
Sebagai pemerkuat bukti, Jancent memasangkan pada dirinya, semua atribut konyol yang dipakainya ketika menjadi Zhio. Benda-benda itu diambilnya di dalam mobil. Yang tadinya akan ia kenakan untuk mengelabuiku saat kemari, tapi sayang, sifat menonjol manusia menguasainya. Dia lupa karena perasaannya begitu kacau.
Keterkejutan Chelsea kini berubah menjadi tangisan. Di pelukan Tante Maria, diluapkannya segala perasaan kecewa. Aku mengerti, Jancent telah mematah telak hatinya bahkan sebelum cewek itu berhasil meraih hati.
Aku cukup menyesalkan untuk itu.
Ekspresi terkejut lainnya diperlihatkan Algi dan Alna. Mereka tak menyangka, terutama Algi, si culun yang selalu dirundungnya ketika SMA ternyata adalah seorang Jancent--pewaris tunggal perusahaan besar kenamaan di tanah air-- Eagle Corp. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Apalagi setelah Jancent menjelaskan semua tujuannya melakukan penyamaran, sama persis seperti yang ia ceritakan padaku sebelumnya.
“Lalu bagaimana dengan perbuatan Algi pada Tiara di hotel itu, Jancent?! Bukannya dia harus tetap bertanggung jawab?!” Chelsea masih tak puas sepertinya.
Semua menunggu Jancent melontarkan jawaban, termasuk aku. Kutatap bulir bening mata Jancent, yang kini juga menatapku dengan tersenyum. Diusapnya rambutku sekilas sebelum akhirnya menyampaikan ....
“Ya, lu bener, Chelsea. Algi memang harus bertanggung jawab," ujar Jancent. Pundakku masih dirangkulnya dari samping dalam posisi duduk di kursi meja makan yang satunya diambil belakangan oleh Bu Saida. “Tapi bukan bentuk pertanggungjawaban berupa pernikahan, melainkan ... jeruji dingin penjara!”
“Apa?!”
Semua tersentak, terkejut, melengak, menganga ... tak terkecuali aku.
“Jangan, Jancent! Gua mohon jangan penjarain gua!” Algi spontan mengangkat diri dengan raut takut dan memohon.
“Gak pake!” Jancent menghardiknya keras. “Lu udah ngasih obat di minuman Tiara di pesta itu! Trus dengan go6loknya lu bawa dia ke kamar hotel! Lu mau lecehin Tiara, Bangsad! Lu pikir ini sederhana?!”
“Nak Jancent, bisa kita tidak melibatkan hukum?” Ayah Algi menyergah, lalu mencoba bernego, “Saya akan bayar berapa pun asal Algi tidak dipenjarakan!”
“Hhh!" Jancent tersenyum sinis. “Sayangnya saya gak butuh uang Bapak!” Dilepaskannya rangkulan dari pundakku lalu berdiri. Langkah kakinya terayun mendekat ke arah Algi dengan tangan terselip di masing-masing kiri dan kanan saku celana.
“Kalo aja malam itu Sagara gak liat kelakuan lu, Tiara pasti udah ancur sekarang!” Tajam mata Jancent menatap Algi.
“Kalo aja gak ada orang yang nahan dia buat hajar lu, lu pasti udah mati!”
Kata-kata Jancent membuat semua lagi-lagi membulatkan mata. Lain dengan aku yang terpekur. Aku menunduk menatap lantai dingin di bawah kakiku, merenungkan sesuatu.
“Ja-jadi ... cowok yang malem itu datang dan berantem sama Algi di kamar hotel itu... itu Sagara?”
Pertanyaan pelanku memancing semua tatap ke arahku.
__ADS_1
Jancent berbalik dari Algi lalu kembali mendekatiku. Tubuh tingginya ia turunkan untuk kemudian bersimpuh di hadapanku. “Iya, Sayang. Itu Sagara, sepupu aku. Kamu kenal, 'kan?” Diraihnya kedua telapak tanganku lalu dikecupnya dalam. Bisa kulihat rambut klimisnya dari belakang kepala yang masih nampak rapi.
“Trus ... apa yang balik lagi ke kamar setelah itu ... itu juga Sagara?” lanjutku bertanya. Kerutan keningku cukup tebal untuk melukiskan betapa resahnya aku saat ini.
