
Gagang telpon yang menempel di telingaku jatuh begitu saja. Tangan dan tubuhku gemetar tak terkendali. Sepasang mata melebar seperti akan lepas. Jantungku seakan dihantam sesuatu yang berat, keras, dan juga kasar.
“AYAAAAHHH!” Teriakanku menggema membelah langit. Aku berlari keluar seperti orang kesurupan. Menembus hujan menjejak halaman rumah bahkan tanpa alas kaki.
“Mutia! Ada apa, Nak?!”
Panggilan itu menghentikanku. Aku menoleh ke arah suara dengan tangisan memecah. Pak Nandar berdiri cemas di terasnya. Ia mungkin terganggu karena teriakanku.
“Pak, ayahku, Pak!”
“Ayahmu kenapa?!”
“Ayah kecelakaan!”
“Apa?!” Pak Nandar diikuti istrinya yang baru saja keluar berlari ke arahku. Sebuah payung besar menaungi mereka.
“Kamu gak becanda, 'kan, Muti?!” Bu Saida mengambil bagian tanya.
Aku menggeleng dengan wajah kacau. “Tadi polisi telpon aku. Mereka bilang Ayah sekarang di rumah sakit,” ungkapku dalam isakan.
“Ya, Tuhan," ucap kedua suami istri itu. “Kalo begitu tunggu sebentar. Bapak ambil mobil dulu. Kita pergi sama-sama!” Pak Nandar berlari ke dalam rumah. Menyisakan aku yang dipayungi Bu Saida. Bersandar dalam pelukannya.
Beberapa saat kemudian, suara deru mesin terdengar. Sebuah mobil bak putih--mobil yang biasa digunakan Pak Nandar menarik sayuran-sayurannya, keluar dari dalam garasi kemudian menghampiri kami.
“Ayo masuk!” ajak Pak Nandar.
Aku dan Bu Saida masuk ke dalamnya tanpa menunggu apa pun, bahkan dengan keadaan baju yang sudah basah.
Dalam perjalanan, Bu Saida terus memelukku. Beberapa pertanyaan terlontar dari mulut Pak Nandar yang lalu kujawab dengan kalimat seadanya.
Perasaanku begitu kacau.
Rasa sesal dan sesak menggumpal menjadi bagian yang terasa begitu menyakitkan.
Aku menyesal karena tak bisa menahan Ayah untuk pergi menemui Nandan. Aku menyesal cerita semuanya pada Ayah. Aku menyesal memilih pulang. Dan aku menyesal ... kenapa aku harus mengenal Nandan.
Tuhan ....
Sibuk berhambur dengan pikiran dan hati yang kacau, tak terasa, bangunan rumah sakit paling besar satu-satunya di daerah kami ini, sudah menjulang di depan mata. Pak Nandar membelokan mobilnya untuk mencari lahan parkir.
Didapat sudah, kami keluar dengan langkah-langkah lebar menuju bagian informasi. Setelah mendapat jawaban, kami tancap berlari ke arah ruangan di mana Ayah dilarikan oleh para penolongnya.
Sesampainya, dua orang polisi nampak tengah mengobrol di depan pintu dua daun berkaca di belakangnya. Aku, Bu Saida dan Pak Nandar menghampiri mereka gegas.
“Gimana keadaan ayah saya, Pak Polisi?!” tanyaku langsung saja.
__ADS_1
Keduanya menoleh bersamaan padaku.
“Apakah kamu anaknya bapak yang kecelakaan?” Salah satunya bertanya.
Aku mengangguk cepat. ”Betul, Pak. Saya Mutiara--anaknya. Bagaimana keadaan ayah saya?” ulangku tak sabar.
Sebelum polisi itu menjawab, seorang pria berseragam dokter keluar dari dalam ruangan. Kami semua yang di sini menolehnya serentak.
“Dokter!” panggilku seraya maju mendekatinya. “Gimana ayah saya?!”
Dengan sikap wibawanya, disertai sedikit hembusan napas berat, ia lalu berujar, “Begini, Nak ... ayah kamu dalam keadaan kritis, karena benturan keras di kepala, yang menyebabkan pendarahan internal. Beberapa bagian tulang punggungnya juga patah. Beliau belum sadarkan diri.”
Untuk sejenak aku tak bisa berkata. Untaian penjelasan dokter itu benar-benar menghancurkan duniaku sekaligus. Aku bahkan tak bisa menopang tubuhku sendiri. Jatuh melumbruk begitu saja dengan raungan tangis memecah kesunyian malam. “Ayah ...!”
Bu Saida ikut menurunkan tubuhnya dan kembali memelukku erat. Walaupun begitu terasa hangat, tak lantas bisa memberiku ketenangan. “Sabar, Nak.” Ia turut menangis.
“Sebaiknya kita perbanyak berdo'a. Agar ayah kamu bisa secepatnya melewati masa kritisnya.” Pak Nandar menyarankan.
“Itu benar, Sayang,” timpal Bu Saida.
