
"H.. hah? M.. Main?". Tasya tak mengerti maksud perkataan Roby, tapi entah kenapa ia merasa takut dan gugup ketika mendengar perkataan Roby itu.
"Iya, main. Mau nggak?". Tanya Roby sambil mengambil sesuatu dari sakunya.
Ia mengeluarkan sesuatu yang merupakan benda yang ia beli saat di supermarket tadi. Tasya langsung terbelalak begitu mengetahui jika benda itu adalah kndom.
"K.. kenapa Kakak beli itu? ". Tanya Tasya mulai ketakutan. Apalagi sorot mata Roby kepadanya sangat menyeramkan. Sekarang Roby menatapnya bak seorang psycopat yang berhadapan dengan mangsanya.
"Kamu nggak usah pura-pura polos deh, Tas. Kamu tau kan, kenapa Kakak ngajak kamu kesini?". Roby berjongkok dan menarik dagu Tasya agar si empunya menatapnya.
"Kamu tuh cantik banget dan keliatan polos, setiap orang yang ngeliat kamu pasti langsung bernafsu sama kamu". Kata Roby.
"B.. bernafsu?".
"Iya, kamu udah liat itu kan?". Roby melirik kearah kndom bekas yang ada disebelah mereka. "Itu kakak pakai waktu main sama cewek lain".
Tasya langsung kaget. Ini artinya Roby sudah melakukan hal bejat itu kepada banyak perempuan.
"B.. berapa kali?". Tasya langsung menutup mulutnya ketika menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak ia tanyakan.
Roby terkekeh. "Rupanya kamu tertarik ya, Tas? Nggak banyak kok, Kakak baru ngelakuinnya 5 kali, sama cewek yang berbeda".
__ADS_1
Tasya menatap Roby dengan ketakutan. Ia semakin takut kala Roby menekan kuat bahunya dan membuatnya berbaring di kasur yang ada disana.
"Kamu tau nggak kenapa kakak ngelakuinnya sama 5 orang yang berbeda?". tanya Roby.
Tasya tak membalas.
"Karena... Mereka ngebosenin. Mereka semua kaya jlang, mendsah dengan keras waktu kita main, bahkan minta lagi dan lagi. Kakak pengen main dengan suasana yang berbeda. Kamu ngerti kan?".
Roby mulai membuka kancing atas Tasya, Tasya langsung mendorong Roby sekuat tenaga hingga si empunya terjatuh ke lantai.
Tasya langsung berlari kearah pintu, mencoba membuka pintu yang terkunci rapat. Tasya mencoba memutar kunci, namun ketika ia hendak melakukannya, rambutnya lebih dulu ditarik dengan kasar oleh Roby hingga ia tersungkur ke lantai.
Roby juga menarik kunci dan membuangnya ke sembarang arah agar Tasya tak menemukannya.
"A.. aku nggak mau, Kak! Aku mau pulang! Please, Kak!". Kata Tasya.
"Sttt, nggak usah khawatir, sayang. Kakak nggak bakalan kasar kok. Tapi kalau kamu ngelawan ya... Kakak terpaksa kasar sih".
Roby berjongkok dan menarik lengan Tasya. Dengan sekali tarikan ia berhasil melempar Tasya keatas kasur dan langsung menindih gadis itu.
"T.. TOLONG!! TO... MHHHPPHHH!!". Roby langsung membekap mulut Tasya yang berteriak dengan tangannya.
__ADS_1
"Sttt, sayang, jangan ribut ya. Nggak seru dong kalau kamu teriak sekarang, teriaknya nanti aja, kalau kakak udah masuk". Roby menyeringai.
Tasya kemudian mengumpulkan tenaganya di lututnya. Dengan tenaganya itu, ia menggunakan lututnya untuk menghantam ************ Roby dengan kuat hingga si empunya mengaduh kesakitan.
Tasya mengambil tasnya dan berlari kearah kamar mandi. Ia tau ia tak bisa menemukan kunci itu karena tak ada waktu, jadi masuk ke kamar mandi saat ini adalah pilihan yang tepat.
"Tasya, kamu berani ya..".
Tasya mengunci pintu kamar mandi dan terduduk karena kedua kakinya lemas. Tasya mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Adel.
"Hiks... Adel angkat dong!! hikss..".
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif..
"Hiks.. gimana nih.. hiks..". Tasya mengusap air matanya.
"Davi, ya Davi!". Tasya pun mencoba menghubungi Davi beberapa kali. Tapi tak diangkat, bahkan dimatikan.
"Davi!! Angkat please!!! tolongin gue.. hiks..".
****
__ADS_1
TBC