Mutiara Retak

Mutiara Retak
Kita Menikah Saja


__ADS_3

Jancent bersikukuh untuk memenjarakan Algi. Tapi aku mencegahnya. Berkata bahwa aku sudah memaafkan kelakuan kotor cowok itu. Toh aku tidak apa-apa. Algi hanya membawaku ke dalam kamar hotel tanpa sempat melakukan apa pun bahkan setidaknya menyibak busanaku.


Pada awalnya Jancent tak terima, tapi pada akhirnya dia menyerah dengan keinginanku.


Keputusan jalan damai diterima senang oleh keluarga Algi. Berulang mereka mengucapkan terima kasih padaku dan juga Jancent diselipi air mata haru. Alna bahkan memelukku begitu erat di akhir perpisahan kami siang ini. Mereka pulang setelah semua masalah terselesaikan.


Bu Saida mengungkapkan keprihatinannya padaku di akhir, setelah semua orang berlalu. Memelukku erat dengan tangis sesal karena ketidaktahuannya atas semua yang menimpaku di Jakarta sana. Kuusap punggungnya untuk menenangkan seraya mengucap kalimat, bahwa aku baik-baik saja. Terlebih sekarang ada Jancent di sisiku. Wanita itu berlalu kemudian, setelah sebelum keluar mengatakan jika butuh apa-apa, panggil saja dia. Aku mengangguki tanpa ragu.


Sekarang tersisalah aku dan Jancent.


Di ruang tamu yang tak begitu luas ini, di keheningan sisa semua huru-hara berlalu, pada akhirnya aku tak bisa menahan diri lagi. Aku menangis meluapkan semuanya. Entah perasaan lega, atau meratapi betapa hidupku tersusun di atara duri dan ranjau-ranjau yang melintang.


“Stop! Jangan menangis lagi. Kamu punya aku.” Lembut Jancent mengusap kepala dan punggungku yang tenggelam dalam peluknya. “Aku gak akan biarin apa pun yang buruk terjadi lagi sama kamu. Aku minta maaf karena peristiwa di hotel itu.”


Kalimat akhir Jancent menarik wajahku untuk mendongak lalu melepaskan diri dari dekapnya. Sekilas kuseka sisa basahan di pipi agar tak terlihat naas.


“Kenapa?” tanyanya terheran menatapku.


Dalam beberapa jenak, aku memandangi wajah tampan Jancent begitu intens. Sesuatu ingin kuketahui dari dirinya.


“Sayang, ada apa?" Dia memegang cemas kedua bahuku. “Kamu laper?”


Aku menggeleng. “Nggak.”


“Terus?” Dia menuntut dengan kening berkerut.


Aku menurunkan pandangan darinya. Lidahku sedikit kelu untuk bertanya, tapi juga merasa harus menanyakannya.


Dia masih menatapku dalam saat aku kembali mendongak menemui wajahnya yang penasaran itu.


“Jancent ... apa kamu ... bener-bener gak nyentuh aku di hotel itu?”

__ADS_1


Pertanyaanku sontak membuatnya melengak. Dalam beberapa jenak menikmati keterkejutannya. Tapi di sepersekian detik kemudian, ekspresinya tiba-tiba berubah aneh. Mula dari mengusap wajah, hingga garuk-garuk kepala.


“Jancent.” Aku mendesak dengan tatapan.


Dia spontan mengangkat wajah. Dua detik kemudian, seulas cengiran ia tunjukkan.


Aku tentu terkejut dengan tampilan wajah itu. “Jancent kamu ...?”


Dan akhirnya bicara juga, “Aku ....” Ada keraguan konyol dalam rautnya. “Aku cuma ....”


“Cuma apa?!” desakku penasaran.


“Cuma raba-raba doang, kok. 'Kan sayang kalo dilewatin gitu aja.”


“Jancent!" Aku memukulnya dengan telapak, dia menghindar dengan meringsut ke ujung sofa.


“Ampun! Kan bukan salah aku juga! Kamu sendiri yang godain aku! Lagian gak ampe keterlanjuran juga, 'kan?”


“Gak banyak kok, Sayang. Cuma yang kenyal-kenyal aja.”


