
"Bentar, bentar.. kalian kan udah nikah, terus nggak ada niatan buat bikin anak gitu?". Tanya Rangga.
Davi dan Tasya sontak menggelengkan kepala bersamaan.
"Nggak ah, gue masih muda, masih 19 tahun masa udah mau buat anak. Rencana gue, mau buat anak tuh pas usia udah 27 tahun". Kata Tasya.
"Kalau rencana gue, punya anak umur 25. Ya masa gue punya anaknya sekarang, gue tuh bukan orang yang pergaulannya nganu ya!". Kata Davi.
"Terus, kalian udah pernah ciuman?". Tanya Adel.
"Belum". Jawab Tasya dan Davi bersamaan.
"Kalian aneh deh, padahal udah nikah tapi nggak pernah wik-wik, nggak pernah ciuman lagi". Kata Rangga.
"Pelukan pernah kok". Balas Davi.
"Dimana?". Tanya Adel.
"Di kosan Kak Roby?". Jawab Davi.
"Aduhhh, itu kan beda lagi, Davi sayangku!". Balas Rangga.
Davi mendadak merasa jijik. "Ngapain lo manggil gue sayang? Naksir lo ama gue? Sorry aja ya, gue bukan homo!".
"Heh! jadi lo pikir gue ini homo, gitu?!". Rangga tak terima dan langsung menyerang Davi dengan pukulan. Keduanya lalu berkelahi bak anak kecil yang berebut menjadi rangers merah.
"Tasya, lo sebenarnya ada rasa nggak sih sama Davi?". Tanya Adel.
Tasya menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, mana mungkin gue punya rasa sama musuh gue sendiri! Lagian, gue ama dia tuh udah buat peraturan".
"Peraturan? Semacam tata tertib gitu?". Tanya Adel heran.
__ADS_1
"Iya, salah satunya menyatakan kita boleh pacaran sama orang lain".
"APA?!". Adel terkesiap. Gadis itu hampir terkena serangan jantung mendengar perkataan Tasya.
"Tas, tobat, Tasyaaa!! Jangan selingkuh ama orang lain! Inget, lo udah punya suami!". Kata Adel.
"Tau kok, tapi kan namanya juga peraturan. Lagian, gue dan Davi nggak ada rasa satu sama lain. Dan gue juga nggak sudi punya rasa sama orang buluk kaya dia!". Tasya melirik kearah Davi yang sedang mengunci pergerakan Rangga.
"Lo pikir gue mau punya rasa sama lo hah?!". Balas Davi.
"Apa lo? Dasar jelek!". Kata Tasya.
"Lo yang jelek!". Balas Davi.
"Dasar hitem!".
"Krempeng!".
"Pendek!".
"Cacingan!".
"Kurang nutrisi!".
"Jiraya!!". Pekik Davi.
"Orochimaru!!". Pekik Tasya.
"Berarti gue keren dong!". Kata Davi. "Gue bisa berubah jadi uler, lo apa cuma seuprit upilnya Jiraya, petapa genit!".
"Heh! dimana-mana, bagusan Jiraya kali daripada Orochimaru! Jiraya tuh baik! Tokoh pendukung yang selalu membantu Naruto!". Balas Tasya.
__ADS_1
"Itu menurut lo! Pada akhirnya Jiraya mati kan? Liat dong Orochimaru akhirnya punya anak! Jiraya mana anaknya? Nggak ada kan? Hahaha!".
"Apa sih! Dasar gendut!".
"Dasar tepos!".
Tasya terdiam setelah perkataan Davi. Sedetik kemudian wajahnya terlihat marah dengan aura menyeramkan di sekeliling tubuhnya.
Rangga dan Adel ikut merasakannya. Keduanya sontak menyingkir dan bersembunyi.
"Lo bilang gue tepos?! GUE TUH MASIH MASA PERTUMBUHAN TAUUU!!".
Tasya langsung menerjang Davi dan memukulinya habis-habisan. Kini ia lah yang berebut jadi rangers merah dengan Davi.
Davi tak bisa melawan. Ia hanya bisa menahan pukulan Tasya dengan defense yang ia miliki. Meskipun ia ACE klub boxing, bukan berarti ia bisa memukul wanita sepuasnya.
"Kok jadi gini sih?". Tanya Adel. "Harusnya mereka tuh bersatu, meskipun Davi yang salah sih..".
"Lah? Kok Davi yang salah? Jelas-jelas yang salah itu Tasya! Dia yang memulai pertikaian!". Balas Rangga tak terima temannya dikatai seperti itu.
"Salah Davi kali!".
"Salah Tasya!!".
Adel dan Rangga saling adu mulut, melempar kata-kata umpatan kasar dan menyebut nama binatang yang tak bersalah.
Davi dan Tasya hanya bengong menatap keduanya yang tiba-tiba bertengkar. "Kenapa jadi mereka yang berantem?".
****
TBC
__ADS_1