
Satu minggu berlalu. Keadaanku masih sama. Aku masih sendiri.
Menyadari sikap dinginku tak akan mudah memancing pertemanan, aku memilih terus seperti ini, dan lebih berfokus pada pelajaran. Beberapa anak berlaku hangat coba mendekat, aku hanya bisa menunjukkan sikap seadanya.
Kebanyakan dari mereka tak suka aku. Aku culun, tak pandai bergaul, dan tak pantas dijadikan teman, itu kudengar tak sengaja di beberapa kesempatan.
Aku tak ingin menekan diri. Musibah kepergian Ayah juga pupusnya hubunganku dengan Nandan, sudah cukup menyiksa. Hanya hal kecil bergaris bawah sebuah kata pertemanan, aku tak akan mau ambil pusing lagi.
____
Dua bulan terlewati tanpa terasa. Aku mengenal dan coba akrab setidaknya hanya dengan lima orang anak di kelasku. Dari segi akademik, sepertinya mereka kurang menonjol. Terlihat dari gaya urakan dan berisik saat bercakap. Tapi mereka cukup menyenangkan.
Algi, Seto, Gibran, Karin dan satu yang paling gencar mendekatiku--Alna--saudara kembar Algi.
Ahh, aku bahkan lancar mengabsen nama-nama mereka. Hari-hariku sudah membaik rupanya.
Oh, ya, ada satu lagi hal yang berubah dari diriku. Aku memperkenalkan diriku pada mereka dengan nama; Tiara. Sesuai dengan saran Tante Maria. Katanya nama itu lebih cantik dijadikan panggilan. Dan sekarang, termasuk Om Krisna, satu rumah memanggilku dengan sapaan itu.
Selain itu, aku berharap dengan merubah banyak hal dalam kepribadianku, akan mudah bagiku melupakan masa lalu yang sejujurnya sampai saat ini masih begitu membekas dalam hatiku.
Hari ini aku pulang menggunakan angkot. Tawaran Algi mengantarku pulang, kutolak. Aku tak ingin jadi olokan anak-anak lain, apalagi Algi terkesan badboy. Dan sudah pasti, aku akan dianggap korban cowok itu berikutnya oleh mereka.
Pintu gerbang besar rumah Om Krisna sudah terlihat.
Aku turun dari dalam angkot setelah menyerahkan pecahan lima ribu rupiah pada sang supir. Kakiku mengayun menapak halaman. Gerbang tengah tak terkunci rupanya.
Senyum Pak Soleh menyambutku dari posnya. Aku melambai tangan membalas senyuman itu. Pria tua berseragam satpam tersebut selalu saja begitu. Aku dekat dengannya seperti dekat dengan Pak Nandar. Seringkali kali bercokol ringan seraya menyiram tanaman di halaman belakang pada hari minggu atau sore hari selepas membantu Mbok Misni memasak.
Aku mulai terbiasa dan lepas berada di rumah ini.
Tante Maria semakin menunjukan kasih sayang yang aku sendiri bingung, saking merasa itu berlebihan. Hampir setiap minggu ada saja barang yang dia belikan untukku. Mulai dari pakaian, aksesoris, sepatu, tas dan lain-lain. Aku menolak, pasti dia mengomel. Padahal dengan diterima baik dan tinggal di rumah ini saja, sudah cukup membuatku bersyukur.
Aku mengucapkan salam saat tepat berada di ambang pintu. Lebih dari satu suara menyahut bersamaan.
__ADS_1
Aku mendekat ke arah mereka. Dan ... ada sosok lain di sana.
Sosok yang fotonya sering kulihat di banyak sudut dinding rumah ini.
Chelsea Milan Sanjaya
“Tiara, kamu udah pulang, Sayang?” Tante Maria menyambutku seperti biasa dengan senyumnya. “Ini lihat, siapa yang datang?” Satu tangannya melingkari pundak Chelsea.
Aku tersenyum kaku. “Oh hay, Kak. Aku Tiara,” sapa ringanku seraya memperkenalkan diri.
Chelsea tersenyum masam menatapku, sedikit---seperti orang tak suka. Aku bisa merasakan itu. Tapi aku bisa apa.
“Sini duduk, Sayang." Kursi kosong di sampingnya ditepuk Tante Maria untuk kududuki. Aku menurut saja tanpa banyak bicara. “Mulai sekarang, Chelsea akan tinggal bersama kita, juga akan kuliah di sini. Dia pulang dijemput papanya karena di Jepang sedang marak virus mematikan. Kami kan jadi cemas. Ini ... juga kejutan buat kamu!”
