Mutiara Retak

Mutiara Retak
Apakah Aku?


__ADS_3

“TIARA!”


Aku mendengar suara itu cukup kencang di telinga.


Mataku terbuka perlahan, mencoba menyesuaikan cahaya yang menembusnya. Sosok bayangan terlihat dalam remang penglihatanku. Aku mengucek mata, dan ....


“Tante, ada apa?” tanyaku merasa aneh. Kenapa Tante Maria datang ke kamarku seperti orang panik?


Sampai suara Om Krisna menyusul keras bertanya, “Tiara! Apa yang terjadi sama kamu, Nak?!”


Aku melengak kejut seraya bangkit, dan ....


Ada yang aneh!


Aku menurunkan kepalaku merunduk dan mendapati tubuhku telah tak berbusana.


Ya, Tuhan! Apa yang terjadi padaku?!


Selimut yang merosot kunaikan gegas hingga ke leher. Seperti dikejut listrik, aku mengedar pandang mengamati sekitaran.


Keadaannya ... ini bukan kamarku! Beralih pada jam dinding yang tergantung di satu sisi ruangan, menunjuk angka 12.25. Dari arah balkon, di balik pintu kacanya yang tertutup, hari masih sangat gelap. Aku semakin terkejut ... Tuhan ... ini tengah malam. Dan aku ... aku ada di mana?


“Tante, apa yang terjadi sama aku, Tante?!” Aku memekik kemudian.


“Halah! Sok polos lu! Pake pura-pura!” Chelsea yang entah kapan sudah masuk menyemprot keras. “Bilang siapa cowok yang udah tidur sama lu di kamar hotel ini?!”


Apa katanya?


Kamar hotel?


Aku semakin bingung.


Kutatap cewek itu dengan air mata dan ketakutan yang berbaur menjadi satu. “Apa maksud kamu, Chelsea?”


“Gak us--”


“Chelsea diem!" Tante Maria memungkas keras, membungkam seketika mulut berisik Chelsea. Wanita paruh baya itu menatapku sejenak dengan air mata berlinangan, lalu menarikku ke dalam pelukannya. “Ya, Tuhan.” Dia meraung. Rambutku diremasnya seolah menumpahkan semua rasanya di sana.


Untuk saat ini aku masih belum paham, apa yang menimpaku sebenarnya. Ingatanku seperti terblokir gelap.


Namun hatiku merasakan kesakitan yang teramat, seakan sesuatu yang buruk benar- benar telah terjadi. Ditambah ucapan frontal Chelsea sesaat lalu, juga ... tubuhku, pakaianku! Kenapa aku bisa te.lanjang?!


Kulihat Om Krisna menutup pintu tanpa merapatkannya, usai bercakap singkat bersama seseorang dari arah luar. Dia kemudian menghampiriku, berdiri di samping Tante Maria, lalu bertanya, “Tiara, apa kamu bener-bener gak ingat apa yang terjadi sama kamu?”


Aku menatap ke dalam mata pria itu setelah menegakan kepala, menarik diri dari pelukan Tante Maria, lalu merundukkan kembali wajahku merasakan malu yang teramat.

__ADS_1


Sekeras-kerasnya aku memaksa ingatku untuk bekerja. Aku harus tahu apa yang terjadi padaku sebenarnya.


Sampai ....


“Aku tahu yang tidur sama dia!”


Berita itu sontak menarik semua pandangan terkejut mengarahnya. Seorang cewek berdandan glamour baru saja masuk.


“Samantha,” gumamku nyaris tak terdengar. Dan .... “Pramuda.” Cowok itu mengikuti di belakangnya. Aku merundukkan lagi wajahku. Terlalu malu dengan keadaan.


Aku benar-benar merasa seperti seorang la.cur tanpa kehormatan. Dan itu mungkin saja benar.


“Tha ....” Chelsea buka suara, “Maksud lu?”


Tante Maria bertanya tak sabar, “Apa maksud kamu, kalau kamu tahu?”


“Bisa jelaskan pada kami?” Om Krisna menimpali penasaran.


Aku tak berani mengangkat kepala. Sementara suara Samantha mulai terdengar.


“Tadi masih awal-awal acara aku liat cewek itu gandengan sama cowok. Kayaknya dia mabuk. Dia dibopong masuk ke lift. Karena penasaran, aku ikutin ... ternyata dia sama cowok itu masuk ke kamar ini.”


