Mutiara Retak

Mutiara Retak
Pesta


__ADS_3

Tubuhku mendadak gemetar.


Bagaimana ini?


Aku pasti akan mempermalukan keluarga ini dengan penampilanku yang alakadar. Aku sedikit menyesal tak mengikuti apa kata Tante Maria agar mengenakan gaun yang ia berikan. Tapi aku juga tak bisa mengabaikan perasaanku.


Perlahan dan kaku, aku memundurkan kaki langkah demi langkah. Sebelum ada yang melihat, aku berbalik badan untuk menjauh dari tempat itu sesegera mungkin. Menuju kamarku--begitu yang kupikirkan.


Namun ....


BRUGG


Tubuhku tak sengaja bertabrakan dengan dada bidang seseorang.


“Tiara!”


Aku mendongak cepat. “Om.”


“Kamu kenapa lari-lari?” tanya Om Krisna dengan kerutan di wajah. “Acaranya sebentar lagi akan dimulai. Ayo ke sana bareng Om.”


Bagaimana aku harus menyikapi. Orang seperti Om Krisna jelas tidak akan mempedulikan penampilanku. Di matanya aku pasti tetap sama, walau tak berubah menjadi cinderella malam ini.


“Tapi, Om--”


“Udah, ayo!”


Dia menggandeng pundakku tanpa beban. Membawaku menuju kemeriahan pesta di taman belakang.


Aku semakin ketar-ketir. Bagaimana tanggapan Tante Maria tentang pemberontakan kecilku juga pandangan Chelsea?


Aku takut!


Akhirnya langkah kakiku menepi. Hanya beberapa waktu setelah aku melarikan diri tadi, keadaan sudah sangat meriah. Banyak tamu berdatangan dari arah yang sudah dijuruskan.


Aku merunduk tak berani mengangkat wajah. Bahkan untuk sekedar menatap kerlap-kerlip lampu yang terpajang di tiap sudut taman ini. Om Krisna telah berlalu pamit untuk menemui tamu-tamunya. Aku semakin bingung harus apa.


“Tiara!”


Suara Tante Maria!


Tidak!


Tuhan ... bagaimana ini?


“T-Tante!” sahutku tergagap.

__ADS_1


Wanita paruh baya cantik dan baik hati itu mulai mendekat ke arahku. “Kamu kenapa gak pake gaun yang Tante kasih tadi?!”


Lidahku seperti terjepit. Rasanya sulit bahkan untuk setidaknya mengucapkan maaf.


“Sayang ... jangan bilang lagi, kalau kamu merasa gak pantes! Tante gak suka sama kata-kata itu!” Ia mulai mengomel.


“Tiara, kamu tu malu-maluin aja, ya! Ini tu acara aku! Acara penyambutan kepulanganku dari Jepang!” Suara Chelsea menimpal ketus. Dia tahu-tahu sudah berdiri di samping Tante Maria dengan tangan bersedekap dan tampang muaknya menusukku.


“Ma-maaf, Chelsea,” ucapku terselimut rasa bersalah.


Chelsea merongos, “Maaf, maaf! Kampungan, kampungan aja!”


“Chelsea!” Tante Maria menghardik. “Jaga omongan kamu!”


“Aku ngomong apa adanya, Ma!” Chelsea membalas hardik. “Dia ini gak pantes ada di tengah-tengah kita. Mama dan Papa terlalu manjain dia!” Ia berlalu pergi dengan wajah murka padaku dan kecewa pada orang tuanya.


Pada akhirnya aku tahu, Chelsea menunjukkan taringnya sendiri. Perasaan resahku saat pertemuan pertama kali kami, kesan dan cara dia menatapku, inilah jawabannya.


Aku menyadari, beberapa tatap kini mengarah padaku. Aku layaknya pohon pisang yang tumbang, tak lagi punya guna.


“Maaf, Tante! Aku ke kamar dulu.”


Aku berlalu cepat dari hadapan mereka. Tak ingin menunjukkan muka dengan keadaan tak pantas yang jelas mempermalukan.


“Tiara!”


Aku terisak sakit di antara langkah cepat berirama serampangan. Bayangan tempat tidur kosong sudah memenuhi kepala. Akan kutumpahkan segalanya di sana setelah ini.


Namun lagi-lagi, niatku tertahan secara paksa. Bunyi berdebug menandakan sesuatu baru saja beradu.


Seperti waktu memang sedang mempermainkanku. Aku kembali menabrak dada bidang seseorang.


