Mutiara Retak

Mutiara Retak
Tentang Ketidakpantasan


__ADS_3

Udara dingin malam tak bisa menolong perasaan sesakku yang mengikat bagaikan jerat. Nandan terus bicara tentang kata maaf yang rasanya terlalu jengah untuk kudengar.


Apa aku bisa mentolerir apa yang dia buat?


Perasaanku hanya seharga aturan kolosal orang tuanya. Dia tak punya tameng bahkan untuk sekedar menghalau dan membiarkanku berada di sisinya sebagai seseorang yang pantas.


__


Suara gedebuk lutut yang berlabuh di bawah rerumputan taman halaman hotel, membuatku tersentak kejut.


Nandan berlutut di depanku. Menurunkan harga tingginya sebagai seorang lelaki. Wajah mendongak memandangku dengan nanar sendu. Sepasang tanganku bahkan digenggamnya demi melancarkan bait-bait pernyataan klasik.


“Aku mau bangkang semuanya, Mut. Aku mau lawan apa pun pengaturan Papi. Tapi aku gak ada nyali! Aku lemah! Aku bodoh!” celotehnya penuh sesal. “Aku masih sayang kamu, Mutia.” Wajahnya ia tuntun untuk menunduk, seolah di bawah sana bisa ia muntahkan segenap kebimbanganya.


Aku meronta-ronta menarik tanganku. “Lepasin tangan kamu, Nandan! Gak seharusnya kamu kayak gini! Ini acara pertunangan kami! Mereka semua pasti nyarii--”


Belum sempat cerocosanku usai ....


“NANDAN!"


Suara panggilan berisi emosi terdengar mengejutkan udara malam yang berjalan.


Kami--aku dan Nandan, menoleh bersamaan ke arahnya.


“Papi!” Nandan bangkit cepat dibarengi belalak matanya.


“Apa yang kau lakukan?!” Pria itu berjalan cepat mendekat ke arah kami. Wajah bengisnya tak ada isi tentang sebuah pengampunan. “Kau mau mempermalukan Papi, huh?!” bentaknya pada Nandan. Pria tua itu lalu menoleh ke arahku. Tatapan tajam dan kejamnya menghunuskan kebencian yang tak terukur oleh apa pun. “Dan kamu ... gadis murahan--”


“Pi!” Nandan menghardik sebagai bentuk pembelaannya terhadapku.


“Diam kamu!” semprot Papinya lagi. “Wanita seperti ini yang mau kamu jadikan pilihan untuk melawan Papi?! Bahkan langit pun mengutuk untuk itu, Nandan!”


Nandan terperanjat dipulas mata membelalak lagi-lagi. Suara geram lolos terdengar menghalau ucapan sang ayah, “Papi keterlalun! Mutiara tidak serendah itu, Papi!”


Sementara aku sudah terisak. Rentet kalimat papinya Nandan terlalu mencabik 'tak pakai otak.


Segitu haramnyakah aku dengan anaknya?


Mulutku bahkan tak bisa melontar walau hanya sebentuk ucapan kecil pemberontakan saking tercekat.

__ADS_1


Di tengah letupan amarah, Papi Nandan kembali menyentakku, “Kamu wanita sampah! Seharusnya kamu--”


“Siapa yang Anda maksud dengan wanita sampah?!”


Ledak suara bariton menerjang suasana tegang di antara kami.


Serempak aku, Nandan dan papinya menoleh ke asal suara.


“Om,” desisku sama terkejut, menatapnya tak menyangka ia akan datang untuk membela.


“Anda berpikir anak saya semurah itu?” Om Krisna mulai berkoar dengan gagahnya seraya memeluk pundakku yang terasa masih bergetar. “Kalimat Anda bisa saya teruskan ke jalur hukum. Saya membesarkannya bukan untuk dihina oleh Anda!” lanjutnya sengit membumi langit. “Yang seharusnya Anda tekan itu putra Anda sendiri!“ Sekilas ia menoleh pada Nandan. “Dia yang mengejar anak saya sampai ke tempat ini!” Telunjuk Om Krisna bermain tangkas di tiap ucapannya. “Dan kamu, Nandan! Jangan jadi pecundang!”


Kalimat penutup yang menyentak tersebut cukup mengacau Nandan. Ekspresi sesal meresah tak dapat disembunyikan lelaki itu.


Sedang pria tua kasar di depannya, membeku di antara malu dan terkejut. Pembawaan tegas Om Krisna membuatnya padam dan terempas. Menghancurkan batu arogansi yang melambung lalu melebur.


