
"mau makan apa?". tanya roby ketika mereka sampai di cafe yang dituju. roby menarikkan kursi untuk tasya, yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum senang.
"Hmm, terserah kakak aja deh". kata tasya.
"loh kok terserah aku sih? kan aku maunya kamu yang milih, biar aku tau apa kesukaan kamu". kata roby.
setelah chatingan puluah kali, keduanya sepakat untuk tidak menggunakan gue-elo, tapi aku-kamu yang 'katanya' lebih romantis.
"hmm, yaudah. kalau gitu aku mau pesen steak aja". kata tasya.
"minumannya?".
"jus apel".
"pelayan!". roby memanggil seorang pelayan perempuan yang siap mencatat pesanan mereka.
"dua steak, satu jus apel, sama satu jus wortel ya". kata roby.
pelayan itu mencatat semua pesanan dan membacakannya lagi agar pasti. "dua steak, satu jus apel, dan satu jus wortel. benar?".
"ya".
"baik, pesanan akan segera datang". pelayan itu pun pergi ke dapur untuk menyiapkan pesanan.
tasya menoleh ke luar jendela. dimana terdapat kebun bunga yang sangat indah didepan cafe. tasya memang sangat menyukai bunga, apalagi bunga mawar. karena ibunya juga hobyy mengoleksi bunga dari seluruh dunia, bahkan membuat beberapa kebun bunga kecil, termasuk kebun bunga kaca yang ada di halaman belakang mansion mereka.
__ADS_1
"tasya". roby menggenggam tangan tasya yang ada diatas meja.
"hm? ya, kak?". tanya tasya.
"kakak tanya betul-betul, kamu udah punya pacar ngga?".
"belum, kak". jawab tasya. karena memang betul ia tak memiliki pacar, tapi suami iya. walaupun begitu ia tak masalah jika berpacaran, karena ia dan davi telah membuat peraturan yang salah satunya membebaskan mereka dalam berpacaran.
"kok nggak ada yang mau pacaran ama kamu? kamu kan cantik, atau jangan-jangan kamu yang nolak mereka ya?". tanya roby.
tasya mengangguk. "banyak yang nembak sih, kak. tapi aku masih nggak mau pacaran, mau fokus kuliah dulu, biar cepet lulus soalnya".
"ohh, gitu.. terus kalau kakak yang nembak gimana?". tanya roby.
wajah tasya langsung memerah dengan pertanyaan roby. "i..ih, kakak ngomong apa sih?!".
"kalau kakak yang nembak kan.. beda lagi urusannya..". kata tasya.
tasya mencoba memalingkan arah pandangnya, karena ia masih canggung bertatapan dengan roby. ia terkejut ketika melihat sosok yang duduk di pojokan dengan seorang wanita.
"davi?". tasya memincingkan matanya, mencoba melihat sosok bertopi itu. "itu davi?".
"davi?". roby menoleh dan menatap sosok yang dimaksud tasya. "bukan, itu bukan davi".
tasya mengerjapkan matanya beberapa kali dan menggelengkan kepalanya. ketika ia nelihat dengan seksama, ternyata sosok itu bukan davi.
__ADS_1
"oh, bukan davi ternyata haha, aku mungkin ngayal kak hehe". kata tasya.
"gapapa, kakak juga sering kok kaya gitu". jawab roby.
tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka. tapi pelayan itu adalah laki-laki, yang membuat tasya terkejut pelayan itu adalah davi.
"davi?".
"ah? bukan, mbak, saya reno". kata pelayan itu .
tasya kembali mengerjapkan matanya beberapa kali dan menggelengkan kepalanya. sosok bernama reno itu ternyata memang bukan davi.
"m..maaf ya, mas". kata tasya kikuk. ia melakukan hal yang memalukan didepan roby. tentu saja ia merasa kikuk dan malu atas hal itu.
"kok kamu mengkhayalkan davi sih, tas? kamu naksir dia ya?". tanya roby dengan nada tidak senang.
"eh.. nggak kok, kak. soalnya davi akhir-akhir ini sering gangguin aku, jadinya aku kesel sama dia dan terbayang-bayang deh akhirnya". jawab tasya.
"ohh". roby mengangguk. "udah, ayo makan".
tasya mengangguk dan menyantap steak miliknya.
"kenapa gue jadi mikirin davi sih?!".
****
__ADS_1
TBC