Begitu girangnya Tante Maria menyebutkan jika kedatangan Chelsea adalah kejutan untukku. Dan itu berhasil---aku terkejut.
Bukan aku tak senang, cewek itu pulang. Terlebih karena ini memang rumahnya. Tapi sepertinya hari-hariku tak akan sama, seperti saat tak ada dia. Entah kenapa, aku merasa terintimidasi. Sorot matanya membuatku ... sedikit takut.
“Hay, Tiara,” Chelsea menyapaku percaya diri. “Makasih, kamu udah temenin Mama Papa beberapa bulan ini. Mama selalu keliatan seneng kalo abis nyeritain soal kamu di video call sama aku.”
“Ah, iya, Kak Chelsea. Aku juga seneng dan berterima kasih, karena udah diterima di sini. Tante juga sering ceritain soal Kakak sama aku,” balasku seadanya saja, dipulas senyuman samar.
“Panggil Chelsea saja!” Cewek itu menyergah. “Aku berasa tua dipanggil kakak. Kata Mama umur kita kan cuma beda dikit aja.”
“Oh, iya maaf. Che-Chelsea," balasku kikuk.
“Nah, gitu 'kan enak,” timpal Chelsea lagi. “Oh, ya udah kalo gitu. Ma, aku mau istirahat. Kamarku udah diberesin 'kan?” Dia mulai berdiri.
“Sudah dong, Sayang,” jawab Tante Maria--ikut berdiri. “Ya udah, sana istirahat.” Lalu ia menoleh ke arahku. “Tiara, kamu juga istirahat ya.”
Seperti biasa, aku menurut saja.
_____
__ADS_1
Keesokan harinya di sekolah.
“Hay, Tiara!”
Aku mendongak, mengalihkan tatapan dari buku pelajaran yang tengah kubaca. Algi, tahu-tahu cowok itu sudah bertengger di kursi depanku dengan dagu disangga kedua tangannya yang terlipat.
“Ada apa?” tanyaku.
“Kantin yuk,” ajaknya dengan senyum dan alis dinaikturunkan. “Aku traktir deh.”
Sejenak kupandang wajahnya yang songong itu. “Aku gak laper, aku gak aus, kamu ajak yang lain aja," kataku menolak akhirnya, lalu kembali fokus pada bukuku.
“Jangan gitu dong, Tiara. Tiap kuajak kok kamu nolak terus sih.”
“Dia nggak mau, Kampret! Masih aja lu paksa!” Gibran muncul tiba-tiba. Sebungkus snack tortilla sibuk dilahapnya sambil berjalan. “Makan ini aja bareng aku ya, Ra,” tawarnya lalu duduk mengisi kursi kosong di sampingku.
“Nggak, makasih,” tolak halusku dengan senyuman tipis saja.
“Mereka ini kenapa sih?” batinku merasa heran.
“Ra, ini foto kamu ya?” Aku mendongak cepat. Menatap layar ponsel menyala yang disodorkan Algi ke depan wajahku.
“I-ini 'kan ....” Aku tergagap menanggapi gambar yang tertera di benda itu.
“Beneran kamu, 'kan?” potong cowok itu dengan senyuman senang. “Cantik banget!”
“Iya," Gibran menimpali. “Di rumah secantik itu, kenapa ke sekolah kamu dandan culun gini?”
Aku bingung bagaimana menanggapi.
“Da-dari mana kamu dapet foto itu?” tanya gugupku ingin tahu.
“Minggu lalu, pas aku boncengan sama Gibran lewat sekitar daerah itu. Gak sengaja liat cewek lagi nyiram kembang di halaman. Trus kita berenti, karena cakep, sapa tau bisa diajak kenalan, 'kan?" Algi terkekeh di sela penjelasannya. “Eh, pas diperhatiin lebih detail ... kok mirip kamu. Kita heran dong, masa sih itu kamu? Tapi pas bapak-bapak satpam manggil kenceng nama kamu, ‘NON TIARA!!’ Kita makin bengong kayak orang bego. Lah, iya beneran Tiara. Akhirnya aku foto deh.”
__ADS_1
Keduanya tertawa serempak, hingga mengundang perhatian teman-teman lain ke arah kami.
Ternyata ini alasan kenapa sikap mereka berubah 180 derajat. Dari yang awalnya hanya bercanda biasa saja, tiba-tiba keduanya gencar mendekatiku seperti magnet yang sulit dilepas.