
“GAK ADA SATU ORANG PUN DI SINI YANG BISA MAKSA TIARA!”
Suara keras Jancent berhasil merebut perhatian semua orang di ruang tamu rumahku ini, tak terkecuali aku sendiri. Kami semua melengak ke arahnya yang kini mulai berdiri. Terdiam memaku diserang keterkejutan secara massal.
Dari arah dapur, Bu Saida masuk tergopoh dengan tampilan amburadul dan daster dipenuhi remahan daun bayam. Sesaat semua mata teralih ke arah ibu tetanggaku itu, ketika dia bertanya cemas, “Ada apa?!”, berhasil menginterupsi. Namun tak satu pun dari kami ada yang menjawab, karena memang belum ada yang bisa dijelaskan dari situasi ini.
“Di sini aku yang berhak ngambil keputusan!” sambung Jancent lagi. Kedatangan Bu Saida hanya dianggapnya angin saja. Dengan wajah--antara serius, menekan, geram dan marah, semua menyatu menjadi sosoknya yang terasa bukan Jancent. Dan dia kini berdiri tepat di sampingku.
“Apa maksud kamu, Jancent?!” Chelsea lebih dulu melontarkan tanya mewakili semua orang.
Cewek itu ditatap Jancent tajam.
“Ada hak apa kalian memaksa Tiara untuk melakukan hal yang sama sekali tak inginkannya?!” Mata tajam Jancent kini berkeliling mengabsen setiap wajah, menuntut.
Algi tiba-tiba berdiri. Wajah angkuh dengan dagu terangkat, dia menatap Jancent lurus persis seekor elang. “Elu siapa sok-sok'an ikut campur urusan kita?!”
Kedua pundakku disentuh Jancent, membuatku refleks mendongak melihat ke arahnya yang berdiri menjulang menyentuh punggungku. Dari isyarat mata dan anggukan kepalanya, dia memintaku untuk berdiri. Aku mengikuti sesaat setelah menatap kaku semua orang di sana. Kulirik sekilas Bu Saida yang masih nampak cemas memerhatikan keadaanku di belakang kami.
Senyuman Jancent terlempar manis ke wajahku saat kami tak sengaja saling menatap. Sayup kudengar bibirnya bergerak membisikan kata, “Tenang. Ada aku.”
Aku tersenyum kemudian mengangguk. Kulihat Chelsea mulai tak nyaman di tempatnya memanas memandang aku dan Jancent dengan raut tak suka.
“Jawab, Sialan?!” Algi mendesak kasar.
Di bawah tempat duduknya, wanita yang kini kutahu adalah ibunya cowok itu, mengusap tangan putranya agar tenang.
Sementara yang lain masih menunggu, termasuk Om Krisna yang nampak kelam menatap Jancent, menunggu akan kelanjutan ucapan lelaki yang saat ini merangkul pundakku.
“Oke!” kata Jancent masih nampak santai. “Gua kasih tau sama lu lebih dulu, Algi!” Rangkulan di pundakku ia ketatkan. “Tiara ini ... cewek yang udah hampir satu tahun ini, gua pacarin.”
“Apa?!” Chelsea berdiri terkejut. “Jangan becanda kamu, Jancent!”
__ADS_1
Jancent tersenyum. Sebelah telapak tangannya mengusap lembut rambutku sekilas, lalu menoleh Chelsea kembali. “Itu bener, Chelsea. Mana ada gua becanda. Mutiara ini memang pacar gua adanya.”
“Tapi pacarnya Tiara itu Zhio!” hardik keras Chelsea. “Zhio si culun tompel!” tegasnya memperjelas. “Kamu gak usah ngarang-ngarang, becandain semua orang di sini, Jancent!” Wajahnya memerah geram.
“Iya, Ra. Bukannya pacar lo itu Zhio, ya?” Alna bertanya padaku. “Dari kita SMA, 'kan?”
Jancent terkekeh lucu menanggapi itu.
Aku menatap temanku itu juga semua orang dengan raut gelisah.
Bagaimana aku menjelaskan, kalau Zhio dan Jancent adalah orang yang sama. Jancent ... please .... Hatiku mulai meronta.
“Tiara.” Om Krisna bukan suara. “Coba jelaskan, Nak,” pintanya selembut kapas seperti biasa. “Bener yang dibilang Jancent?”
Aku tercenung menatap Om Krisna. Menundukan kepala seraya memejamkan mata, lalu mengangguk kemudian. “Be-benar, Om. Ja-Jancent ... emang pacar aku.” Semua tersentak menyikapi, terutama Chelsea. “Maaf,” tutupku resah.