Telingaku menangkap suara pintu tertutup, sesaat setelah dokter pria itu berlalu pamit dari hadapan kami. Aku meraung sejadi-jadinya, melepas betapa sakitnya perasaanku saat ini.
Pak Nandar dan satu orang polisi berusaha menenangkanku selain Bu Saida.
Samar kudengar teriakan Bu Saida menggema di telingaku sebelum semuanya hilang.
Selebihnya ... aku tak tahu.
...****...
“Ayah!” Aku tersentak seraya bangkit terperanjat. Peluh menggelinding terasa panas melewati pelipisku. Aku berada di dalam sebuah ruangan perawatan, di atas sebuah brankar rumah sakit.
Bayangan Ayah melambai lalu menghilang masih membayang di pelupuk mata.
“Sayang! Kamu sadar?! Apa yang sakit?! Biar aku panggilin dokter?!”
Sontak perhatianku tercuri oleh suara itu. Pandangan lalu kualihkan padanya yang kini menatapku dalam kecemasan di sisi kananku. “Na-Nandan!” sebutku terbata. “Kenapa kamu di sini?” Terkejut nadaku bertanya.
Cowok itu terdiam. Rapuh menatapku dibaluti kesedihan yang mendalam. “Maafin aku, Mutiara," ucapnya terdengar lemah. “Ini semua salah aku.”
Kalimat itu seketika membuatku sadar. Dia baru saja mengakhiri semuanya denganku--beberapa jam lalu. Aku menutup mulut tak bisa menahan tangis, lalu sesenggukan.
Nandan berdiri bergerak mendekat lalu memelukku dalam posisi berdiri dan menyamping. “Maafin aku ... aku mohon, maafin aku.”
Aku meronta meminta dilepaskan, tak ingin dipeluknya. Dia menyakiti aku. Aku benci dia!
__ADS_1
“Pergi kamu! Pergi!” Aku mengusirnya dengan sebuah dorongan tangan. Dekat dengannya hanya menambah sesak di dada.
Menit yang sama, suara pintu terdengar terbuka. Muncullah sosok Bu Saida setelahnya. Pelukan Nandan sontak terlepas karena itu.
“Mutia, kamu sadar, Nak?” tanya cemas wanita itu.
Aku mengangguk masih dalam tangisan. “Syukurlah, Sayang.” Ia memelukku sesaat, melepaskannya, kemudian berkata, “Pak Mukti sudah sadar. Dia mau ketemu kamu.”
“Beneran, Bu?!” tanyaku dengan bola mata berbinar terang.
“Iya, Nak.”
Gegas kuseka air mataku agar tak dilihat Ayah nanti. Nandan berdiam sedih saat aku menepis tangannya ketika ia berusaha membantu. Aku turun dari brankar dengan topangan Bu Saida pada akhirnya.
Dengan langkah terseok dalam keadaan kepala masih terasa berdenyut, aku berjalan sedikit cepat menuju ruangan di mana Ayah dirawat.
“Ayah!” Teriakan pertama saat kakiku menapak ambang pintu ruangan itu. Aku berlari menyongsongnya---lagi-lagi dengan tangisan.
Aku memeluknya dengan posisi membungkuk. Menyampirkan kepalaku miring di dadanya. “Akhirnya Ayah sadar,” kataku senang bercampur takut.
“Muti.” Lirih dan lemah, suara Ayah memanggilku.
Aku bangkit seraya menyeka air mataku. “Iya, Yah?”
Keningku mengernyit bingung, sembari terus memperhatikan gerak mulut Ayah yang berucap dengan nada terputus-putus di balik tabung oksigen yang menutup mulutnya.
Seperti susunan angka yang aku sendiri tak paham, saking kacau perasaanku.
“Kayaknya itu deretan nomor telepon!” Nandan tiba-tiba memotong. Ia menyeruak maju lalu berdiri di sampingku mendekati Ayah. “Bisa Om ulangi? Biar aku catat di hape-ku sekarang,” sambung cowok itu seraya mengibaskan ponselnya di depan dada.
Namun sebelum itu, Nandan meminta tolong dokter untuk sesaat melepaskan tabung oksigen di mulut Ayah agar mendapatkan kejelasan ucapannya nanti. Aku sempat menghardik, tapi dokter mengizinkan kemudian.
Setelah tabung dilepas, Ayah mengulangi deretan nomor tadi dengan susah payah dan napas tersengal-sengal, Nandan mencatatnya dengan teliti. Aku sungguh tak tega. Sesak hatiku menatapnya sedemikian.
“Muti, kamu hubungi nomor itu secepatnya.”
Kalimat itu diucapkan Ayah terbata. Aku mengangguk dengan air mata berderaian.
“Ayah sayang kamu, Nak!”
Kata-kata akhir lolos dari mulutnya, sebelum akhirnya kembali tak sadarkan diri.
Aku menjerit histeris. Ayah pingsan. Dan dokter bilang, ia harus segera dioperasi. Tanpa pikir panjang aku menyetujui hal itu. Tanpa memikirkan perihal biaya atau apalah. Yang penting Ayah bisa sehat kembali.
Demi apa pun, aku tak ingin kehilangannya.
__ADS_1