
Tungkai kacamata kuluruskan sekilas. “Tuan Muda Jancent? Bos kamu?” Aku bertanya ingin tahu pada Sagara, selepas cowok itu mengangkat teleponnya dengan nada uring-uringan.
Dia sudah kembali duduk di sampingku, usai menepi sekejap demi menghindari sedikit kebisingan dari orang-orang sekitar juga jalanan.
“Bukan! Dia sepupuku! Resenya amit-amit deh!” Sagar lanjut mengeluh, “Masa dia nyuruh aku sampe dalam lima menit! Udah tahu mobilku mogok!”
Wajah manis melayunya melukiskan kekesalan. Tapi yang kudapat dia malah terlihat lucu.
Senyum kukulum menanggapi, menahan agar tak meledak. Cemas dia akan tersinggung. Sampai ingatan sebuah pertanyaan kemudian menyelinap ke balik pikir. Aku menyentak wajah kembali memasang raut serius. “Aku denger nama Jancent kok kayak nggak asing,” ujarku. “Apa nama lengkapnya ... Jancent Lee?”
Sagara melengak spontan melempar tatapannya padaku. “Kok kamu tahu?” Keningnya mengernyit. Dia lalu meng-unlock layar ponselnya, menari jari seperti mencari sesuatu di sana. “Ini nih, fotonya!” Kemudian menyodorkan benda pipih itu ke arahku.
Dalam senyuman kuselipkan rasa kesal tipis-tipis. Pandanganku melongok pada layar ponsel Sagara yang menyala, di mana foto Jancent tengah bergaya sok-sokan model superior kelas dunia. “Iya dia! Cowok gila yang tempo lalu resein aku!”
Sagara terkejut. Melebarkan bola mata seolah bisa menyihir apa saja menjadi robot. “Serius kamu?!” Aku mengangguk sedikit jengah. Foto itu mengajak pikirku pada bayangan Jancent yang ekstra menyebalkan saat itu.
“Wah! Ada yang aku lewatin nih dari si tengil itu!” seloroh Sagara. “Btw, kamu kenal dia di mana?”
Aku menggedik bahu malas. “Aku juga gak paham. Dia dua kali muncul tiba-tiba. Dan anehnya, selalu tepat di saat aku lagi dalam situasi kurang baek.”
Sagara memicingkan mata menatapku. Satu jarinya mengetuk-ngetuk dagu persis seorang pengamat. Seulas senyuman tengil tertarik di bibirnya yang kecil. “Hmm ... jangan-jangan dia suka kamu?”
“Ishh, apaan sih? Kelakuan rese kayak gitu mana ada suka?!” Aku menghardik tak setuju. “Udah ahh, aku pulang. Bus aku udah dateng tuh!” Aku berdiri gegas. “Bye, Sagara!” Melambai tangan sekilas lalu melangkah menyongsong pintu bus yang sudah menganga di depanku. Mengikuti beberapa orang yang juga turut masuk ke dalamnya.
Deret kedua dari belakang, satu jok kududuki tepat berdekatan dengan kaca, kulihat Sagara masih duduk di bangku halte seraya menatapku tak lepas. Aku melambaikan tangan yang lalu dibalasnya dengan senyuman. Apa pun yang dia pikirkan tentang aku dan Jancent, aku tak peduli. Jancent Lee bukan ranahku.
Bus melaju menggilas jalanan. Aku duduk dengan kepala tersandar jok. Menenangkan hati, berusaha mengosongkan pikiran. Apa pun yang terjadi hari ini, aku tak ingin menghirau.
_____
__ADS_1
Malam harinya.
“Aku gak dateng aja deh, Tante. Banyak tugas juga dari kampus,” kelakarku berusaha mencegah.
Tapi Tante Maria kukuh terus mendandani aku. “Kamu harus dateng. Chelsea aja udah cantik tuh di ruang tamu.” Di depan meja rias di dalam kamarnya, rambutku sibuk di sisirnya, entah akan diapakan. Sehelai gaun sudah kupakai. Tidak tertutup tidak juga terbuka. Tante Maria cukup tahu selera dan karakterku tentang busana. Aku menyukai kesederhanaan.
Detik berikutnya aku mendesah. Pesta ulang tahun Rossa malam ini, tak sedikit pun menggugah minatku untuk datang. Aku malas bertemu orang-orang yang sudah pasti tak pernah ada dalam duniaku yang sepi. Aku berbeda dengan mereka yang bahagia dengan kemeriahan. Aku suka hening dan sendiri. Kecuali ada Zhio di sampingku.