“Kurang ajar lo, Tiara!” Chelsea tak terima. “Cewek macem apa sih lo ini! Lu pacarin si tompel, trus lu embat Jancent juga!”
“Chelsea!” Tante Maria menghardik. Ia bangkit berdiri, meraih tangan Chelsea untuk menenangkannya. Dia tahu benar, bagaimana anak gadisnya itu tergila-gila pada Jancent. “Sabar, Sayang.” Lalu menuntunnya kembali duduk. Om Krisna berdiri, memberi ruang duduk untuk istrinya dan juga Chelsea.
“Kalo kalian tahu Zhio itu pacarnya Tiara, kenapa kalian maksa dia buat nikahin cecunguk itu?!” Jancent menunjuk Algi, memotong telak pertanyaan Tante Maria.
“Karena mereka udah tidur bareng, Jancent! Dan karena ulah mereka, nama baik keluarga gue ancur di mata semua orang!”
Sentakan kalimat Chelsea menegangkan suasana.
Aku sendiri bahkan merasa dibekukan. Tidak tahu bagaimana eskpresi Bu Saida sekarang di belakangku, aku bahkan tak ingin menolehnya.
“Dan sekarang, kamu tiba-tiba ngaku pacaran sama dia uda setahun!” Chelsea melanjutkan. “Bukannya itu artinya kalo Tiara itu bener-bener cewek murahan! Dia pacaran sama Zhio trus embat kamu juga! Apa kamu gak merasa jijik, Jancent?!”
Aku menundukkan kepala dalam-dalam. Meski Jancent berdiri di sampingku, bahkan merangkul secara possessive, tetap saja rasanya begitu menakutkan. Dikelilingi banyak orang yang hampir semua memojokkanku, aku benar-benar ingin tenggelam saja.
__ADS_1
Detik berikutnya tanpa diduga, menanggapi serangan kalimat Chelsea sebelumnya, Jancent justru malah tergelak--gelak yang cukup besar menggaung menguasai seantero rumah. Yang otomatis membuat semua orang menyambutnya terheran-heran.
“Apa yang lu ketawain, Sialan?!”
Om Krisna refleks menahan tubuh Algi yang hendak maju ke arah Jancent dengan tinju mengetat. “Tahan, Algi. Jangan buat semua menjadi keruh.”
“Tapi, Om, dia--”
“DIAM KALIAN SEMUA!” teriakku menginterupsi. Semua terperanjat memandangku.
Sepasang kakiku mulai bergetar, mataku memerah disertai rasa panas yang menyeruak menekan air mataku untuk jatuh.
Aku sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini.
“Kenapa kalian begitu sibuk ngurusin hidup aku?! Aku cuma mau hidup tenang!” sambungku meraung.
“Sayang!” Dengan sigap Jancent meraih tubuhku yang melemah terjatuh duduk di lantai. Aku dipeluknya erat dalam dekapan. “Kamu gak apa-apa?”
Aku terus meraung. “Aku takut, Jancent. Aku takut!”
“Tenang. Semua bakal baik-baik aja.”
Bu Saida merendahkan tubuh diam di sampingku. “Kamu gak apa-apa, Nak?” Elusan halusnya di bahuku terasa hangat. Namun tenggorokanku seolah serat untuk menjawab pertanyaannya. Aku sesak.
Aku merasakan debaran kuat jantung Jancent melalui dadanya yang kini kusandari. Ada amarah yang meletup di sana. Dia menegakkan wajah mengeliling tatap pada semua orang.
“Kalian semua ... dengar aku bicara!” pinta Jancent, membuat keadaan seketika menjadi hening.
Tenggorokan Jancent naik dan turun, dia lalu mulai bertutur, “Aku dan Zhio ... adalah satu orang yang sama. Zhio adalah aku, dan aku adalah Zhio!”
Aku tak percaya, Jancent akan mengakui itu di hadapan semua orang. Dan aku yakin, ekspresi mereka kini dalam keadaan terkejut tiada tanding, terutama semua orang yang mengenal Zhio, terlebih Chelsea. Sayangnya aku tak melihat itu. Aku masih tak ingin mengangkat kepala dari dada bidang Jancent. Hatiku masih terasa sakit mendapat perlakuan paksa dari mereka semua.
__ADS_1
“A-apa ma-maksud kamu, Ja-Jancent?!” Suara Chelsea mengalun terbata-bata.
“Seperti yang lu denger, Chelsea,” kata Jancent. “Gua dan Zhio adalah satu orang yang sama. Gua nyamar jadi Zhio buat bisa deket sama Tiara. Semenjak hari di mana lu kasarin dia, di pesta penyambutan lu dari Jepang, gua udah naro hati sama Tiara.”