Mungkinkah Om Krisna lagi? Aku menerka. Tapi jika pun iya, aku tak ingin mendongak. Selain mengucapkan kata maaf secara berulang dengan runduk wajah menyembunyikan tampilan kacauku. Malu dengan air mata yang tak pantas berlinang di saat seperti ini. Aku memilih berlari tanpa mau melihat siapa orang itu.


Namun ....


GREBBB


Satu tanganku tertarik ke belakang yang otomatis membuat tubuhku juga ikut berbalik, lalu beradu keras dengan tubuh itu--lagi. Membentuk posisi seperti tengah berpelukan. Refleks mendongak melihat pemilik wajah, aku membelalakan mata kemudian.


Dia bukan Om Krisna!


“Kok nangis?” Sosok itu bertanya dengan kening mengerut.


Sementara aku masih terbengong seperti orang tolol menatapnya dengan mulut sedikit terbuka.

__ADS_1


“Hey! Hello!”


Kemudian tersadar oleh kibasan tangannya di depan wajahku. “Ma-maaf. Si-siapa kamu?!” tanyaku terbata-bata. Sementara satu tanganku masih erat digenggam orang asing ini.


Dia tersenyum. “Aku Sagara. Kamu, siapa?” Dia mengaku dan bertanya.


Sejenak aku terdiam. Memastikan hal yang aku pun tak memahami apa itu maknanya. “A-aku ... Ti-Tiara,” balasku jujur pada akhirnya.


“Wow! Nama yang cantik. Secantik or---”


“Woy, Sagar!” Sebuah teriakan panggilan dari arah pintu yang tadi kulewati, sontak mengalihkan pandangku dan memotong ucapan cowok bernama Sagar itu, yang aku sudah bisa menebak akan membentuk apa kelanjutannya.


“Apa sih, Jan?!” Sagar mendengus. Pergelangan tanganku sudah dilepaskannya tanpa ia sadari--sepertinya. Perhatian cowok itu kini teralih pada sosok yang tadi memanggilnya. Dan inilah kesempatanku--kesempatan untuk melarikan diri, sebelum banyak hal terjadi lagi detik berikutnya.


Tangga mewah yang meliuk elegan ini kupijaki cepat. Menyongsong pintu kamarku yang berada di koridor paling ujung lantai dua.


Pintu kusibak cepat lalu masuk dan mengunci diri.


Tante Maria dan Om Krisna tak mungkin datang menyusul. Mereka pasti sibuk dan berbaur di antara tamu-tamu yang datang.


Dalam rasa dijamah prahara, kususupkan wajah kacauku di dasar bantal. Menangis rapuh karena nasib tak sebijak yang aku kira. Pikiranku melayang menemui wajah hangat Ayah, senyuman Bu Saida dan Pak Nandar, juga ... perangai Nandan yang masih kurindukan juga. Poin terakhir, aku cukup benci mengakui itu. Tapi itulah kenyataannya.


Sampai di mana waktu berlalu, aku tak sempat menyusun kesadaran. Tapi yang terasa saat ini, keadaan sudah lumayan sepi. Tak terdengar lagi suara dentuman musik yang tadi memekakan telinga. Kulirik jam weker yang berdiri di atas meja, pukul 23.35. Rupanya cukup lama juga aku bergelut dalam kacau dan kisruh rasaku karena kejadian itu.


Menit berikutnya, aku mengingat kembali tentang tugas-tugas sekolah yang lalai kukerjakan hanya demi separuh waktu yang pada akhirnya menjatuhkanku.


Aku bangkit berjalan menuju kamar mandi yang terletak di ujung kanan kamar ini. Membasuh wajah kacau agar sedikit terasa segar.


Baru dua langkah kakiku melewati pintu kamar mandi, suara ketukan pintu terdengar nyaring.


“Tiara! Tiara! Buka, Nak. Om sama Tante mau bicara!”


Sesaat aku membeku. Berpikir apakah pintu itu baiknya kubuka atau tidak.


Tapi ... itu Om Krisna.


Dia adalah harga mati di rumah ini. Begitu pun aku yang berada dalam naungan perlindungannya. Pantaskah aku memikirkan rasaku sepihak setelah begitu banyak hal yang mereka lakukan untukku, hanya karena gaun bodoh yang tak kukenakan juga kalimat tajam seorang Chelsea?


KLEK


Sampai akhirnya, kunci kuputar dan pintu pun tersibak.


Nampaklah wajah cemas Om Krisna dan Tante Maria yang dipulas rasa bersalah.


Tidak, Tuhan!

__ADS_1


Mereka tidak salah.


Tapi aku yang bodoh!


__ADS_2