
Bu Dewi dan Bu Ina tersenyum ketika melihat anak-anak mereka keluar dari kamar, mengenakan piyama tidur pasangan yang sudah mereka belikan sebelumnya.
"Gimana malam pertamanya?". Tanya Bu Dewi.
"Biasa aja". Balas Tasya kemudian melirik kearah Davi. "Malah nggak enak banget!".
"Oh ya? padahal suara kamu kemarin keenakan lho, Tas". balas Bu Ina membuat Tasya terkejut.
"Kamu jangan kasar-kasar ama anak Mama, Dav". kata Bu Dewi bercanda.
"Haha, maaf, Ma. soalnya kemarin Davi terlalu semangat". Balas Davi membuat Tasya mendelik kesal.
"Tasya, lain kali kamu jangan ngedesah keras-keras, takutnya tetangga denger". celetuk Bu Ina.
"Bunda!". wajah Tasya memerah.
"Rupanya mereka pura-pura aja canggung dan nggak mauan, eh tau-taunya mereka semangat banget buatin kita cucu". Kata Bu Dewi.
"Iya, Wi. saya setuju. mereka semangat banget sampai tengah malem masih kedengaran". Balas Bu Ina.
"Bisa nggak kita makan aja?". Tanya Tasya kesal.
"Iya, sayang. ayo kita sarapan".
Keempatnya lalu sarapan.
__ADS_1
"Mama mau pulang sekarang?". Tanya Tasya.
"Iya, Mama nggak bisa ninggalin Papa kamu sendirian. kan Mama udah 3 tahun nggak pulang, Papa kamu pasti kesepian". Balas Bu Dewi.
"Untungnya Leon itu setia". Kata Bu Ina. "Kalau nggak, mungkin sekarang dia udah cari pengganti".
"Kalau dia berani cari pengganti, saya pasti binasakan dia". Kata Bu Dewi dengan nada menyeramkan yang membuat Davi dan Tasya ketakutan.
"Haha, tenang aja, Wi. Leon itu memang mukanya mesum, tapi dia setia pada satu orang". Balas Bu Ina.
"Iya, saya tau". Balas Bu Dewi.
Selesai sarapan.
"Nah, Mama pulang ya, sayang. Davi, kamu jagain Tasya baik-baik, jangan sampai dia ngadu ke Mama kalau kamu nyakitin dia". Kata Bu Dewi.
"Tasya, kamu juga jangan nyusahin Davi ya, sayang. kalian harus akur, jangan sampai terjadi KDRT, Bunda nggak mau kalian sampai harus dibawa ke pengadilan". Kata Bu Ina.
"Tenang aja, Bun. Tasya nggak bakalan nyusahin Davi kok". Tasya melirik Davi sejenak.
"Yaudah, kalau gitu Mama ama Bunda pulang ya. jaga rumah baik-baik".
Bu Dewi dan Bu Ina lalu pergi dari apartement tersebut.
"Kenapa sih lo ngomong kaya gitu ke Mama?". Tanya Tasya.
__ADS_1
"Heh, seharusnya lo bersyukur, karena gue ngomong kaya gitu. orang laen nggak bakalan mau ngomong kaya gitu!". Balas Davi.
sebenarnya kemarin mereka tidak melakukannya. suara desahan yang berasal dari kamar keduanya, berasal dari video biru milik Davi.
"Video lo banyak banget". Kata Tasya.
"Iya lah, koleksi gue itu". Balas Davi.
"Saatnya kita buat peraturan". Kata Tasya.
"Oke, gue juga nggak mau satu kamar ama lo!".
"Apartement ini kan ada dua kamar tidur. kita pisah aja, gue pake yang gede lo pake yang satunya". Kata Tasya.
"Enak aja lo mau pake yang gede. harus gue dong, kan gue yang laki". Balas Davi tak terima.
"Nah, karena lo yang laki lah gue pengen lo di tempat yang lebih kecil. lo harusnya ngalah ama cewek, masa cowok nggak mau ngalah". Cibir Tasya.
"Gue nggak bakalan mau ngalah ama lo! lo bukan temen gue, melainkan musuh gue. gue nggak mau ngalah ama lo!". Kata Davi.
"Gue tau kita musuh, tapi gue tetep aja cewek. gue pengen lo ngalah". Kata Tasya.
"Oke, oke, gue ngalah. puas lo?". Tanya Davi.
"Puas lah, gitu dong, baru pacarnya Ana". Tasya sedikit mencibir membuat Davi kesal.
__ADS_1
"Yang paling penting, jangan sampai pernikahan ini diketahui semua orang".