Musuhku, Suamiku

Musuhku, Suamiku
Chapter 6


__ADS_3

"Kenapa lo?". Tanya Adel ketika melihat Tasya datang dengan tidak semangat.


"Gue mau kiamat". Jawab Tasya asal yang membuat Adel terkejut.


"Tasya, mending lo sekarang ke gereja doa. jangan sampai kalau lo mati lo masuk neraka". kata Adel yang membuat Tasya mendelik.


"Heh, maksud gue bukan kiamat mati elah!".


"Terus?". Tanya Adel. "Kiamat apa lagi dong?".


"Nggak, nggak ada apa-apa". Tasya tidak bisa mencerikan kepada Adel jika dia dijodohkan dan sudah menikah dengan Davi.


jika Adel sampai tau, gadis itu pasti akan heboh dan memarahinya habis-habisan karena tidak memberitahunya.


"Halo, Tasya..".


Tasya menoleh kearah seorang gadis yang menyapanya dengan senyuman.


"Oh, hai". Sapa Tasya. "Tumben lo nyapa gue, ada apa?".


Ana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Em.. lo deket ama Davi nggak?".


"Nggak, gue ama dia musuhan". Jawab Tasya cepat.


"Emang kenapa lo nanya kaya gitu?". Tanya Tasya.

__ADS_1


"Mmm.. gue mau minta nomornya". Jawab Ana.


"Oh, lo mau pdkt ama dia gitu? ". Tanya Tasya.


"Mmm.. enggak juga sih. soalnya dia dulu nanyain nomor gue, tapi gue nggak kasih dia".


Tasya ingin tertawa. ternyata Ana terpikat dengan Davi. dasar tsundere.


"Ohh, tapi Davi kan miskin". Kata Tasya.


Di sekolah, Davi memang terkenal sebagai anak dari keluarga standar atau biasa-biasa saja. tak ada yang tau jika sebenarnya Davi adalah anak dari seorang pengusaha besar yang masuk dalam jejeran perusahaan terbesar di dunia.


hanya Tasya yang tau. dan untuk Tasya, hal itu juga berlaku. tak ada yang tau dirinya adalah anak dari pengusaha besar, hanya Adel dan Davi. karena hanya keduanya yang dipercaya Tasya.


kenapa?


sedangkan Davi, Tasya pikir Davi tidak akan menyebarkan rahasia itu, karena tidak ada gunanya. lagipula, Tasya juga memegang rahasia Davi.


"Boleh nggak?". Tanya Ana.


"Sayang banget gue nggak ada nomornya". Jawab Tasya. "Kenapa lo nggak minta langsung?".


"Ih, kan dia yang ngejar gue, harusnya dia dong yang ngasih nomornya". Balas Ana membuat Tasya jengah.


"Yaudah sih, kalau lo nggak mau minta gapapa. lo jadi nggak punya nomornya".

__ADS_1


Ana berdecak sebal. "Apaan sih! Nggak bisa diajak kompromi banget!".


Ana lalu melenggang pergi dengan kesal. Adel menatap kepergian gadis itu dengan kesal dan marah.


"Dia kenapa sih? kan dia yang minta tolong, kenapa malah dia yang marah?". Kata Adel kesal.


"Udahlah, biarin aja. orang gila kaya dia kaga usah diurus". Balas Tasya.


"Tapi kan, Tas. lo punya nomornya Davi, tapi kenapa lo nggak kasih Ana?". Tanya Adel.


"Terserah gue lah". Balas Tasya. "Lagian, seharusnya dia yang minta sendiri".


"Hahahaha..". Adel tertawa kecil, msmbuat Tasya jadi heran.


"Lo kenapa?". Tanya Tasya heran.


"Tau nggak, lo tuh kaya pacarnya Davi yang cemburu kalau cewek lain minta nomor pacar lo". Balas Adel membuat Tasya kesal.


"Apaan sih lo? kaga sudi gue pacaran ama dia". Balas Tasya. "Kaya kaga ada yang bagus aja".


"Gue kan cuma ngomong gitu aja, kenapa lo kesel? Atau jangan-jangan lo beneran suka lagi ama Davi". Adel mendadak curiga.


"Terserah lo lah mau ngomong apa, gue nggak peduli".


"Yah, ngambek dia..". Adel terkekeh.

__ADS_1


Tasya melipat kedua tangannya dan meletakkan wajahnya disana. "Nggak sudi gue suka ama dia".


__ADS_2