Jancent kembali mengangkat kepala. Mendongak wajah menatapku dalam. Seulas senyum dia hadiahkan seraya mengusap lembut air mataku yang mulai kembali menitik. Sepersekian detik kemudian, dia menggeleng. “Bukan, Sayang.”
“Trus?”
“Itu aku!”
Aku melengak. Tak terkecuali semua orang yang juga sama terperanjat.
“Bagaimana bisa itu jadi kamu?” tanyaku terheran-heran.
Jancent tersenyum. Namun baru saja mulutnya terbuka hendak berkata-kata, Chelsea berujar kasar menginterupsi, “Oh, jadi kamu yang nelanjangin Tiara lalu ninggalin dia gitu aja sampe kami huru-hara datang ke kamar itu?!” Dia berdiri dengan raut menggebu. “Asal kamu tahu, Jancent! Gara-gara itu Samantha dengan leluasa ancurin keluargaku!”
Kami semua menatap Chelsea, lalu beralih pada Jancent yang juga berdiri.
Dan aku ... seperti yang Chelsea tanyakan, juga turut penasaran. Jika itu memang dia, apa alasan Jancent meninggalkan aku? Juga ... apakah aku benar-benar telah disentuhnya?
Semua hening dalam mode menunggu.
“Itu dia nelanjangin dirinya sendiri karena rasa panas dari efek obat yang dikasih Algi.”
Seketika aku tercenung. Pikiranku melayang mencoba menyatukan puing-puing ingatan samar tentang malam itu.
Hanya beberpa detik saja, aku mengingat bagaimana aku memereteli pakaianku sendiri akibat rasa terbakar dalam tubuhku saat itu. Dengan kata lain, Jancent tak berbohong dengan penjelasannya barusan.
Dan pertanyaanku selanjutnya diwakili kembali oleh Chelsea.
“Trus apa kamu yang selanjutnya nidurin dia?!”
Herannya, Jancent justru tersenyum dengan pertanyaan itu.
Jawabnya, “Laki mana yang gak kegoda sama cewek cakep apalagi gak pake baju, Chelsea?”
__ADS_1
Aku menyikapi kalimat itu tergagap. Jadi Jancent ...?
“Tapi sayangnya gua gak segoblok itu buat ancurin cewek gua sendiri. Apalagi dia gua sayang-sayang. Gua kasih dia obat penenang, trus dia tidur.”
Tak satu pun memberikan komentar akan jawaban tegas Jancent.
Dan aku ....
Aku bangkit dari dudukku, berdiri sesaat menatap, lalu menubrukkan diri memeluk Jancent dengan erat seraya menangis terisak-isak. “Makasih, Jancent. Makasih.”
Deru jantung terdengar keras di kupingku yang menempel di dadanya saat ini. Aku tahu dia terkejut dengan tingkah refleks-ku yang tiba-tiba.
Detik berikutnya, dia membalas pelukanku juga tak kalah lembut. “Aku gak akan ingkarin janji aku sama kamu. Walo seberat itu pun godaannya.” Dia lalu terkekeh.
Aku tak peduli dengan candaannya. Aku hanya ingin memeluknya seperti ini.
“Kalian semua menjijikan!” Chelsea berseru tak terima. Dia bangun lalu berlari keluar seraya menangis.
Membuat pelukanku dan Jancent sontak terlerai untuk melihat ke arahnya.
“Chelsea!” teriak panggil Tante Maria. Dia bergerak hendak menyusul. Namun sebelum itu, ia menghampiri aku lebih dulu. Tak ada tatapan benci dalam matanya. Semua terasa sama. “Semoga bahagia, Sayang. Tante do'akan yang terbaik buat kamu.”
Aku tersenyum sedih seraya mengangguk cepat. “Makasih banyak, Tante.”
Sekilas Tante Maria mengusap lenganku, lalu keluar menyusul putri semata wayangnya.
Di saat yang sama, Om Krisna juga bergerak dari posisinya.
Tapi bukan aku yang ditujunya, melainkan Jancent.
“Jancent ... mulai sekarang, Om percayakan Mutiara sama kamu. Jaga dia, jangan buat dia susah apalagi sampai menangis. Om akan pantau kamu terus.”
Jancent mengangguk yakin diselip senyumnya. “Pasti, Om.”
Bahu bidanya ditepuk Om Krisna kemudian. “Urusan Algi, Om serahkan juga padamu. Lakukan apa yang kamu mau lakukan sebagai penghakiman buat dia.”
__ADS_1