
Hari ini aku pulang dari kampus lebih awal.
Zhio menghubungiku setengah jam lalu, mengabarkan kalau dia tak bisa menjemputku lagi seperti kemarin, terhubung jadwal kuliahnya yang padat. Padahal aku tak pernah meminta, hanya inisiatif darinya sebagai pacar. Aku cukup bangga dengan hal itu.
Mengesampingkan soal Zhio, paving block persegi panjang halaman luas kampus menuju gerbang kuinjaki langkah demi langkah. Tas gendongku cukup ringan terayun di balik punggung.
Di jarak beberapa langkah lagi menuju gerbang, semilir suara di kejauhan terdengar samar memanggil namaku. Aku menoleh ke belakang seraya mengedar pandang.
Semua yang tertangkap, nampak cuek. Aku menggedikan bahu tak peduli, berpikir mungkin saja aku salah dengar.
Tapi ternyata tidak.
Derap suara langkah kaki berdebuk mendekat dari arah belakang, membuarku refleks menyingkir takut tertubruk badan.
“Tiara!” Dengan napas terengah, cowok itu berhenti tepat di depanku. “Kamu mau kemana?” tanyanya setelah bisa menstabilkan diri.
“Aku mau pulang,” jawabku apa adanya. Keningku masih mengerut heran. “Kakak ada apa? Kok kejar aku?”
Cowok itu adalah sosok yang bertabrakan denganku di koridor kantin beberapa hari lalu. Aku belum tahu namanya. Tapi aku tahu, dia ini pacar salah satu teman dekatnya Chelsea.
Tali tas yang melingkari satu bilah pundaknya ia genggam dengan lagak santai. Diiringi seulas senyum, dia lalu menjawab, “Nggak, aku cuma mau tanya, nanti malam kamu dateng 'kan, ke pesta ultahnya Rossa?”
Mataku menyipit menanggapi pertanyaannya. “Ultah Rossa?” tanyaku mengulang.
“Iya, Rossa. Rossa Andita anaknya Pak Rektor.”
Jawaban itu seketika membuatku melengak. Mulutku menganga lebar. “Oh, ya Tuhan. Iya ya, sekarang 'kan malem minggu. Aku lupa sama undangan itu sumpah!” tanggapku kelabakan.
Cowok itu terkekeh. “Kalo gitu pergi sama aku yuk.”
Ajakannya spontan membuatku terpekur. Menatapnya, lalu memalingkan wajah sebagai penghindaran. “Maaf, Kak. Aku udah ada partner,” jawabku mengingat Zhio. “Lagian 'kan, bukannya Kakak itu pacarnya Samantha? Kok malah ajak aku?” Balik tanyaku tak mengerti.
Dia malah terkekeh. “Kamu tahu aku pacaran sama Samantha?”
Aku mengangguk. “Sedikit aja, sih. Cuma 'kan namanya kabar, pasti gampang nyebar.”
Tangan cowok itu terkibas sekali di depan wajah, seolah kabar itu hanya bualan. “Aku udah putus sama dia,” akunya tanpa beban. “Makanya aku ajak kamu. Tapi kamu bilang udah ada partner.” Ujungnya dia menyayangkan.
__ADS_1
Sedikit saja kutanggapi itu dengan senyuman samar. “Maaf, Kak.”
Tersenyum lagi. “Gak apa-apa. Aku paham, kok. Cewek secantik dan semenarik kamu, pasti udah ada yang punya,” ujarnya menerima. Aku hanya tersenyum masam menanggapi.
“Oiya. Jangan panggil aku kakak dong!” Keningnya mengerut gemas berisi sebersit keberatan.
“Trus?” tanyaku.
“Panggil nama aja.”
“Tapi aku 'kan gak tahu nama Kakak," balas jujurku.
Dia terperanjat, lalu tertawa kemudian. “Emang iya? Jadi kamu belum tahu namaku dari saat kita ketemu pertama?”
Aku menggeleng.
Dia tergelak lagi. “Oh, My ... pantesan aja.” Sejenak dia terdiam meluruskan ekspresinya, lalu kembali melihatku. “Aku Pramuda. Panggil aja, Pram," ungkapnya seraya mengulurkan tangannya ke arahku.
Dengan sedikit rasa kaku, aku menerima uluran itu. “Aku gak perlu sebut namaku lagi, 'kan?”
Perkataanku memancing kekehan Pram lagi. “Iya, iya. Aku udah tahu. Kamu Tiara. Mutiara Andina cantik dan sederhana!”
“Kok as--”
“Jadi cewek benalu ini alesan kamu mutusin aku?!”
Kalimat interupsi itu menyentakku dan juga Pram secara bersamaan.
Seorang cewek dengan rambut sebahu ikal dicat merah, berdiri tepat di belakang Pramuda dengan tatapan mengerikan.