Cowok itu ... kata sibuk yang dia ucapkan cukup membuatku paham, bahwa aku tak boleh mengganggunya. Jadilah acara pesta ini aku tak mengatakan apa pun, apalagi sampai mengajaknya. Aku takut dia akan memaksakan diri seperti biasa.
Tidak apa-apa, aku terus menguatkan diri. Sebentar di sana, memberikan kado, lalu pulang secepatnya memakai taksi. Karena Chelsea jelas akan berbetah diri di acara semacam itu. Aku tak pantas memaksanya mengikuti apa yang aku mau.
“Tinggal pakai sepatu, cantik deh!" Tante Maria tersenyum puas dengan hasil mahakaryanya.
Sesaat kupandang bayangan dalam cermin di hadapanku. Aku merasa ... aku memang berbeda malam ini. Mataku bahkan terasa lebih melebar indah dengan hiasan yang aku pun tak paham apa yang menempel di sana. Yang jelas, Tante Maria memang terbaik untuk urusan penampilan juga riasan.
“Lama banget sih?!” kesalnya sembari cepat mengangkat tubuhnya untuk berdiri.
Aku sempat terkesima. Chelsea begitu cantik malam ini. Siapa pun tak akan bisa menemukan kekurangan dalam dirinya.
“Kalo aja mobil gue gak lagi diservis, mana sudi gue jalan bareng satu mobil sama cewek katro kayak lo!”
Aku akan diam tak menanggapi seperti biasa. Pun dengan Tante Maria yang pasti sudah cukup malas menghardik kelakuan anak semata wayangnya itu. Aku mengangguk menyikapi usapan lembut wanita itu di punggungku, meraih tangannya untuk kucium, lalu keluar menyusul Chelsea yang sudah menghentakkan lebih dulu kaki jenjangnya ke depan halaman.
Sepanjang perjalanan menuju hotel di mana pesta Rossa dilangsungkan, selain deru suara mesin, tak ada percakapan sama sekali antara aku dan juga Chelsea. Pak Supir di depan sesekali mengintip kami dari kaca spion di atas kepalanya. Entah apa yang dia pikirkan.
Tenggelam dalam sunyi, tetap tak ada kata.
Tak lama, mobil berbelok ke parkiran luas hotel. Kami sudah sampai.
__ADS_1
Chelsea turun lebih dulu. Sikap tergesanya menonjolkan bahwa dia tak ingin berbarengan langkah denganku.
Sebelum masuk menapak langkah mengikuti kemana Chelsea mengarah, aku merendahkan tubuh, berterima kasih pada Pak Bowo, supir pribadi Om Krisna yang mengantar kami ke tempat ini.
Menapaki altar merah yang membentang panjang hingga ke dalam. Di depan sana penjaga meminta undangan sebagai bukti. Kuberikan benda tipis itu dengan senyuman lalu masuk dengan langkah tak begitu bersemangat. Suasana di tempat inti terdengar ricuh, bahkan sebelum memasukinya.
Setelah di dalam, aku celingukan mencari sang putri acara--Rossa Andita. Tapi akan sangat sulit mencarinya dalam keramaian berdesakan seperti ini.
Pada akhirnya sebuah kursi kosong di tepian kududuki ragu-ragu. Nyaris semua datang bersama partner mereka, saling berkicau di setiap sudut dengan senyum merekah bahagia. Sedangkan aku?
Hhh!
Meresapinya saja aku sudah bosan.
Di mana Rossa Andita itu?
“Tiara!”
Suara itu menyentakku untuk menoleh. “Algi," ucapku sedikit tak percaya. “Kamu di sini?”
Dia mengangguk senang. “Iya. Rossa itu kakak kelasku waktu SMP," ungkapnya. “Aku boleh duduk di sini?" Ditunjuknya kursi kosong di sampingku menggunakan telapaknya yang melebar.
Kepalaku miring tunduk mengikuti, lalu mengangguk kemudian. “Silakan.”
“Terima kasih,” ucapnya. “Gak nyangka ya, kita bisa ketemu di sini. Kamu apa kabar, Ra?”
“Aku baik," balas singkatku.
Untuk beberapa waktu kami tenggelam dalam obrolan seputar masa lalu, termasuk pembahasan kata maafnya atas sikap kasar yang ia lakukan dulu padaku dan juga Zhio. Aku tersenyum menyikapi, karena sedikit pun aku tak pernah menganggap itu serius apalagi sampai menjadi benci yang mengakar.
__ADS_1