Aku melengak sontak. Melihat ke arah wajah Samantha yang menjelaskan secara menggebu.


“Kenapa lu gak cegat mereka, Samantha?” Chelsea mengerang seraya maju mendekat ke arah sahabatnya itu. “Karena kelakuannya ini dia udah permaluin bokap gue! Keluarga gue!”


“Cukup!” Tante Maria menyerang keras. “Pergi kalian!”


Om Krisna menenangkannya dengan usapan lembut di pundak. Sementara aku, dadaku mulai meledak-ledak. Isak tangisku semakin dalam meliput rasa.


“Permisi, Om, Tante." Pramuda menarik tangan Samantha untuk meninggalkan ruangan ini sesegera mungkin. Entah apa pandangan cowok itu tentang aku sekarang.


“Cewek muna, lo!” Chelsea menunjukan jarinya ke arahku, wajahnya menggeram merah. “Sekarang sebentar lagi semua orang bakal tau kelakuan tolol lu yang nantinya nyeret nama baik keluarga sama gue juga!"


“Chelsea!” Om Krisna menghardik. “Jaga omongan kamu!”


Belum sempat kata lainnya terdengar, Chelsea sudah lebih berlalu dari ruangan seraya menyentak keras, “Kalian selalu aja belain dia!” Menyusul bantingan keras di pintu yang tertutup.


“Chelsea!" Tante Maria memanggil yang tentu saja tak akan pernah disahuti putri semata wayangnya itu.


“Tiara, kamu pake baju-baju kamu, Nak. Kita bicarakan ini nanti. Sekarang kita pulang.”


Tante Maria memberi angguk menyetujui.


“Om keluar duluan.” Sesaat Om Krisa mengelus kepalaku sebelum benar-benar berlalu meninggalkan kami.

__ADS_1


 


Sepanjang perjalanan di dalam mobil, tidak ada satu pun dari kami yang bersuara. Keluar dari dalam hotel tadi, seorang pria pegawai bangunan megah itu, menuntun kami melewati jalan lain, menghindari acara ulang tahun Rossa yang masi nampak ramai di bagian muka.


Om Krisna menyetir sendiri mobilnya, tanpa Pak Bowo.


Semburat wajahnya muram menatap jalanan di depan, itu kutangkap dari kaca spion yang tergantung di tengah atas kepalanya.


Aku membuang wajah ke jalanan di samping kaca yang tergerus jarak demi jarak. Pikiranku melayang kembali menggali pada kejadian apa yang menimpaku sebenarnya.


Sampai di waktu ke sekian. Ingatan dari mulai aku datang ke pesta, duduk di kursi seorang diri, di sapa Algi, mengobrol juga meneguk minuman yang diberikannya, lalu ....


Aku terperanjat kemudian. Bola mataku lebar membayangkan detik-detik saat kepalaku mulai sakit, hingga Algi membopongku ke dalam kamar hotel.


Degup jantungku mendera kencang seketika itu juga.


Algi!


Cowok itu ...?


Dia yang membawaku ke dalam kamar hotel, lalu ....


Aku mulai mengingat semuanya.


Di depanku, dia membuka jas dan melempar kaos yang dikenakannya lalu mengungkungku. Tapi ....


Dia tak menyentuhku di saat itu. Seseorang menyeretnya keluar setelah sesaat mereka nampak berseteru.


Tapi beberapa waktu setelahnya ....


Jantungku semakin sakit membayangkannya. Aku menutup mulutku menahan tangis yang ingin meledak sebenarnya. Tapi aku tak ingin semakin membebankan Tante Maria dan Om Krisna yang saat ini tengah diam dan mungkin larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Bayangan bagian-bagian terakhir yang kulewati di kamar itu, kini menghantam sesak seisi dada.


Seseorang kembali datang! Dan aku ... aku merasakan sesuatu semakin menggelora dalam diriku saat orang itu menghampiri dan menyentuhku.


Tuhan!


Apakah dia Algi? Atau orang lain?


Apakah aku benar-benar telah ternoda dan terkoyak?


Apakah takdirku pada akhirnya hanya berujung seperti ini?


Ayah ....

__ADS_1


Kali ini aku tak bisa menahan isakan yang membludak melewati kerongkongan.


“Tiara!”


__ADS_2