
"Tadi Adel curiga ke gue, dia bilang gue ama lo pacaran". Kata Tasya setelah duduk di sofa.
"Terus, lo jawab apa?". Tanya Davi.
"Ya, gue bilang kita nggak pacaran lah. Kan emang bener kita nggak pacaran". Jawab Tasya.
Davi mengangguk. "Rangga juga jadi curiga ama gue sejak kejadian kosan Roby. Awalnya dia marah karena gue nggak nraktir dia lagi, tapi lama-lama dia curiga gue ama lo pacaran".
"Tapi.. akhir-akhir ini gue liat Adel ama Rangga bareng-bareng terus deh". Kata Tasya.
"Bareng?". Davi mengerutkan dahinya heran. "Maksud lo, lo curiga mereka kerjasama buat ngebongkar hubungan kita?".
"Kemungkinan kaya gitu, karena Adel itu orangnya kepo tingkat dewa. Kalau dia tau, gue ama elo udah nikah, dia pasti bakalan shock dan teriak ke semua orang tentang hubungan kita".
"Kalau gitu jangan sampai ketahuan ama Adel, lo nggak usah bikin gerak-gerik yang bisa ngebuat dia curiga". Balas Davi.
"Terus, Rangga?".
"Rangga gue yang urus, untuk beberapa hari ke depan, kita jangan ke cafetaria bareng. Gue mau traktir dia kaya biasa, biar dia nggak curiga lagi".
"Lo yakin?".
"Yakin lah, Rangga tuh orang yang lemah sama traktiran. Udahlah, gue mau mandi, lo masakin gue mi dong".
Davi lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Jangan makan mi terus! Nanti lo jadi bgo!". Teriak Tasya.
"Siapa bilang?". Davi bertanya dari kamar mandi.
__ADS_1
"Gue!". Sahut Tasya lalu berjalan menuju dapur.
Ia akan membuatkan nasi goreng untuk makan malam. Bahan-bahan sudah ia siapkan, nasi secukupnya, beberapa butir telur, bawang merah dan bawang putih, garam, dan saos.
Tasya tak lupa mengenakan apron dan mengikat tinggi rambutnya seperti biasa. Setelahnya ia pun langsung memulai memasak.
"Istri idaman banget deh gue". Kata Tasya.
Sekitar 10 menit, nasi goreng pun siap. Tasya membawanya ke meja makan. Ia menoleh ke pintu kamar mandi yang tak jauh dari dapur, ia yakin Davi belum selesai mandi.
Meskipun laki-laki, Davi mandi sekitar 1 jam, lebih lama dari Tasya. Tasya tak tau apa yang dilakukan Davi.
Masa main solo sih?
Tok..tok..tok..
Tasya pun membukakan pintu untuk orang yang mengetuk. Ia terkejut ketika melihat yang datang tak lain adalah Adel.
"Permisi!". Adel langsung masuk kedalam dan melihat isi rumah Tasya.
"Kok lo bisa tau gue disini?". Tasya tiba-tiba merasa gugup.
"Tadi gue mampir ke rumah lo, tapi Tante bilang lo tinggal disini, kenapa lo nggak bilang ke gue?". Tanya Adel.
"Ah.. hehe..". Tasya tertawa kikuk.
"Bagus juga ini apartement". Adel menoleh kesana kemari.
"Lo tinggal sendiri?". Tanya Adel.
__ADS_1
"Em..i.iya lah..".
"Kalau gitu gue mau nginep ya!".
"JANGAN!".
"Eh? Kenapa emangnya? masalah ya kalau gue nginep disini?". tanya Adel.
"B.. bukan gitu, a..apartement ini berhantu!".
Adel memincingkan matanya. "Jangan bohong deh! Kalau nih apartement berhantu, lo pasti nggak bakalan tinggal disini".
"Ohh, soalnya gue mau mencoba sesuatu yang nggak biasa".
"Gue nggak percaya, lo keliatan bohong. Ngaku lo! Kenapa lo nggak ngasih gue nginep? Apa jangan-jangan... lo ngajak pacar kesini?".
"Ihh!! Nggak lah!".
Klek..
Tasya dan Adel sontak menoleh kearah pintu kamar mandi yang terbuka, keduanya langsung terkejut ketika melihat Davi yang keluar hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya.
"Tas, mi gue udah siap be..". Davi berhenti bicara dan ikut mematung ketika kedua gadis yang menatapnya mimisan.
"KYAAAAAA!!!".
****
TBC
__ADS_1
Sekedar info, sebenarnya yang ditempati Taysa dan Davi bukan rumah, melainkan apartement