
“Kamu sendiri, kok tahu namaku? .... Kamu stalking aku, ya?”
Melototkan mata lagi-lagi, aku benar-benar ingin menampol wajah glowing si Jancent itu.
“Enak aja kamu ngomong! Aku tu tahu dari Chelsea. Dia nunjuk-nunjuk sebut nama kamu waktu pesta tunangan itu!”
Kerucut bibirku ditepuk pelan Jancent seraya terkekeh, membuatku semakin mengerang geram menyikapinya. “Kamu tu ya!” Hampir saja tanganku benar-benar menampar wajah cowok konyol di depanku ini, namun urung. Aku 'kan bukan preman.
“Hahaha!” Dengan sintingnya dia malah tertawa. “Kok gak jadi mukulnya?! Tangan kamu ada rem otomatisnya, ya? Hahaha!”
“Ah udah ah, aku mau cabut aja dari sini!” Aku berdiri cepat dengan tampang kesal.
“E eh eh, tunggu!” Jancent mencegah. Lagi-lagi tanganku ditariknya. “Kita 'kan belum cerita-cerita soal kenapa kita bisa saling tahu nama satu sama lain.”
“Gak usah!” tolak cepatku seraya menepis kasar pegangannya di lenganku. “Bisa gila lama-lama ngomong sama kamu!”
Kemudian berlanting cepat meninggalkannya sebelum tanganku ditariknya lagi.
“Tiara!”
Aku tak peduli panggilannya yang mendengung di kejauhan. Cepat kakiku melangkah, hingga tanpa terasa sudah kembali berada di area kampus. “Selamet deh!” Lega embus napasku seraya mengusap dada.
Untuk hari ini cukup saja. Jancent benar-benar konyol.
“Mending aku telpon Zhio,” gumamku. “Semoga dia ada free hari ini.”
Hanya tiga kali berbunyi ‘tut’, sambungan panggilanku sudah diangkatnya. Aku dan Zhio mengobrol beberapa saat. Dia bilang sedikit sedang terkena flu, hingga suaranya sedikit berbeda hari ini. Dia juga bilang akan menjemputku saat pulang nanti, walaupun aku mengatakan tidak perlu, karena kondisinya yang mungkin tengah tak sehat. Tapi bukan Zhio kalau tak keukeuh pada keinginannya. Aku mengalah saja. Sekalian mungkin bisa kupaksa untuk pergi berobat ke klinik.
Waktu merangkak jauh.
Aku sudah berdiri dalam boncengan Zhio di atas vespa kesayangannya. Kulit sawo matang di wajahnya memang agak pucat kulihat hari ini. Aku memaksanya untuk pergi ke klinik, tapi dia menolak. Dia bilang tak biasa meminum obat-obatan kimia sejenis itu.
Pada akhirnya jalan pulang menuju rumah Om Krisnalah yang kami tuju.
__ADS_1
Namun di perjalanan, Zhio menghentikan laju motornya mendadak di tepian.
“Ada apa?” tanyaku ingin tahu.
“Aku ada sesuatu yang mau aku kasih ke kamu. Tapi malah ketinggalan di rumah,” jelas Zhio.
“Sesuatu? Apa?” Aku penasaran. Tanganku masih melingkar manis di pinggangnya yang tak kurus namun juga tak lebar.
“Ada deh. Kamu bakal tau juga nanti. Jadi kita ke rumahku dulu bentar ya. Abis tu baru aku anter kamu pulang.”
Untuk sejenak aku berpikir. “Kira-kira lama nggak?”
Zhio tersenyum seraya mengasak kepalaku yang tertutup helm. “Nggak kok. Cuma ambil yang mau aku kasih ke kamu aja. Kalo sampe telat, kejebak macet dan lain-lain, aku yang tanggung jawab jelasin sama om atau tante kamu.”
Aku menerima setiap ucapnya dengan anggukan. Tak lama vespa pun melaju kembali dengan arah lain yang kami ambil di pertigaan.
Hanya memakan waktu setengah jam dengan lalu lintas lancar, aku dan Zhio bersama vespa-nya sudah sampai di depan halaman rumah sederhana Zhio yang baru satu kali kujejaki saat awal-awal kami berpacaran. Zhio tak tinggal dengan siapa pun. Orang tuanya bekerja di luar kota. Dia hidup seorang diri dengan biaya mandiri dari hasil kerjanya sebagai seorang freelance dan beberapa lain yang ditekuninya. Dia akan meminta orang tuanya mengirim uang ketika terdesak saja. Begitu cerita singkat yang kuketahui dari mulutnya.