“Samantha.” Pram menyebut dengan nada sedikit kaget nama cewek itu. Hadapnya ia pindahkan ke arahnya. Sementara aku masih membeku di tempatku. Tak tahu harus apa.
Aku tahu ... sikap tinggi dan angkuh cewek itu, tak jauh berbeda dengan Chelsea, dilihat dari segala sisi.
“Iya, ini aku! Kenapa?! Kamu kaget?!” cecar kasar Samantha. Tatapan bengisnya kini mengarah ke wajahku. “Lu jadi cewek kegatelan banget, sih!” semburnya padaku.
“Aku?” Menunjuk wajahku sendiri. “Aku gak ada apa-apa sama dia, Kak. Kami gak sengaja ketemu di sini.”
__ADS_1
Sayangnya jawabanku tak diterima baik Samantha. “Jangan muna lo, Cewek Miskin!” hardik kerasnya. “Lo nyelipin diri ke keluarga Chelsea demi harta, 'kan? .... Sekarang lo deketin Pramuda juga buat hal yang sama. Karena dia kaya! Lo ngaku! Lo udah ancurin hubungan gue sama dia!”
“Cukup, Samantha!” Pramuda menyela bertenaga. “Aku yang deketin dia duluan!” akunya. “Kamu camkan omongan aku! .... Tiara gak ada hubungannya sama sekali sama putusnya hubungan kita. Aku udah gak nyaman sama kamu!”
Meskipun aku cukup terluka dengan rentetan kalimat hinaan Samantha, aku tak ingin membalas. Dengan cepat kubalikan tubuh--pergi meninggalkan mereka tanpa kata. Aku tak ingin terlibat lebih jauh lagi. Apalagi kalau sampai Chelsea datang, jelas akan memperkeruh suasana dan otomatis aku akan habis dicibir semua orang. Aku terlalu malas.
Teriak panggilan Pramuda tak kupedulikan. Menjauh darinya adalah pilihan yang paling tepat.
Sedikit menjauh dari gerbang kampus, aku menunggu bus satu arah menuju pulang di sebuah halte pinggiran jalan. Kuseka tetesan yang jatuh menggelinding melewati pipi. Ucapan Samantha masih terngiang sakit di telinga.
Mengedar pandang ke kiri dan kanan. Cukup banyak orang beristirahat di sekitaran.
Keramaian tak menepis betapa resah perasaanku. Aku jadi termenung dengan tatapan mengarah lurus pada jalanan yang terlindas bermacam roda kendaraan.
Sampai ....
“Mutiara! Kamu Mutiara, 'kan?!”
Suara itu otomatis mengejutkanku. Aku mendongak ke samping kiri, di mana seseorang berdiri sedikit membungkuk mengamati aku. “Kamu ... siapa?” tanyaku.
“Aku Sagara!” akunya dengan senyum semangat, lalu duduk di sampingku.
Keningku mengernyit tebal. “Sagara?” Mencoba mengingat nama itu. Tapi ... tak juga menemukannya.
“Ya, ampun! Masih muda udah lupaan!” cibir cowok itu. “Kita 'kan ketemu di rumah kamu, pas acara pesta sambutan kepulangan Chelsea. Kamu yang lari-lari ke arah tangga sambil nangis waktu itu.”
Sejenak kutelisik raut wajahnya dengan kepala miring. Pikiranku jauh mengingat, sampai .... “Oh, kamu yang waktu itu. Iya! Aku inget!”
“Nah!” Sagar tersenyum lebar seraya mengacungkan telunjuknya ke depan wajah. “Kamu ngapain di sini? Kok kayak sedih gitu?” Ia bertanya itu kemudian.
Aku membuang wajah ke depan, mengalihkan tatapan. “Aku gak papa, kok. Cuma sedikit gak enak badan aja. Sekarang aku lagi nunggu bus, mau pulang,” jelasku seingatnya, dan Sagara menanggapi dengan kata, “Oh”, saja. “Kamu sendiri ngapain di sini?” tanyaku berbalik.
Sagara tersenyum tipis. “Aku lagi mau jalan ke suatu tempat!Tapi mobilku tiba-tiba mogok tuh.” Wajahnya menunjuk ke suatu arah di mana sebuah mobil merah, terparkir diam di pinggir jalan. “Aku lagi nunggu montir ini.”
Aku manggut saja.
Pandanganku melongok jauh ke arah jalanan. Mengembus napas kasar, karena bus yang kutunggu belum juga muncul.
__ADS_1
Sampai kudengar suara dering ponsel milik Sagara yang sedari tadi ia genggam, berbunyi keras. Cowok itu melirik layarnya, lalu mendengus, “Tuan Muda Jancent sialan! Rese banget setan satu ini!”