“Ayo, Tiara! Kita pulang!”


Telapak tanganku ditarik Om Krisna menjauh dari pasang anak dan ayah itu. Aku patuh di tengah rasa yang mendorong.


Aku bahkan tak ingin menoleh.


Satu kejadian ini membuatku paham. Nandan bukanlah objek yang pantas untuk menghabiskan air mataku.


Ya! Aku juga manusia yang patut dihargai. Bukan sampah seperti yang dia katakan. Aku sakit mengingat itu.


Sampai di sini saja cerita kita, Nandan!


Sisa perasaan aku ... akan melebur seiring waktu.


_____


Di perjalanan pulang, Tante Maria tak henti menyemangati dan menguatkanku. Dia sampai pindah duduk ke jok belakang hanya demi menemaniku. Peluk dan usapan lembutnya begitu hangat terasa. Aku sudah cukup tenang sekarang.


Memiliki mereka, aku seperti tak pernah kehilangan siapa pun. Sosok orang tua sambung yang lengkap dengan tumpahan kasih sayang melimpah ruah. Sekarang penyesalanku karena tak sempat berbicara dengan Ayah di saat terakhirnya perlahan mengabur. Ayah menitipkanku di tempat yang indahnya terasa melebihi surga. Walaupun aku tak tahu seperti apa itu surga.


Semoga Ayah dan Ibu selalu tersenyum di tempat terbaiknya di sisi Tuhan. Aku harus bahagia demi mereka.


____

__ADS_1


Esok harinya di meja makan.


Chelsea nampak terkejut level akut, saat mengetahui dari mulut Tante Maria, kalau Nandan itu mantan pacarku. Dia seperti tak percaya, bahwa orang sekelas aku bisa memiliki pacar sekeren, sekaya, dan semanis Nandan. Seperti sebuah ungkapan, ‘pungguk merindukan bulan’.


Tapi pada akhirnya olokan kecil keluar juga dari mulutnya,


“Orang sekelas kamu gaul sama orang kaya, ya gitulah ujungnya ... dicampakan!”


Mulut pedas cewek itu mendapat hardikan keras dari Om Krisna, “Jaga bicara kamu! Kita semua manusia, setara di mata Tuhan! Kalau kamu membedakannya sesuai kasta, bagaimana jika Tuhan suatu saat membalikan nasibmu sampai ke dasar. Apa kamu akan tenang mendapat hinaan seperti yang kamu lontarkan pada Tiara?!”


Chelsea terdiam sejenak, lalu mendelik, “Emang Papa mau biarin aku jatuh miskin?!” tanya baliknya seraya bangkit lalu pergi dengan segelas susu di tangannya.


Aku tersenyum ke arah Om Krisna. “Gak apa-apa, Om. Gak usah diperpanjang. Aku baik-baik aja.”


Tante Maria tersenyum miris. Diusapnya punggungku lembut seperti biasa. “Maafin Chelsea, ya, Sayang.”


Aku mengangguk dan tersenyum. “Iya, Tante. Dari awal aku gak pernah anggap kok.”


“Terima kasih, Nak. Tante tahu kamu itu kuat.”


Tak ada timpalan apa pun lagi setelah itu. Om Krisna sudah mengelap bibirnya dengan tissue. Dia mulai bersiap-siap mengenakan jasnya yang tersampir di sandaran kursi dibantu istrinya.


“Ayo, Tiara. Kita berangkat. Nanti kamu terlambat.”


“Iya, Om.” Aku pun turut bersiap-siap. Bangkit dari duduk lalu menggendong tas-ku. Mencium punggung tangan Tante Maria dan Mbok Nismi yang mulai sibuk membereskan sisa sarapan kami.


“Aku pamit ke sekolah dulu, Tan, Mbok.”


“Hati-hati.”


...🌺🌺🌺🌺...


Aku tidak ada menyalahkan takdir.


Kepergian Ibu saat aku kecil, disusul Ayah di usia SMA-ku, akhir kisah cintaku dengan Nandan, menjadi bagian keluarga Om Krisna, sekolah baru, teman baru--------hidup baru. Semua berjalan sesuai garis dan ketentuan-Nya.


Bukan ujian untuk menghancurkan, Tuhan mencintaiku dengan cara-Nya.


.....

__ADS_1


Jalanan berlalu seiring perputaran roda mobil yang dikendarai Om Krisna. Kutatap dengan ulasan senyum setipis kasa.


Aku akan melangkah lebih jauh dari ini.


__ADS_2