“Masuk yuk!” Kami berjalan dengan Zhio memimpin di depan untuk membuka pintu rumahnya tentu saja.
Kursi tamu berbingkai ukiran batik kayu berflitur, kududuki. Sementara Zhio masuk ke arah dapur untuk mengambil minum ucapnya. Aku menunggu seraya mengedar pandang. Cowok ini benar-benar menyukai barang-barang klasik, komentar hatiku.
Dering ponselku tiba-tiba berbunyi memecah keheningan. Aku melihatnya gegas. Dan ternyata itu Tante Maria.
Beberapa saat bercakap dengan wanita itu. Dia bertanya dengan cemasnya di mana aku. Yang langsung kujawab sejujurnya saja. Aku berada di rumah Zhio, sesaat untuk mengambil sesuatu yang tertinggal, lalu akan pulang secepat mungkin. Tante Maria mengerti dan tak bertanya lebih jauh. Perangai baik Zhio di mata keluarga Om Krisna membuat aku tak begitu kesulitan menjalani hubungan dengannya. Om Krisna memberi kepercayaan banyak pada Zhio untuk menjagaku setelah dia tentu saja.
“Siapa yang telpon?” tanya Zhio seraya menaruh segelas minuman jeruk di atas meja tepat di depanku.
“Tante Maria,” jawabku seadanya.
Zhio manggut sekilas. “Ya, udah. Minum tuh. Kamu pasti aus, 'kan?” Ditutup senyumannya.
“Makasih," ucapku setulus hati tertular senyum.
__ADS_1
Minuman dingin itu sudah kugenggam untuk kemudian aku sesap secara santai. Sementara Zhio sudah mengambil posisi duduk di sampingku seraya memainkan ponsel.
“Jadi, sesuatu apa yang mau kamu kasih ke aku?” tanyaku kembali ke niatan awal kami. Gelas minuman itu sudah kutaruh kembali atas meja.
“Oiya.” Zhio terkekeh seraya mengasak gemas pucuk kepalaku. “Ya, udah. Aku ambil bentar di kamarku ya.”
Aku mengangguk bersemangat. Cukup penasaran juga dengan sesuatu apa sebenarnya yang akan dia berikan kepadaku.
Hanya memakan setidaknya dua menit saja, Zhio sudah kembali.
Aku mengamati apa yang tertenteng di tangannya dengan pandangan tak sabar.
Lahan kosong kursi di sampingku kembali dudukinya.
“Nih, buat kamu.”
Aku terpaku menatap benda kotak yang tersodor di depan wajah. Tidak terlihat seperti kotak perhiasan atau lainnya. Bentuknya sedikit unik saja.
“Apa ini?” tanyaku.
Zhio membukanya perlahan seolah memberi teka-teki dan mencuatkan rasa penasaranku. Namun detik berikutnya, kotak itu dibukanya secara sempurna lalu tersenyum penuh kepuasan.
Sebuah kalung berbandul butiran bening air. Aku menatapnya kagum dengan mata membelalak lebar.
“Ini 'kan, kalung yang aku tunjuk di toko waktu itu!”
Zhio tersenyum dan mengangguk, sementara tangannya menarik benda itu dari tempatnya. “Aku pakein ya?” Dia berpindah posisi ke belakangku, menyibak ikatan rambutku ke depan, lalu melingkarkan kalung cantik itu di leherku.
Aku menurut tanpa bisa berkata-kata. Bandul butiran bening air ... kenapa aku begitu menyukainya?
Bukan! Bukan tentang sebuah selera.
Tapi ... bentuk bandul itu mengingatkanku pada Ayah. Almarhum pernah memberikannya untukku saat aku SMP, namun kuhilangkan entah di mana.
__ADS_1
“Kamu suka?” tanya Zhio setelah kembali duduk di sampingku seperti semula.
Aku mengangguk cepat. Bandul tetesan air bening di kalungnya kumainkan dengan seulas tangisan haru. “Makasih, Zhio.” Rasa bahagia tak bisa kusembunyikan, aku menubrukkan diri ke pelukan Zhio. “Makasih. Makasih banget. Aku sayang kamu.”