
Nandan masih berada di sisiku sampai pagi menjelang siang hari ini. Kami duduk bersisian di deretan kursi tunggu, tepat di depan pintu ruangan di mana Ayah dirawat. Sedangkan Pak Nandar dan Bu Saida memilih pulang dulu untuk setidaknya beristirahat dan mengurusi beberapa kepentingan mereka sebelum kembali lagi kemari, katanya.
Aku tak bisa terus merepotkan mereka lebih banyak. Meskipun jauh di lubuk hati, jujur saja, aku ingin kedua orang itu tetap berada di sisiku. Sayangnya aku tak boleh egois. Mereka punya kehidupan yang tak termasuk dalam ranahku maupun Ayah.
Untuk saat ini, cukup Nandan menemaniku. Meskipun sebenarnya keadaan kami sangatlah tidak terlalu baik.
Rasa bersalah yang ia ucapkan berulang ... aku tak ingin peduli.
Bahkan perasaan kecewa karena kekacauan hubungan kami, tertutupi oleh terbaringnya ayah di ranjang rumah sakit ini.
Walau begitu, kehadirannya cukup membantu. Aku tak membawa ponsel saat pergi kemari. Dan ponsel Nandan cukup berguna untuk situasi darurat yang aku dan Ayah butuhkan.
Nomor yang tadi malam disebutkan Ayah, sudah kami hubungi melalui ponsel Nandan. Aku belum sempat bertanya siapa nama pria di line telepon, tapi orang itu berkata akan bergegas datang ke tempat ini, sesaat setelah aku menceritakan keadaan kritis Ayah dan menyebutkan bahwa aku adalah anaknya di akhir percakapan.
Dan sekarang aku sudah tahu, ternyata orang itu adalah Om Krisna. Sahabat masa kecil Ayah yang setidaknya pernah dua kali datang ke rumah kami, saat aku masih berseragam SMP dulu.
Saat ini Om Krisna berada di ruangan Ayah. Dia berhasil menerobos dan memaksa dokter untuk masuk ke dalam ruangan, bahkan di menit baru saja ia sampai dengan napas terengah di tempat ini. Perjalanan Jakarta - Bandung tidaklah dekat. Tapi Om Krisna bisa sampai hanya dalam waktu dua jam saja dari jarak aku menghubunginya.
Dokter bilang Ayah sudah kembali membuka mata, dan saat ini tengah berbicara dengan Om Krisna. Operasi akan dilakukan sore ini. Aku ingin berbicara banyak hal sebelum tindakan riskan itu dilakukan. Tapi sepertinya pembicaraan Ayah dengan sahabat kecilnya itu tidak bisa diganggu gugat. Aku terpaksa menunggu.
“Aku keluar sebentar.” Nandan bangkit berdiri. Bahuku diusapnya ringan.
Aku mendongak sesaat, dia tengah tersenyum menunduk menatapku. Tak ingin terjebak, dengan cepat aku kembali membuang wajah.
“Gak usah balik lagi. Kamu pulang aja. Mami Papi kamu pasti cemas nyariin.” Aku membalas ketus tanpa menatapnya sedikit pun. “Dan makasih, udah mau nemenin aku,” tandasku.
Terdengar berat, napas yang diembuskan Nandan. Sekali gerak saja, ia sudah berjongkok di depanku dengan satu lutut menyentuh lantai. Kedua telapak tangannya meraih pasang tanganku yang tergolek di lahunan. Dia mendongak lurus memandangku penuh rasa bersalah.
__ADS_1
Aku tidak bisa untuk tak peduli. Balik kutatap wajah manis itu dengan perasaan getir. Ada lingkaran hitam di sekitar matanya. Ia jelas tak tidur---sama sepertiku.
“Ayah kamu berhasil nemuin aku sesaat sebelum motor aku masuk ke halaman rumah,” tutur Nandan mulai bercerita. “Selain memaki, Om Mukti juga sempet nampar pipi aku satu kali. Dan kamu tahu apa yang dia bilang?”
Air mataku sudah turun tanpa bisa kucegah. Mengalir mewakili rasa yang tak bisa kuungkapkan menjadi kata. Aku terdiam tanpa mengenggeleng atau pun mengangguk, selain pundakku yang berguncang karena tangisan.
