Mutiara Retak

Mutiara Retak
Tidak Tahu


__ADS_3

Hari ini, akhirnya Algi berhasil memaksaku pulang bersama.


Ninja merah yang sudah dimodifikasi ditunggangi cowok itu. Aku mengisi jok kosong di belakangnya dengan tampang masam.


Andai hari ini semua angkot tak diliburkan karena demo besar-besaran di pusat kota, aku pasti tak akan mengambil kesempatan ini.


Beruntung, tak ada anak yang melihat, termasuk Alna yang dijemput pacarnya lebih dulu setelah Karin, Seto dan Gibran memilih menonton pertandingan basket di lapangan sekolah usai jam pelajaran akhir.


“Maksih,” ucapku pada Algi setelah turun dari motornya.


Sengaja aku meminta cowok itu berhenti agak jauh sedikit dari gerbang.


“Kenapa berhenti di sini sih? Rumah kamu 'kan masih di depan sana?” Algi tak paham. Helm ditariknya dari kepala, lalu ditaruhnya di hadapan.


Tungkai kacamata di kanan pelipisku kuluruskan sesaat, lalu menjawab, “Aku takut om-ku marah, kalo liat aku dianter cowok pulang ke rumah.”


Raut wajah Algi mengernyit tipis menanggapi kelakarku, “Cuma anter pulang doang, 'kan? Kita gak ada pacaran juga!”


Saat tertangkap satu kakinya bergerak seperti akan turun dari motor, gegas kuambil kesempatan untuk menghindar, berlalu cepat meninggalkannya. “Aku pulang, ya, Algi. Makasih uda anterin!” seruku seraya menancap langkah seribu.


“Tiara!” teriak panggilan itu kudengar di jarak beberapa meter. Aku tak menyahuti. Langsung kususupkan tubuh ke gerbang yang kebetulan hendak ditutup Pak Soleh.


“Siang, Pak,” sapaku pada satpam itu.


“Siang, Non. Kok ngos-ngosan gitu sih?” tanya Pak Soleh ingin tahu. Gerbang telah ditutupnya sempurna.


Aku menoleh sejenak ke arah jalanan terhalang pagar besi tinggi itu. Cemas Algi masih mengikuti. Napas lega kuembuskan usai melihat tak ada siapa pun melintas di sana. “Gak apa-apa, Pak. Makasih. Aku masuk dulu ya.”


Tak peduli tanggapan Pak Soleh, gegas kusongsong pintu kembar yang menganga di depan sana, lalu masuk setelah mengucapkan salam seperti biasa.


Ada yang tak biasa. Telingaku menangkap keramaian dari arah dapur. Dengan langkah kepo, aku berjalan ke arah ruangan itu untuk memastikan ada apa gerangan di sana?


“Non Tiara uda pulang? Laper? Mbok siapin makan, ya?” Suara Mbok Misni memberondongku.

__ADS_1


“Ah, iya, Mbok. Tapi aku belum laper. Cuma mau ambil minum aja,” jawabku seraya mengedar tatap, sementara tanganku terjulur mengambil sebuah gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya. Setidaknya ada tiga orang asing yang sibuk dengan sayuran, daging dan penggorengan di beberapa titik dapur ini. “Ini ada apa ya, Mbok? Kok rame?”


Dengan tangan sibuk mengupas bawang, Mbok Nismi menjawab, “Ini, Non ... katanya Nyonya, Nanti malem, Tuan mau undang kolega bisnisnya makan bersama di rumah ini, sama keluarganya juga. Jadi mereka ini chef yang sengaja didatangkan sama Tuan buat siapin makanan yang enak-enak. Sekarang Pak Soleh aja sama beberapa orang lagi rapiin taman belakang, karena acaranya mau di sana.”


Penjelasan panjang Mbok Nismi kutanggapi hanya dengan, “Oh gitu.” Satu gelas air sudah kutandaskan. “Kalo gitu aku ke dalem dulu ya, Mbok," kataku izin berlalu.


“Non Tiara gak makan dulu? Ini dagingnya uda mateng lho.” Mbok Nismi menahan sejenak.


Aku menolehnya tepat di ambang pintu. “Nanti aja, Mbok. Aku ke sini kalo uda laper.”


..._____...


Malam pun tiba.


Aku masih masih sibuk berkutat dengan tugas-tugas sekolah yang menggunung di meja belajar kamarku, bahkan tanpa peduli jika perutku sampai saat ini belum terisi. Rambut basahku sudah setengah kering tanpa kusisir. Aku takut diserang rasa kantuk sebelum semuanya usai dan menggantung tanpa bisa kuselesaikan.


