Musuhku, Suamiku

Musuhku, Suamiku
Chapter 9


__ADS_3

"Tas, gue keluar ya..". Davi terdiam ketika melihat Tasya tengah memangku seorang balita didalam pangkuannya.


"Dia siapa?". tanya Davi.


"Dia keponakan gue, namanya Rafa". jawab Tasya dan Davi mengangguk.


"Terus kenapa bisa ama lo?". tanya Davi.


Tasya memutar bola mata malas. "****** banget sih lo".


"Heh! enak aja lo ngatain gue gblk!".


"Ya karena lo emang gblk!". Tasya berdiri. "Kak Mawar minta gue buat jagain Rafa, soalnya dia ada urusan".


"Ya berarti lo jagain dia dong".


"Nggak bisa". jawab Tasya.


"Kenapa nggak bisa? lo kan nggak ada urusan. gue mau kencan sekarang".


"Heh, lo pikir cuma lo yang ada urusan? gue ada urusan ama Adel sekarang dan ini penting banget. jadi, gue minta lo bawa Rafa ama lo".


Tasya memberikan Rafa ke pada Davi yang shock dengan perkataan Tasya tadi.


"H.. hah? terus gue harus bagaimana nih? taruh dimana?". tanya Davi.


"Ih, itu urusan elo. udah ya, gue mau pergi. dah Rafa sayang, baik-baik ama Om Davi ya, kalau kamu diapa-apain, nanti kasih tau tante". Tasya mencubit pipi Rafa setelah mengambil tas nya


"Tata!". Rafa terkekeh.


"Ulululu, gemez banget. udah ya, byeee".


"TASYA!!".

__ADS_1


Davi kesal. kalau seperti ini kencannya tidak akan berjalan lancar.


****


"Davi!". Ana yang sudah sampai langsung menghampiri Davi yang ada di parkiran. Tapi ia langsung terkejut ketika melihat Davi menggendong seorang anak laki-laki.


"Dia siapa?". Tanya Ana. dadanya berdetak kencan karena mengira itu adalah anak dari Davi.


"Mmm.. ini keponakanku". Jawab Davi.


"Kenapa kamu bawa dia?". Tanya Ana merasa risih.


"Aku nggak bisa tinggalin dia sendiri di rumah. Tasya lagi keluar ama Adel, aku yang disuruh jaga. kalau aku nggak ngejagain dia, siapa lagi?".


Ana menatap Rafa dengan risih. "dasar penganggu". gumamnya.


"Hm? apa? kamu ngomong sesuatu?".


"Eh... nggak kok". jawab Ana terkekeh. "Lucu ya, namanya siapa??".


"Rafa, sini sayang ama kakak". Ana hendak menggendong Rafa, tapi Rafa langsung menolak dan memukul tangan Ana yang hendak meraihnya.


"Hueeee!!!". Rafa menangis ketika melihat wajah Ana yang kesal. baginya itu mengerikkan. ia kini jadi rindu dengan wajah ibunya yang selalu lembut padanya.


"Aduhh, jangan nangis". Davi mencoba menenangkan Rafa.


"Ck, kamu nggak bisa bawa anak-anak kencan, Dav. dia cuma nyusahin kita aja. gimana kalau kita titipin aja?". Usul Ana membuat Davi terkejut.


"Kamu gila?!".


Ana terkejut ketika Davi membentaknya. Ia langsung menunduk takut.


"Maaf, dav. aku cuma ngasih usul yang baik bagi kita aja". Kata Ana.

__ADS_1


Davi menghela nafas. "Maafin aku juga, harusnya aku nggak ngebentak kamu".


"Yaudah, yuk".


Mereka pun masuk kedalam mall dan mulai berjalan-jalan.


"Davi, aku pengen banget punya tas ini". Kata Ana ketika melihat sebuah tas mewah.


"Harganya berapa?". tanya Davi kepada si pegawai.


"1 juta". jawab si pegawai.


"Pengen banget, Dav". Ana kini menggelayut manja di lengan davi dan berharap Davi akan membelikannya.


"Saya beli ya, mbak". kata davi membuat ana senang. setelah membeli tas mereka pun beberapa barang mewah lainnya.


"eh, na. aku mau ke toilet dulu ya. jagain rafa bentar". Davi memberikan rafa kepada ana yang merasa risih.


"Iya, jangan lama-lama ya".


davi langsung pergi. ana menatap rafa dengan tajam, sedangkan rafa mendadak ketakutan.


"Apa lo liat-liat gue?! gegara lo kencan gue hancur tau!". bentak ana.


"h.. hueeeeeee.. hiks... haaaaaaaa...hueeeee...Taaaataaaaaa".


davi yang mendengar suara tangisan rafa langsung berbalik sebelum sampai di toilet dan mengambil alih rafa.


"Aduh, rafa cup cup, tenang ya, sekarang kita pulang ya". kata davi berusaha menenangkan rafa.


ana mengepalkan tangannya dengan kesal. "bocah bngst".


****

__ADS_1


TBC


__ADS_2