Mutiara Retak

Mutiara Retak
Saling Memiliki - End


__ADS_3

Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat.


Waktu menunjuk angka sepuluh malam, yang itu artinya ... acara pesta pernikahanku dan Jancent telah berlalu. Tidak ada acara susulan di keesokan hari seperti ngunduh mantu dan lain-lain seperti kebanyakan orang. Aku sengaja menginginkan seperti itu saja, karena terlalu malu jika harus meminta banyak.


Sebuah hotel bintang lima di pusat kota, dipilih Jancent untuk malam ini aku dan dia beristirahat. Kami mandi bergiliran. Sekarang Jancent sudah lebih lima belas menit di kamar mandi. Aku masih menunggu.


Tak lama dia keluar dengan kimono dan rambut basah yang tengah diasaknya menggunakan handuk lainnya.


Aku tak akan memungkir, bahwa tampilannya saat ini seribu kali lebih menggoda.


“Kamu mau mandi dulu, apa langsung tidur?” tanya Jancent melihatku yang belum memereteli gaun super ribet di tubuhku.


“Aku mau mandi! Tapi bantu aku dulu lepasin tali-tali punggung di gaun aku!” Berbalik badan kutunjukkan punggungku yang sedari cukup menyiksa.


Jancent tersenyum lalu menghampiri. Dengan hati-hati dibukanya satu per satu tali yang kutunjuk tadi.


“Udah," katanya, ditutup kecupan singkat di pundak polosku.


Sesaat aku merabanya lalu tersenyum. “Makasih," ucapku lalu melanting ke kamar mandi.


Tak kusangka, berendam di air hangat dalam bathtub membuat tubuhku terelaksasi sempurna. Aku menikmatinya penuh perasaan. Tubuh polosku kugosok lembut menggunakan busa-busa sabun yang melimpah. Rasanya seperti di surga.


“Sayang! Kok lama?! Nanti kamu masuk angin, lho!" Jancent mengetuk pintu yang sontak melengakanku.


“Iya, bentar lagi!” sahutku setengah berteriak.


“Kalo gak keluar juga aku dobrak, nih!”


Ancamannya malah membuatku ingin tertawa. “Iya.”


Biarlah, pikirku. Aku masih merasa nyaman dengan aroma terapi yang berbaur di dalam air yang kurendami.

__ADS_1


Setidaknya sepuluh menit berlalu dari saat Jancent mengetuk pintu, suaranya tak terdengar lagi. Digantikan dentuman musik halus yang samar kudengar dari dalam kamar. Aku naik dari rendaman. Satu kimono sebatas lutut kukenakan.


Rambut panjang dan basahku kuliliti handuk agar tak bercecer sisa tetesan keramas.


Pintu mulai kusibak, pelan sekali. Kepala kudongakan separuh ke dalam kamar untuk melihat apa yang sedang dilakukan Jancent. “Kemana dia?” tanyaku sendiri celingukan. Sampai kulihat pintu balkon terbuka membuat tirai putih tipis yang melapisinya terkibar tertiup angin malam. “Dia pasti di luar sana.”


Buru-buru aku masuk untuk mengganti pakaianku sebelum suamiku itu masuk. Aku masih merasa malu pasalnya.


Sebuah paperbag pemberian mamanya Jancent kuambil dari atas sofa tunggal di pojok ruangan. Mertuaku bilang itu adalah baju gantiku. Namun bagai dicekik paksa, aku terkaget-kaget menatap helaian tipis yang baru saja kurogoh dari dalam paperbag itu dan kujembreng dengan mata membelalak.


“Apa ini?”


Lingerie hitam transparan dengan bagian dada tak penuh, bahkan nyaris terbuka. Tali pundaknya mungkin hanya sebesar tiga batang lidi yang disatukan. Satu lainnya, sehelai celanadalam senada bahan, terjatuh di bawah kakiku, lalu mengambil dan menggenggamnya dengan tampang tak nyaman.


Aku berdiri untuk mengepaskannya di tubuhku. Ternyata gaun itu panjanganya berada tepat di tengah-tengah bagian pahaku.


Wajahku merenyih bingung menanggapinya. Jika begini, aku benar-benar seperti wanita kehausan.


Pada akhirnya, mau tidak mau, aku mengenakannya juga.


Setelah rapat kupakai di tubuhku, aku akan bergelung saja dalam selimut, pikirku. Mumpung Jancent masih di luar balkon.


Aku merasa ngeri menatap diriku sendiri seperti ini.


Cepat kusisir rambut yang entah kenapa tiba-tiba menjadi kusut, hingga sulit mencapai rapi. Aku mulai frustasi, menatap kesal bayanganku di cermin meja rias di depanku. Dan ....


“Kalo kayak gini, bisa rusak rambut kamunya.”


Aku melengak terkejut. Jancent tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangku tanpa sadar kapan dia menapakan kakinya memasuki kamar. Ia lalu meraih sisir yang kupegang.


“Ja-Jancent .... Cuma ada baju ini yang bisa aku pake,” kataku pelan menunduk malu, sebelum dia lebih dulu berkomentar.

__ADS_1


Jancent tersenyum. Telapak tangannya masih sibuk membantuku menyisir. “Gak apa-apa. Toh aku udah liat semuanya yang ada di kamu.”


Tak ada kata yang bisa kubuat timpal, selain kesiur napas yang terembus cukup kasar dari mulutku.


Dia benar. Apalagi?


**


Ya! Seperti pasangan kebanyakan, pada akhirnya itu-itu juga yang kami lakukan. Jancent seperti orang kehausan menggagahi tubuhku, dan aku pun sama menikmati itu. Musik klasik mengalun indah menjadi back sound. Kami berdua mendadak prima melupakan betapa lelahnya hari ini karena pesta yang menguras tenaga, siang hingga jam sepuluh tadi.


Dalam waktu yang memakan hampir satu jam lamanya, akhirnya pergelutan ini terhenti. Keringat bercucur membanjiri di antara kulit kami yang saling menempel dan menggesek. Jancent menatapku lekat dalam posisi tubuh masih menindih. Dibelainya rambutku mesra lalu mengecup keningku dalam. “Makasih. Aku bahagia banget hari ini,” ucapnya dengan napas masih berderu sisa pelepasannya.


Kualihkan tanganku yang semula berada di punggung, kini mengalung di lehernya. Senyum kutarik, lalu berkata, “Aku juga. Makasih uda berada di samping aku sampai detik ini. Zhio atau pun Jancent, aku mencintai keduanya.”


Kembali tersenyum, Jancent menyikapi celotehku. Tak ada kata lagi setelahnya, selain saling menatap dan membelai wajah dalam diam, menikmati betapa kini kami saling memiliki.


Di remangnya suasana ruangan, akhirnya kami kembali saling memadu bibir, dalam dan penuh perasaan. Sampai kemudian gairah itu mencuat lagi. Bibir Jancent bergerilya kembali mengabsen setiap inci tubuhku yang mungkin asin oleh keringat disertai suara kecapan yang menggelora. Aku tak henti mengerang desah menikmati setiap apa yang dia kerjakan atas diriku. Sampai di sini aku mengakui, bahwa aku begitu menyukai bagian ini. Sebagai istri, bukan sebagai jal4ng---garis bawahi itu.


...T A M A T...


...🌺🌺🌺🌺🌺...


BONUS VISUAL.


VERSI ZHIO



VERSI JANCENT


__ADS_1


Haha!


__ADS_2