
Dipatahkan kehadiran, niatku yang awalnya tak ingin berkomunikasi apalagi bertemu, gagal sudah. Wajah yang sangat ingin aku hindari itu, saat ini malah berada di sampingku. Dalam posisi duduk bersisian mengisi tepian kasur di dalam kamarku, aku dan Zhio masih saling diam setelah hampir satu menit berlalu dari saat Tante Maria meninggalkan kami berdua.
Sekilas pandang saja, aku tahu, Zhio tak sedang baik-baik saja. Di balik kacamata bulat bening yang ia kenakan, mata merah dengan lingkaran hitam di bawah kelopak, tersirat perasaan abu-abu yang aku pun belum bisa menyimpulkan makna di baliknya.
“Kamu masih marah sama aku?” Zhio kemudian buka suara.
Aku menolehnya yang saat ini menatapku menyamping. Sementara kedua tangannya diam menggenggam ponsel padam di atas kedua paha.
Kuraup udara tipis saja, lalu dengan kasar mengembuskannya. Aku bergerak merubah posisi. Berganti duduk menghadapnya dengan punggung tersandar kepala ranjang, sedang kaki kunaikan seluruhnya ke atas kasur untuk berselonjor.
“Apa aku punya alasan buat marah sama kamu?”
Zhio mengernyit kening. “Maksud kamu? .... Kamu kayak gini sampe gak masuk kuliah, gara-gara kelakuan kelewat batas aku kemarin, 'kan?”
Kupalingkan wajah ke sisi lain sekedar mengalihkan perasaan. Bayangan kejadian kemarin kembali terproyeksi di pikiranku.
Setelah cukup mengembara bayang, kepala kutuntun untuk menunduk. Mengumpulkan kekuatan hati, lalu mulai menyusun kata demi kata yang sama sekali tak kupersiapkan. Hanya mengikuti apa kata hati.
Kutatap Zhio yang dengan wajah menunggunya, tak lepas menarget sepasang mataku dengan dua matanya.
“Kemarin itu ... jujur aja aku emang marah sama kamu. Kamu yang hampir mengacau apa yang selama ini aku jaga. Kujaga mati-matian dari tiga tahun bersama Nandan, juga dari kamu yang ... anggap aja baru kita mulai.“ Kupalingkan wajah ke arah jendela di kiri tempat tidurku. “Maaf aku jadi bahas Nandan.”
Zhio membalas pasrah. “Gak apa. Aku ngerti. Kamu boleh lanjutin.”
Aku merundukkan wajah, perasaan resah di relung sana sudah mulai mengacau. Beberapa saat aku diam. Mengambil napas, lalu kembali melanjutkan, “Tapi aku juga sama tololnya.” Air mataku mulai menitik. “Aku ikut terbawa dengan apa yang kamu mulai. Dan aku malah terbuai dengan itu.” Nadaku meresah penuh rasa bersalah, namun tak kusuarakan terlalu keras. “Aku gak bisa nahan diri. Mulut dan tubuh aku rasanya sulit buat seenggaknya bilang ‘hentikan’, seperti yang hati aku serukan terus menerus.” Lalu mengangkat wajahku melihat Zhio kembali. “Jadi apa bedanya aku sama kamu sekarang?! Apa alasan aku buat marah sama kamu?! Aku mengabaikan telpon juga puluhan chat kamu, cuma karena aku malu! Malu sama kelakuan aku sendiri yang murahan!”
__ADS_1
Kalimatku mendorong Zhio dengan cepat menerjang lalu memelukku. “Apa yang kamu bilang? Kamu sama sekali gak murahan! Kamu cewek terbaik yang pernah aku kenal.” Kepalaku didekap seraya dikecupinya berulang kali. “Aku gak suka sama kata-kata itu!”
Detik berikutnya, sepasang tangannya menangkup kedua pipiku. Menatapku dengan manik mata bergilir kiri dan kanan. “Aku minta maaf! Aku yang bodoh dan gak bisa mengendalikan diri,” sesalnya. “Tiara, ke depannya aku janji, aku gak akan buat kayak gitu lagi. Aku bakal jaga kamu dari apa pun, termasuk dari diri aku sendiri.” Linangan air mataku dihapusnya lembut. “Aku mohon, kasih aku kepercayaan satu kali lagi aja. Dan sekali lagi juga, aku minta maaf buat yang kemarin.”
