Mutiara Retak

Mutiara Retak
Drama Kelulusan


__ADS_3

Bulan berlalu ....


Tanpa terasa, masa SMA-ku sudah sampai di penghujung.


Aku lulus dengan nilai yang boleh dikatakan, lumayan. Bertengger di angka ke-17 dari 25 daftar lulusan terbaik, menjadi kebanggaan tersendiri bagiku, Om Krisna dan teman-temanku. Aku anak baru yang cukup pandai menyesuaikan, pendapat mereka bangga.


Hari ini, adalah hari perayaan kelulusanku.


Tadi pagi, aku berangkat ke sekolah dengan langkah gontai tanpa semangat. Padahal riasan dan kebaya yang kukenakan sudah begitu lengkap dan sempurna mengubahku menjadi cantik.


Tante Maria bilang, dia tidak bisa menghadiri acara pentingku hari ini karena alasan suatu hal. Apalagi Om Krisna yang memang aku pun tahu, waktunya tak akan mudah untuk terbuang. Pekerjaannya sangat menuntut tak dibiarkan walau hanya sesaat saja. Jadi hari ini, peran orang tuaku akan digantikan oleh Mbok Misni dan Pak Soleh yang datang ke sekolah, kata Tante Maria dengan raut sesalnya pagi tadi.


Bukan aku menghinakan kedua orang tua lugu itu atau merasa malu dengan kehadiran mereka, tapi perasaan berharap akan Tante Maria dan Om Krisna sudah terlanjur mengungguli isi pikirku.


Aku sedikit kecewa.


Chelsea tersenyum mengejek menanggapi putusan itu tadi pagi. Entah kapan anak itu akan berubah dan mau melihatku sebagai saudara, sedikit saja.


Ahh!


Suasana gedung sudah begitu ramai dengan para guru, semua anak dan para orang tuanya. Tapi aku masih celingukan mencari keberadaan Mbok Misni dan Pak Soleh yang katanya akan menyusul tak lama setelah aku pergi diantar Om Krisna dan supirnya seperti biasa. Padahal jadwal penentu acara akan segera tiba.


“Ra! Wali kamu belum pada datang?” Karin mengejutkanku.


Aku mengangguk lemah. “Iya nih, Rin.”


Cewek itu menepuk sekilas pundakku sebelum berlalu. “Tunggu aja dulu. Mungkin bentar lagi,” katanya sedikit menghibur. “Aku duluan, ya.”


“Hmm.” Singkat aku menanggapi. Semua kulihat telah duduk didampingi orang tuanya. Sedang aku masih menunggu dalam ketidakpastian yang mencekik.


Merasa mungkin tak akan ada yang datang, aku duduk di bangku paling ujung seorang diri dengan raut sedih.


Zhio bahkan tak tertangkap pandanganku sama sekali. Entah di mana cowok itu sekarang. Padahal biasanya dia yang selalu ada menemaniku di segala situasi di sekolah ini.

__ADS_1


Kuedarkan pandang ke seluruh tempat yang tercapai kornea mataku. Acara sudah dimulai. Beberapa sambutan para petinggi sekolah sudah berlalu satu demi satu. Dan secuil pun kata mereka tak ada yang menyesap di kepalaku. Pikiranku bergolak dalam kesendirian yang menyiksa. Aku berharap ini secepatnya berlalu, dan tak akan menjadi mimpi buruk setelahnya.


Sesekali kepalaku menengok dan berputar ke belakang di mana pintu membentang. Namun selalu kosong selain satpam yang masih setia berjaga di dekatnya. Benar-benar tak ada yang datang untuk mendampingiku.


Seisi dadaku mulai memanas. Butir air mata menitik melewati kelopak langsung kuusap. Segetir ini hidup tanpa orang tua.


Aku sedikit mengutuk hari ini dalam hatiku. Kenapa acara seperti ini saja harus melibatkan kehadiran orang tua? Aku ingin menegaskan dan berteriak; aku tak memiliki semua itu, wahai ummat!


Kesedihanku semakin bertambah, ketika suara panggilan satu demi satu anak diperdengarkan.


Penerimaan simbolis kelulusan [selain] bersalaman pada para guru yang berjejer, diteruskan dengan sungkem pada orang tua yang menunggu sang anak di bawahnya.


Aku membayangkan dengan pedih hati saat giliranku nanti. Bagaimana aku menghadapi ini dan celoteh semua orang?


Teman-temanku sudah naik satu demi satu disambung keharuan mereka. Lalu keharuan jenis apa yang akan aku tunjukkan di atas podium itu?