“Ayah kamu bilang ....” Sejenak Nandan menjeda kata. Senyuman pahit tersungging di bibirnya. “.... Seorang lelaki akan memperjuangkan apa pun yang dia inginkan dan dia cintai, tak peduli seberapa kuat ranjau yang terhampar.”
Usai mengungkapkan itu, Nandan menurunkan wajah. Dikecupnya punggung tanganku dalam dan lama. Guncangan tubuhnya menandakan ia mulai menangis saat ini.
“Ayah kamu bikin aku sadar ... kalau aku ini memang gak pantes disebut lelaki. Apalagi dengan bodoh mencintai kamu--putri seorang pria setangguh Om Mukti. Aku terlalu lemah.”
Tak ada kata yang bisa kuucapkan. Kenyataan ini terasa menekan. Duniaku benar-benar jungkir balik hanya dalam hitungan jam.
Nandan bangkit, menarik tanganku untuk berdiri, lalu membenamkan kepalaku di dadanya. Dia kembali memelukku. Kali ini aku tak berontak. Bahkan kubalas memeluknya. Seperti ini adalah kesempatan akhir kami untuk melakukannya sebagai dua orang yang pernah saling mencintai. Aku tidak tahu kenapa anggapan itu tergaris di pikiran dan hatiku begitu saja.
“Maafin aku, Mut. Gara-gara aku ayah kamu sampai begini.”
Sampai akhirnya drama kami terganggu oleh suara derap langkah kaki seperti orang berlari dari arah koridor bagian kanan. Membuat pelukanku dan Nandan sontak terlerai karenanya.
Ternyata mereka adalah dokter dan suster yang dari awal menangani Ayah.
“Ada apa dokter?!” tanyaku mencegat, sebelum kedua orang itu masuk ke dalam ruangan.
“Nurse call di ruangan Pak Mukti berbunyi, Nona Mutia. Sepertinya terjadi sesuatu pada ayah Anda.”
Keterangan perawat tersebut membuat tubuhku gemetar tak terkendali. “Ada apa sama ayah saya, Suster?!” tanyaku dengan rasa terkejut bercampur tangisan. Cemas menerjangku tak tahu malu.
__ADS_1
“Karena itu, kami harus cepat masuk untuk memeriksa.”
Sialnya, perawat itu menahanku saat aku ingin ikut masuk bersama mereka. Bahkan Om Krisna juga terusir dari dalamnya sesaat kemudian..
“Ada apa sama Ayah, Om?!” tanya panikku pada pria itu.
“Tadi ayahmu kejang.”
Jawaban singkat Om Krisna justru membuatku semakin kacau. Aku meraung jatuh dan terduduk lemas di atas lantai. Menangis keras seolah waktu mencecarku dengan jutaan hukuman.
Apa salahku, Tuhan?
Gegas Nandan menurunkan tubuh lalu kembali memelukku. “Sabar, Mut. Ayah kamu pasti bakal baik-baik aja.”
“Iya, Muti. Sebaiknya Muti berdo'a, biar Ayah Muti bisa lewatin semua ujian ini.” Om krisna menambahkan.
Aku tak peduli apa pun. Yang kurasa hanya kekacauan yang seolah tak ada ujung.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, dokter keluar dari ruangan.
“Bagaimana, Dokter?!” Om Krisna bertanya cepat, mendahuluiku.
Aku yang masih merasa tubuhku lemas, bangkit dari dudukku dipapah oleh Nandan melalu rangkulan di pundak.
Dokter itu membuka kacamata yang kemudian digenggamnya benda itu di dalam apitan jari-jarinya. Sepasang matanya menjurus pada Om Krisna lalu kuat menatapku. “Maafkan kami, Nona Mutiara. Kami sudah berusaha. Pak Mukti tidak bisa diselamatkan.”
Gelegar petir menghantam hatiku. Untuk sesaat aku terjebak dalam kebisuan. Sementara sepasang mataku membola. Kalimat itu terasa familiar di telingaku. Sering kudengar di banyak film yang kutonton.
__ADS_1
“Maksud Anda, Dokter? Bisa katakan lebih jelas?” Nandan mengambil tanya. Sementara Om Krisna sudah berlari masuk ke dalam ruangan beberapa saat lalu.
Terlihat dokter itu menghela napas panjang. Menggunakan kacamata kembali, lalu menandaskan informasinya, “Maafkan kami, Pak Mukti sudah meninggal dunia.”