Celana kolor pendek dengan kaos oblong kebesaran, terasa nyaman dibandingkan seragam sekolah. Tapi soal-soal di lembar buku sepertinya akan mengacau udara tenang malam yang awalnya kunikmati dengan perasaan santai.


Kerut keningku menebal menghadapi setiap angka fisika yang berbaris di dalam buku. Sesaat kupijat kepala untuk menghilangkan pening yang mulai mencengkram.


“Masuk!” seruku tanpa bertanya siapa yang mengetuk.


Sesaat kemudian daun pintu pun tersibak. Aku menoleh ingin tahu tentu saja. Sosok Tante Maria dengan dandanan cantiknya, berjalan ke arahku. Suara hentak sepatu hak tiga sentinya bahkan terdengar nyaring mengetuk lantai.


“Sayang, kamu kok masi sibuk sama buku-buku sih. Dandan dong!" katanya dengan nada menekan. “Sebentar lagi tamu-tamu om kamu dateng. Kamu 'kan harus Tante kenalin juga sama mereka.”


Untuk sesaat aku berusaha mencerna. Keningku mengerut tebal tanda tak paham. “Aku? Kenapa harus Tante?” tanya polosku, asli tak mengerti.


“Lho ... kamu ini. Kamu 'kan juga bagian keluarga kami. Jadi sudah sepantasnya kamu hadir juga di sana. Pokoknya Tante gak mau tahu, kamu dandan cantik. Ini bajunya udah Tante siapin!” Satu buah paper bag ia taruh di atas kasurku. “Sepuluh menit! Tante tunggu di taman belakang!”


Tanpa bisa berkata-kata, aku menatap punggung Tante Maria yang kini hilang tertelan pintu. Kutatap paper bag bermerk cukup terkenal di atas kasur, lalu meraih dan membukanya perlahan dan hati-hati.


Sehelai gaun cantik berwarna putih denga lipatan cantik di bagian dada, kutatap penuh kekaguman. Aku berdiri seraya menjembrengnya. Dengan cepat kupreteli bajuku dan menggantinya dengan gaun itu, seolah terkena sihir. Gegas kuhampiri cermin lebar yang berdiri di sudut kamar dekat pintu.

__ADS_1


Panjangnya hanya sebatas lutut. Bagian bawah lebar seperti payung, semakin lebar dan cantik ketika aku memutar tubuh mendadak centil. “Cantik banget gaunnya,” komentarku seraya tersenyum-senyum.


Namun di menit berikutnya, ekspresiku berangsur turun. Sekali lagi kutatap bayanganku di cermin panjang itu. Perasaan tak pantas kembali mendera hati.


Siapa aku?


Kenapa aku harus?


Setidaknya itu yang menjadi beban pikirku saat ini.


Di sini sudah ada Chelsea. Dia bintangnya di rumah ini.


Daripada hatiku terus bergelut dengan ketidaknyamanan, lebih baik tak kukenakan gaun itu.


Pada akhirnya aku memilih hanya sehelai gaun sederhana sepanjang di bawah lutut, berlengan ketat sesikut, tanpa aksen apa pun. Rambut setengah basahku kusisir rapi lalu kuikat membentuk cepol. Tak lupa kacamata kupakai sebagai pelengkap. Tak sedikit pun wajah kupoles riasan. Aku tak nyaman berada dalam mode berlebihan.


Dan inilah aku jadinya.


Menuruni tangga, melewati ruang demi ruang hingga sampai di pintu belakang menuju kolam renang, sesuai yang dikatakan Tante Maria.


Dan ... langkahku terhenti tiba-tiba.


“Tuhan!” pekik batinku--benar-benar terkejut.


Ternyata ini alasan Tante Maria menyuruhku berdandan cantik dengan gaun itu.


Acara itu kukira hanya makan malam biasa. Pandanganku menangkap ini lebih menyerupai pesta. Meskipun belum banyak orang, tapi aku tahu, mereka semua bukan orang sembarangan. Busana yang mereka kenakan seperti akan kondangan saja, termasuk Chelsea yang terlihat begitu cantik.


Aku tidak tahu keadaannya akan semeriah ini.


Sekarang aku bertanya pada diriku sendiri, berapa lama aku tak keluar kamar setelah pulang sekolah hingga tak mengetahui semua sudah disulap sehebat ini?


Acara apa ini sebenarnya?

__ADS_1


Kenapa aku tak tahu?


Apa aku yang tak bertanya?


__ADS_2