“MUTIARA ANDINA!”


Aku tersentak berderu jantung. Namaku sudah dipanggil, dan aku hanya sendiri.


Senyum kusunggingkan semanis mungkin. Kuterima simbolis kelulusan dari tangan seorang guru diiringi gemuruh tepuk tangan di bawah sana. Suara gema pembawa acara masih terus berkicau dengan mic dan narasinya. Aku berjalan pelan menjabati tangan satu demi satu staf sekolah yang berjejer memanjang ke kiri hingga ujung. Dan ....


“Mutiara Andina, orang tua Ananda tidak hadirkah?” Pertanyaan pembawa acara itu membuatku membeku.


Suasana mendadak hening dalam sekejap.


Aku menoleh ke arah MC yang masih menunggu jawabanku. Pun semua orang yang berada dalam mode sama.


Tak ada satu pun mata yang tak tertuju ke arahku, termasuk teman-temanku di bawah sana, menatapku iba.


Hanya Bu Naina yang tahu siapa aku secara detail, selain Karin, Alna dan Algi. Tapi sekarang sosok itu pun tak hadir untuk menjelaskan pada semua, karena beliau tengah dirawat akibat sakit yang diderita beberapa waktu belakangan.


Kutengok ke arah Karin dan Alna yang duduk di tempat terpisah sedikit berjauhan. Mereka sudah sedih berkaca-kaca menatapku penuh kasihan.

__ADS_1


Pada akhirnya aku menjawab dengan air mata yang telah menitik lebih dari satu. “Orang tua aku ... mereka ....”


“Mutiara!” seruan itu kudengar di kejauhan, tak terkecuali semua orang. Serempak menoleh ke arah yang sama. Debam hentak sepatu keras terdengar semakin dekat.


Aku menatap mereka dengan hati bergemuruh.


“Sayang! Maaf, Om sama Tante terlambat!” Tante Maria berujar kencang di sela langkah.


Dua orang itu naik ke atas podium lalu erat memelukku didahului Tante Maria.


Tak ada kata yang bisa kuucapkan selain menangis sejadinya. Aku tak bisa menahan air mata tolo ini, namun juga tak ingin menghapusnya.


Kerongkonganku rasa tercekat saking tak percaya dengan kehadiran mereka di sisiku saat ini.


Tante Maria melepas pelukannya, disambung Om Krisna kemudian.


Orang inilah yang paling aku nantikan sebenarnya. Aku memeluknya erat menumpahkan betapa dia sangat kuharapkan.


“Maafin Om, Sayang. Maaf!” Berulang pucuk kepalaku dikecupinya.


Saat yang sama, kudengar Tante Maria berkata-kata. Sebuah mic dipinjamnya dari pembawa acara.


Pelukanku dan Om Krisna terlerai kemudian, beralih perhatian pada wanita itu.


Aku tak percaya, saat ini kami jadi tontonan semua orang.


“Mohon maaf, saya sela sebentar, Ibu Bapak Guru juga para hadirin semuanya,” Tante Maria memulai. Tampilan anggunnya dengan pakaian resmi membuat banyak pasang mata tak henti menatapnya kagum. “Begini ....” Sejenak menggantung kalimatnya, seolah ada beban di sana. “Orang tua Mutiara sudah tidak ada keduanya.” Dia menggamit lenganku menguatkan dengan senyumnya. “Ibunya meninggal saat dia berusia balita, dan ayahnya menyusul belum genap satu tahun ini.”


Suasana betul-betul sangat hening sekarang.


Om Krisna menghapus air mata yang luruh kembali dari mataku. Dia berkata pelan setengah berbisik, “Om di sini, Sayang.” Aku mengangguk di antara debar hebat dalam dadaku.


“Kami orang tua sambung yang diamanatkan ayah Mutiara untuk menjaga, mendidik dan menjamin segala sesuatunya hingga ia kelak mendapatkan pendamping yang menggantikan kami,” Tante Maria melanjutkan dengan senyumnya. “Maafkan atas keterlambatan kami sebagai wali. Sampai harus jadi drama melankolis di acara resmi ini. Kemacetan bikin saya seperti cacing kepanasan di mobil tadi.”

__ADS_1


Kalimat akhir ditanggapi gelak tawa semua orang.


Om Krisna tiba-tiba mengambil microfon di tangan istrinya, lalu berkata dengan penuh wibawa, “Yang jelas, kami menyayangi Mutiara tanpa syarat! Mutiara Andina, adalah mutiaranya keluarga kami!”


__ADS_2