Musuhku, Suamiku

Musuhku, Suamiku
Chapter 13


__ADS_3

"dah rafa". tasya melambaikan tangannya kearah rafa yang akhirnya dibawa pulang oleh ibunya. tasya menghela nafas. sekarang ia sendirian di rumah itu, apa yang harus ia lakukan?


adel saat ini pasti sedang kuliah, karena mereka memiliki kelas yang sama. tasya sangat bosan dirumah, apalagi saat ini jaringan internet alias wifi di rumah sengaja di blok oleh davi.


"sialan si davi, kalau mau nge blok tuh harusnya mikir". tasya duduk di sofa dan menonton suara hati manusia di indo tv.


"tapi kok gue khawatir sama dia ya?". tasya menggelengkan kepalanya. "mana mungkin gue suka sama dia, idih amit-amit. dia kan juga keras kepala, dibilangin nggak mau dengerin".


pip..pip..pip..


celkek..


tasya menoleh kearah pintu yang terbuka, ia terkejut melihat davi yang pulang dengan wajah kesal. tapi tasya tak peduli, ia langsung memalingkan wajahnya.


"tas". davi mendekat.


tasya tak menyahut, gadis itu enggan untuk menatap wajah davi.


"tasya, dengerin gue". kata davi, ia menyentuh tangan tasya, tapi si empunya langsung menarik tangannya yang hendak disentuh.


"apa?". ketus tasya. "kalau mau ngomong ya, ngomong aja. gue sibuk".


davi menghela nafas. lalu berdiri dan memeluk tasya dari belakang, membuat tasua kaget.

__ADS_1


"maafin gue, gue salah". kata davi.


"apa yang salah?". tanya tasya masih dengan nada ketus.


"ana, dia persis kaya yang elo katakan. dia bukan princes kaya bayangan gue, dia lebih mirip iblis dengan wajah cantik. gue nggak ngerti kenapa cewek cantik itu selalu aja jahat". lirih davi.


tasya mengerutkan dahinya. suara davi seakan-akan mau menangis. memangnya hanya ana yang ada dalam pikiran davi?


"dulu gue juga ditipu kaya gini, gue nggak nyangka bakalan ditipu untuk yang kedua kalinya kaya gini. gue emang bodoh karena nggak belajar dari pengalaman". kata davi lagi.


"hmm". balas tasya.


"maafin gue ya". kata davi.


mereka sudah sering bertengkar, dan tak ada satu pun dari mereka yang biasanya mengalah. pasti tak ada yang akan meminta maaf duluan. apalagi davi, yang memiliki derajat tinggi sebagai anak konglomerat.


"gue minta maaf, please maafin gue". kata davi penuh permohonan.


jujur saja, ini pertama kalinya tasya mendengar davi meminta maaf dengan cara seperti ini. ia benar-benar tak menyangka, seorang davi akan seperti ini kepadanya.


"udah ah! lepasin gue". tasya mendorong davi agar melepaskan pelukannya. "gerah tau!".


"lo maafin gue kan?". tanya davi.

__ADS_1


"maafin buat apa coba? emang lo ada salah ama gue?". tanya tasya.


"ada".


"ck, udah deh, jangan bikin gue pusing. nonton ini aja udah pusing, ditambah elo".


davi pun membaringkan tubuhnya di sofa dan menjadikan paha tasya sebagai bantalannya. "tapi gue masih nggak nyangka ana.. mhhp".


tasya menyumpal mulut davi dengan sebuah kripik kentang yang ada disebelahnya. "jangan ngomongin dia mulu, enek gue denger namanya. dan jangan pernah sebut nama gue didepan dia lagi".


"hmm.. gue.. tidur ya?". tanya davi.


"tidur di kamar sono! ngapain lo tidur disini! paha gue keram nanti!". kata tasya.


"nggak mau, gue mau tidur disini aja, nanti gue keinget dia lagi". kata davi tetap keukeh untuk tidur di pangkuan tasya.


akhirnya tasya menyerah dan membiarkan davi tidur di pangkuannya. setelah davi terlelap, tasya mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


"halo, kak. kakak tolong urus mahasiswa atas nama ana". setelahnya tasya langsung mengirimkan foto ana kepada orang yang ia hubungi.


"selamat menjalani hidup yang indah, ana".


****

__ADS_1


TBC


__ADS_2