
"Lo beneran nggak mau baikan gitu sama Davi?". Tanya Adel.
"Nggak!". Jawab Tasya.
"Padahal kalian tinggal bareng lho".
"Lah, hubungannya baikan ama tinggal bareng apa?". Tanya Tasya sambil meletakkan tas nya. Ia sudah tiba di kelasnya.
"Ya.. itu...".
"Udah, sebaiknya sekarang lo nggak usah ngurusin gue ama Davi lagi, mendingan lo cari pacar sana, terus urusin dia deh. Kalau nggak, lo sebaiknya fokus ama pelajaran dulu. Hari ini kelompok lo ada presentasi kan?".
"Ohh! Iya anjirr! Untung lo ngingetin gue ada presentasi hari ini, kalau enggak mati gue!". Adel langsung bergegas kebelakang untuk mencari kelompoknya.
Tasya menggelengkan kepalanya melihat kecerobohan Adel. Ia mengambil ponselnya dan memasang headshet di kedua telinganya. Ia menghidupkan lagu KPop yang merupakan favoritnya.
Ya, Tasya memang penggemar KPop. Tapi ia tak terlalu menggemarinya, ia hanya suka pada lagunya. Meskipun begitu Tasya memiliki seorang bias di salah satu grup boyband terkenal, yaitu JHope yang merupakan personal Band BTS.
"Ya ampun, JHope, suami gueeee, kenapa lo ganteng banget sih?!!!". Tasya tersenyum sendiri ketika melihat JHope menari dengan indah dengan lirik rap yang ia bawakan di lagu FIRE.
__ADS_1
"Permisi". Seseorang mencolek bahu Tasya dari belakang. Tasya pun sontak menoleh dan mendapati seorang pria tersenyum manis kearahnya.
"Ganteng banget njrr!!". Kata Tasya dalam hati. Pria dibelakangnya itu adalah tipenya. Dengan kulit kuning langsat, rambut rapi, dan lesung pipi di kedua pipinya.
"A.. anak baru ya?". Tanya Tasya, karena ia tak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.
"Iya, gue baru aja masuk. Oh ya, kenalin nama gue Fahri. Gue baru aja pindah dari Jerman". Fahri mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Taysa.
Taysa menyambutnya dengan senang hati. "Gue Taysa".
"Ohh, jadi lo Tasya yang diomongin itu ya?".
"Emhhh.. mahasiswa angkatan 1 sering ngegosip tentang kakak angkatan mereka yang cantik. Katanya sih namanya Tasya, jurusan Teknik yang selalu barengan ama cewek bermata biru".
"Cewek mata biru? Adel maksud lo?". Tanya Tasya.
"Iya, namanya Adel. Gue udah ketemu ama dia, dia juga cantik kok. Ternyata kalian sama-sama cantik ya!". Fahri tersenyum ramah.
Wajah Tasya memerah. "Ihhh, apaan sih lo! Biasa aja sih. Lagian, cantikan juga Adel daripada gue".
__ADS_1
Sebenarnya jika dilihat lebih seksama, Adel memang lebih cantik daripada Taysa. Karena Adel sering tersenyum dan sangat ramah kepada semua orang, bahkan Adel lebih populer dari Tasya di dunia asli ataupun dunia maya.
"Masa sih?". Fahri menopang dagunya. "Menurut gue, lo lebih cantik kok".
"Oh ya? Haha, makasih". Tasya sangat senang dipuji. Iya lah! Siapa coba yang tidak senang dipuji?
"Terus.. gue denger rumor tentang Davi".
Semangat Tasya langsung anjlok dan senyumnya luntur. Ia malas membicarakan Davi. Kenapa Davi selalu masuk kedalam pembicaraannya dengan teman-temannya? Tidak Adel, tidak Fahri, sama saja!
"Gue denger kalian rival paling terkenal di sekolah. Bener ya?". Tanya Fahri.
Taysa mengangguk. "Iya, dia itu musuh gue. Dia suka banget ngangguin gue dari dulu, gue nggak suka sama dia. Dari kecil, gue sama dia selalu satu sekolah, satu kelas lagi, makanya makin banyak waktu buat dia gangguin gue. Untunglah sekarang kita nggak sekelas".
Fahri mengangguk. "Kalau gitu...".
"... Boleh nggak kita mulai dekat satu sama lain?".
****
__ADS_1
TBC