Siapa yang tak akan luluh dengan dera pandangnya yang begitu menekan. Aku tidak bisa untuk 'tak mengiyakan. Kepalaku mengangguk cepat memberikan apa yang dia minta ... sebuah kepercayaan.
Kami saling berpeluk pada akhirnya.
Ternyata aku salah, menghindar bukanlah jalan keluar meluruskan perasaan, walau dengan waktu yang tak terhitung banyaknya. Justru pertemuan seperti ini, dengan ucapan tak saling menyalahkan, kepala dingin, juga saling sadar kesalahan masing-masing, maka semua akan baik-baik saja.
“Jangan sedih lagi, ya.”
Aku mengangguk. Dalam beberapa waktu, terbenam di pelukannya yang selalu terasa hangat. Hingga terlerai dan sama-sama terperanjat saling melepas diri, karena suara ketukan pintu.
Suara Mbok Misni terdengar, “Non Tiara. Mbok bawain minum buat Den Zhio nih.”
Tersembullah sosok hangat itu dari balik pintu dengan nampan di tangannya. Mbok Misni tersenyum seraya mendekat lalu meletakan suguhannya yang berupa satu toples kaca berisi makanan ringan, di atas meja belajar tepat di depan Zhio. “Den Zhio pasti kehausan, ya?” tanyanya sedikit sesal. “Maaf, Den. Tadi Mbok sibuk siapin yang lain dulu. Jadi lambat deh.”
Zhio menyambut dengan senyuman. “Gak apa-apa, Mbok. Aku jadi gak enak udah repotin Mbok. Makasih ya.”
“Iya, sama-sama, Den. Mbok gak repot kok!” Seperti biasa dengan logat medoknya. “Kalo gitu Mbok permisi ya, Den, Non Tiara.”
Aku dan Zhio membalas dengan anggukan dibarengi kata, “Silakan, Mbok. Makasih.”
Selepas Mbok Misni berlalu dan pintu kembali tertutup, aku mempersilakan Zhio untuk meminum juga mencoba suguhan kecil Mbok Misni. Cowok itu menyambutnya dengan kata, “Iya.”
__ADS_1
Satu tegukan jus berperisa sirsak di gelasnya hanya bersisa setengah saja. Usai itu, sepulas senyuman aneh ia lemparkan kepadaku. “Jadi, pelukan tadi mau kita lanjutin nggak?”
Godaan itu sontak melengakanku. Satu bantal yang sesaat lalu kudekap, kulemparkan kasar ke arahnya. “Dasar mesum!”
Zhio tergelak. “Bukannya tadi kamu bilang kita sama-sama.”
“Sama-sama apa?!” tanyaku merongos.
“Sama-sama setan mesum! Hahaha!”
“Ihhh!” Semua bantal kulemparkan ke arahnya hingga tak bersisa. “Kamu kok jadi nyebelin gitu, sih?!”
“Tapi kamu suka, 'kan ...?” Sisa tawa Zhio masih terdengar.
Dan aku dengan dengusan menyikapinya, “Bodo ahh!”
“Idih! Ka--
Ucap balasan Zhio terpotong sontak, saat pintu tiba-tiba terbuka dengan cara kasar tanpa ketukan.
Satu detik kemudian, Chelsea muncul dari baliknya. “Oh, jadi si kodok tompel ini yang berisik, sampe bikin kuping gue pengeng!” Dengan tangan bersedekap dan wajah angkuh seperti biasa, cewek itu menatap jijik kami berdua.
Aku malas menghiraukan, tapi pasti tak akan tenang karena dia kini di dalam kamarku. “Maaf, Chels kalau kita gangguin kamu.”
Chelsea membuang wajah jengah, “Emang lo ganggu terus,” cebiknya.
__ADS_1
Zhio mengangkat kakinya bersilang, lalu menambahkan dengan santainya, “Bagus lu dateng, Chels. Kita maen rumah-rumahan yuk.” Seraya melempar satu butir camilan di dalam toples ke dalam mulutnya. Seulas seringai olokan ditunjukannya pada Chelsea.
Belalak lebar mata Chelsea terlempar pada Zhio. Dengan silang tangan di depan dada, dia membalas, “Maen aja sama ayang lo yang sok lebay itu." Menunjuk sekilas aku dengan dagunya. “Kan jadi makin cocok. Sama-sama menjijikan!”