“Ihh! Kamu!” Aku memukulinya terus saja.


“Ampun, Sayang!”


“Kamu!”


Bar-barku terhenti tiba-tiba saat Jancent menahan pergelangan tanganku yang hendak kembali memukulnya. “Tiara!”


Aku terpaku dalam tatapannya. Membeku diri hanya karena sentakan kecilnya tadi.


“Kita menikah saja!”

__ADS_1


...****...



Bukan sulap bukan sihir, dua bulan berlalu. Hari pernikahan itu pun benar-benar tiba.


Jancent sungguh menangguhkan apa yang ia niatkan dalam sebentuk kenyataan. Persaksian di hadapan Tuhan menurutnya akan semakin mendatangkan kebaikan ke depannya--baik itu untukku, mau pun bagi dirinya sendiri. Usia muda kami tak dijadikannya hambatan sama sekali. Asalkan kami sama-sama siap, maka semua akan baik-baik saja, termasuk restu orang tua yang dengan mudah kami dapatkan.


Aku tak bisa berkata apa pun, selain kesyukuran tiada henti kupanjatkan dalam setiap tarikan napas.


Setelah banyak kesakitan merundungku, sakit karena kehilangan dan juga perpisahan, hingga yang lainnya, semua tergantikan sudah. Tuhan menghadiahkan seseorang yang terdapat dalam dirinya begitu banyak kelebihan yang bahkan melampaui apa pun yang aku butuhkan.


Jancent Lee!


Dua jam yang lalu, di hadapan Tuhan, alam, dan para saksi, aku dan lelaki itu telah mengucapkan ikrar suci pernikahan. Sebuah moment yang melahirkan haru biru di setiap wajah. Kecuali beberapa yang memang tak menghendaki karena hantaman perasaan cemburu, sebut saja dia Chelsea dan beberapa gadis lain yang memang menaruh hati pada Jancent.


Resepsi tengah berlangsung. Pantai Ancol, dipilih keluarga Jancent untuk acara itu. Debur ombak mengiringi ramai tamu yang datang silih berganti.


Semua tamu yang hadir nyaris sepenuhnya dari pihak Jancent dan keluarganya. Sedangkan dari pihakku, hanya melibatkan Bu Saida dan Pak Nandar, juga Om Krisna dan beberapa kolega pentingnya. Semua berita miring yang menyebar karena kejadin tak senonoh di hotel itu sebelumnya, telah tercover dengan pengakuan Algi atas desakan Jancent dan Om Krisna di hadapan media. Permintaan maaf yang cukup menyulut emosi netizen. Sekarang Algi dikirim keluarganya ke Malaysia untuk melanjutkan pendidikan di sana.


Nandan hadir ditemani tunangannya. Aku masih bisa melihat ke dalam mata cowok itu saat kami bersalaman di singgasanaku dan juga Jancent, ada kilatan rasa sesal yang sepertinya begitu sulit dihapusnya. Tapi dia berhasil membungkusnya dengan senyuman. Jabat tangan antara dia dan Jancent berlangsung kelam. Terlihat Jancent begitu tak suka dengan kehadirannya. Dia juga bisa merasakan betapa masih ada cinta dalam diri Nandan untukku. Jancent cemburu.


“Tiara!” Karin dan Alna berteriak memanggilku dengan wajah girang mereka. Baru sekarang aku rasakan, betapa mereka tulus menyayangiku. Gibran terlihat menggandeng seorang gadis berhijab di sampingnya. Aku tersenyum menatap teman-temanku itu.


“Lo cantik banget!” puji girang mereka.


“Makasih,” ucapku menyambut malu.


Setelah sibuk bersalaman dan saling berpeluk, berlanjut acara foto ria melalui ponsel mereka.


Tak satu pun teman sekolahku di Bandung kuundang. Karena dengan begitu, tak akan ada sesal karena yang bersanding denganku bukanlah Nandan seperti yang mereka tahu.

__ADS_1


Aku tak mau menjadi retak hanya karena ucapan mereka yang nantinya mungkin akan bisa menimbulkan amarah pada diri Jancent.


__ADS_2