
"Tadi Ana nanyain nomor hp lo ke gue". Kata Tasya setelah masuk kedalam apartement.
"Hah? lo nggak bohong kan?". tanya Davi.
"Nggak lah".
"Terus, lo kasih?".
"Nggak, gue suruh dia minta langsung ke elo".
"Kenapa nggak lo kasih?". Tanya Davi. ia kan sangat menyukai Ana. ia akan sangat senang jika bisa berpacaran dengan gadis itu.
"Ya biar dia usaha lah, dia kan suka ama lo, masa dia memanfaatkan gue sih". balas Tasya agak kesal.
"Yaudah, kalau gitu gue minta nomor Ana".
"Buat apa?".
"Buat nge chat dia lah. inget kan peraturan kita yang nomor 3. diperbolehkan berpacaran dengan orang lain. jadi nggak masalah lah kalau gue pacaran ama Ana. kalau nggak, mungkin lo yang nggak mau gue pacaran ama dia gegara lo suka ama gue".
sedetik kemudian Tasya melempar sebuah sendok besi kearah Davi hingga mengenai kepala Davi.
"Enak aja lo ngomong! gue kaga sudi suka apalagi cemburu ama lo. lagian, cantikan juga gue kok ketimbang Ana". Kata Tasya.
"Cantikan juga Ana kali!". Balas Davi kemudian berjalan ke dapur dimana Tasya sedang memasak.
"Lo masak apa?". Tanya Davi karena melihat masakan Tasya yang buluk.
"Ayam kecap". jawab Tasya. "Kenapa nggak suka? nggak usah makan!".
__ADS_1
"Enak aja lo nggak usah makan, lo dapet duit buat beli bahan itu dari gue". balas Davi.
"Ini duit Mama, bukan duit lo!".
"Duit gue itu!".
Keduanya kembali bertengkar, hingga berakhir di meja makan. Davi membantu Tasya dengan tidak ikhlas untuk memasak dan merapikan meja makan.
Davi memakan ayam kecap buatan Tasya yang terlihat mengerikkan.
"Gimana? enak kan?". tanya Tasya.
"Biasa aja kali!". Jawab Davi, padahal dalam hatinya ia menjerit karena ayam kecap yang sangat lezat.
ternyata hanya penampilan dari masakan Tasya saja yang kurang enak dilihat, tapi ketika dimakan, maka rasanya sangat lezat.
"Heh, bohong kan lo? orang enak banget kok". kata Tasya.
"Besok lo masak sendiri!".
Davi mendelik. "Mana bisa gitu dong? Harusnya elo yang masakin gue sebagai istri soleha!".
"Bodo amat, gue kaga peduli ama itu. kan lo sendiri yang bilang masakan gue nggak enak".
"Gue nggak bilang nggak enak ya, gue bilangnya biasa aja".
"Sama aja menurut gue". Tasya meneguk airnya dan berdiri.
"Lo cuci semuanya ya, suamiku tersayang". Tasya mengedipkan mata sebelum kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Taysa! syalan lo!!".
***
Di Kampus
"Davi?".
Ana tersenyum ketika Davi berkunjung ke kelasnya dan memberikannya sebuah kotak ratu perak yang dililit pita pink.
"Buat kamu". ucap Davi.
"Hehe, makasih ya, Dav. aku suka banget". ucap Ana menerima coklat itu.
"Mmm... besok, lo ada waktu nggak?". tanya Davi.
"Ada kok, mau ngapain?". Tanya Ana.
"Aku mau ngajakin kamu nonton". jawab Davi.
"Oke deh".
Adel menatap jengah keduanya. menurutnya Davi dan Ana sama sekali tidak cocok.
"Tasya, liat deh mereka. gue tuh heran, kenapa Davi bisa tergila-gila ama Ana. padahal masih banyak kok cewek yang lebih cantik dari pada Ana". Kata Adel.
"Mungkin karena Ana tsundere". balas Tasya asal sambil terus memainkan ponselnya.
"Tapi tetep aja, mereka tuh nggak cocok. Ana kan matre". Balas Adel.
__ADS_1
"Udahlah, jangan ngurusin mereka lagi". Kata Tasya.
Tasya kemudian melirik kearah Davi dan Ana yang tertawa bersamaan. entah kenapa, ia merasa.. kesal?