! Gue cium Kak Deva waktu dia ke luar negeri buat ngurusin bisnis".
"Itu beda lagi! Maksud gue, ciuman di bibir".
"Kaya di video biru itu?".
"Iya".
Tasya mengambil gulingnya dan memukulkannya kepada Davi. "Enak aja lo! Bibir gue masih perawan ya!".
"Iya, iya, gue ngerti. Jangan pukul lagi dong". Davi menghentikan perbuatan Tasya dengan menahan guling itu.
"Lagian, kenapa lo nanya soal ciuman?". Tanya Tasya.
"Ehmm.. Soalnya gue belum pernah ciuman sebelumnya. Gue sering nonton film yang ada orang ciuman, tapi gue nggak pernah mempraktekkan".
__ADS_1
Tasya berpikir. "Ya juga ya, gue juga sering nonton drakor yang ada adegan ciumannya. Eh, tapi ciuman bukannya buat orang yang saling suka ya?".
"Masa sih? Rangga bilang ciuman itu bisa ama siapa aja, bahkan walau lo nggak sengaja nempelin bibir lo ke bibir orang lain, itu tetep aja namanya ciuman".
"Gue jadi penasaran rasa ciuman..".
Davi menarik tangan Tasya dengan wajahnya yang berbinar. "Kalau gitu, gimana kalau kita coba ciuman?".
Tasya langsung memukul dagu Davi hingga si empunya terjatuh dari ranjang.
"Aduhh, lo kenapa sih?". Tanya Davi.
"Enak aja lo ngomong kaya gitu! Gue belum pernah ciuman sebelumnya ya! Jadi ini tuh first kiss gue!".
"Ya sama aja, gue juga belum pernah ciuman kan?".
"Lo ajakin pacar lo aja sono!".
"Ya, gue niatnya juga kaya gitu. Di kencan berikutnya, gue pengennya cium Mika. Tapi, gue kan belum pernah ciuman, jadi gue pengen latihan dulu. Lo juga harusnya latihan dulu, kalau nanti pacar lo ngajakin ciuman, terus lo nggak bisa, gimana?".
"Sama aja, gue juga kaya gitu".
Keduanya pun terdiam, sama-sama malu dengan ucapan mereka.
"Y.. Yaudah deh". Ujar Tasya yang membuat Davi terkejut.
"L.. Lo serius?".
"Ya lah! Kalau nggak mau, nggak jadi". Tasya menarik selimut dan menutupi dirinya.
"E.. Ehh, jadi kok!". Balas Davi cepat.
Davi menarik selimut yang dipakai Tasya. "Ayolah".
Tasya pun mendudukkan diri di ranjang, begitu pula dengan Davi.
"B..bentar, caranya gimana ya?". Tanya Davi gugup.
__ADS_1
"Ya mana gue tau! Lo tuh cowok, lo yang seharusnya lebih ngerti hal beginian daripada gue".
"Ya juga sih. Yaudah deh, gue coba aja dulu".
Davi mendekatkan posisinya dengan Tasya. Tasya sudah memejamkan matanya, siap menerima ciuman Davi. Davi dengan gugup, menangkup pipi Tasya dengan kedua tangannya, menempelkan bibirnya dengan bibir Tasya dengan bergetar.
Kecupan singkat itu langsung terlepas begitu Davi menarik bibirnya. "U.. Udah kan?".
Tasya mendadak kesal. "Gue emang nggak tau soal ciuman, tapi yang tadi itu kecupan, bukan ciuman!".
"Y.. Yaudah, gue ulang ya..".
Tasya kembali memejamkan matanya. Davi pun menempelkan bibirnya dengan bibir Tasya. Ia menggerakkan bibirnya, ******* pelan bibir Tasya, mengulumnya atas bawah secara bergantian, dan menggigitnya pelan.
"Akh..".
Tasya terkejut ketika Davi tiba-tiba melesakkan lidahnya kedalam mulutnya, mengabsen setiap gigi yang ada didalam mulutnya, mengajak lidahnya bergelut dengan indah.
Tapi, entah kenapa Tasya malah merasa keenakan. Tangannya bergerak sendiri dan mengalungkan kedua tangannya di leher Davi.
Ciuman panas itu pun terhenti setelah keduanya sama-sama kehabisan nafas. Davi menatap wajah sayu Tasya yang terenggah-enggah. Tangan Davi bergerak mengusap sisa saliva yang mengalir di ujung bibir Tasya.
"Gila, lo pinter juga ya". Kata Tasya.
"U.. Udah deh, kita tidur aja".
Davi dan Tasya pun membalikkan badan mereka, sama-sama saling memunggungi satu sama lain. Wajah keduanya memerah, malu dan canggung menyelimuti.
Meski begitu, malam itu mereka bisa tidur dengan nyenyak.
.
.
.
TBC
__ADS_1